Showing posts with label Tumbuh Kembang. Show all posts
Showing posts with label Tumbuh Kembang. Show all posts

Friday, July 3, 2009

Latihan Ke Toilet

Anak-anak dilatih ke toilet hanya ketika mereka sudah siap. Tidak ada anak yang bisa dilatih sampai saraf yang tepat cukup dewasa, suatu proses yang berada di luar pengaruh orangtua atau dokter yang paling pintar.

Setelah cukup dewasa, prosesnya dikendalikan oleh keinginan anak untuk menurut atau melawan. Selanjutnya ini bergantung pada watak anak, dan keterampilan serta kepintaran si pelatih.

Kebanyakan kesulitan latihan ke kamar mandi sebenarnya bukan suatu masalah, yang disebabkan ekspektasi yang tidak realistis da masihat yang sesat. Tidak mendengarkan yang bermaksud baik tetapi terganggu dengan teman dan keluarga. Jangan mulai terlalu dini, ini akan menimbulkan masalah yang tidak perlu. Ingat, anak itu sendiri memiliki kekuatan untuk pergi ke mana dan kapan menurut keinginannya. Jangan tergesa-gesa, jangan bertengkar, santai saja.

Ke toilet: perkembangan normal
Selama satu setengah tahun pertama kehidupan, tidak ada pengendalian usus besar atau kandung kemih yang baik, hanya refleks waktu ke toilet. Ketika si anak mendekati 18 bulan, refleks ini melemah dan pengendalian saraf sadar mulai mengambil alih.

Tidak ada gunanya melatih ke toilet sampai si anak setidaknya tahu kapan dia basah atau kotor. Dalam bulan-bulan setelah penemuan ini, si anak menyadari kebutuhan ke toilet sebelum air kemih keluar daripada sesudahnya. Terobosan besar ini terjadi antara usia 18 bulan dan 2 tahun, tetapi dengan latihan urin, ada satu kekurangan. Meskipun peringatan diberikan, sistem alarm anak hanya bisa memberitahu lima detik sebelum keluar.

Pada usia 2 tahun, peringatan meningkat dan anda bisa mulai mencatat beberapa keberhasilan. Pada saat ini, pengendalian usus juga akan terbentuk, pada beberapa anak terjadi sebelum pengendalian urin dan yang lainnya setelah itu.

Pada usia 2 ½ tahun, lebih dari 2/3 anak akan sering kencing, mayoritas anak bisa ke toilet sendiri dan memakan celana tanpa banyak kesalahan. Pada usia ini, mengompol di malam hari juga mulai terkendali, pertama si anak perlu dibawa ke toilet pada tengah malam dan kemudian tanpa dibantu. Meskipun kebanyakan anak dilatih buang air kecil dan besar pada usia 2 ½ tahun, keseluruhan prosedur masih dilingkupi dengan rasa keterdesakan yang besar—si anak perlu pergi ‘sekarang’ daripada menyesuaikan dengan orangtua.

Latihan dini ke toilet bukan merupakan tanda intelegensi, sama seperti pertumbuhan gigi awal.

Ajaran kita jelas:
• 18 bulan adalah usia paling awal untu diberikan latihan ke toilet.
• Dua tahun mungkin waktu yang lebih realistis dan jika anda menunda sampai 2 ½ tahun, tidak apa-apa.
• Memaksa anak kecil menyebabkan ketegangan dan ketegangan menyebabkan si kecil menutup semua pembukaan tubuh. Jangan memaksa—santai saja. Anak kecil yang tenang paling mudah dilatih ke toilet.

Keputusan yang harus dibuat orangtua adalah melatih menggunakan toilet atau pispot. Tidak ada jawaban yang benar untuk ini, metode penggunaannya lebih penting daripada benda itu sendiri.

Kebanyakan orangtua mulai dengan mendudukkan anak mereka di pispot, dan kebanyakan kanak-kanak lebih menyukai ini daripada ke toilet. Keuntungan pispot bisa dibawa-bawa, jadi bisa dibawa dari kamar ke kamar. Namun, ada beberapa anak kecil yang mandiri yang ingin menggunakan toilet seperti orang dewasa. Jika kasusnya seperti ini, dudukan toilet anak kecil harus dipasang di samping toilet untuk orang dewasa.

Aturan-aturan mendasar
1. Seorang anak harus belajar duduk di toilet lebih dulu sebelum dia bisa buang air besar di toilet itu.
2. seorang anak harus mengetahui perbedaan antara basah dan kering sebelum dia bisa belajar buang air kecil.
3. seorang anak harus bisa menghasilkan popok kering pada malam hari sebelum anda bisa mengharapkan tempat tidur yang kering.

Rencana Latihan Buang Air Kecil
• Apakah mereka cukup tua untuk mulai belajar?
• Apakah mereka tahu perbedaan basah dan kering?
• Jika karpet anda bisa mengatasinya, gunakan celana?
• Dudukkan anak secara teratur sebelum waktu makan dan ketika anda sendiri pergi ke toilet.
• Jangan memaksa, jangan mengendalikan, berikan dorongan.
• Bila akhirnya terlaksana, perhatikan dan beri pujian.

Anak Laki-laki: mereka sebaiknya duduk atau berdiri?
Beberapa ahli berdebat tentang pro dan kontra apakah anak laki-laki harus belajar buang air kecil berdiri atau duduk. Sejujurnya ini tidak masalah. Jika anda memilih berdiri, latihan buang air kecil sedikit lebih cepat karena dia senang mendengar air gemericik.

Namun, ada beberapa kelemahan. Kanak-kanak pada usia ini cenderung mengalami apa yang saya sebut ‘Sindrom Fireman’—mereka tidak akurat dan menyebarkan air di semua tempat.

Selain itu, beberapa anak menjadi sangat terpesona dengan keterampilan baru ini sehingga hampir tidak mungkin menyuruh mereka duduk. Jadi, anda mendorong latihan buang air kecil tetapi menunda kebiasaan buang air besar. Jika anak anda lebih suka berdiri dan menolak duduk, jangan cemas, ini hanya masalah sementara.

Rencana buang air besar
• Mulai setelah usia 18 bulan ketika orangtua dan anak siap.
• Dudukkan anak tiga kali sehari setelah makan. Buat menjadi menyenangkan. Jangan memaksa. Jangan meributkan pertentangan.
• Setelah anak bisa duduk, beri dorongan emosional yang lembut yang menanam benih keberhasilan dan nantikan dengan sabar.
• Ketika hari besar tiba—beri pujian.

Keterdesakan kanak-kanak
Ketika anda pergi berbelanja dengan seorang kanak-kanak, anda belajar cepat bahwa ketika dia berkata ‘pipis, sekarang,’ berarti sekarang—dan bukan dalam lima menit. Pada usia ini, orangtua dipaksa untuk melupakan kesopanan, membawa si anak ke selokan atau membantunya buang air kecil di dekat kebun bunga. Perjalanan dengan mobil juga sulit, karena sering berhenti. Keterdesakan normal pada kanak-kanak. Sedikit kelembaban dapat terjadi, terutama ketika si anak senang atau asyik bermain. Kecelakaan kecil juga terjadi selama minimal satu tahun.

Mengompol pada kanak-kanak

Rata-rata umur yang tidak mengompol pada malam hari adalah sekitar 33 bulan, tetapi 10% dari anak usia 5 tahun masih mengompol secara teratur. Setelah usia ini, sekitar 15% dari mereka diobati karena kebiasaan ini setelah tahun, sampai menjadi relatif jarang pada remaja. Orangtua dari anak usia 5 tahun yang mengompol harus diyakinkan bahwa, meskipun orangtua lain tidak terbuka menyatakan kenyataan ini, dua anak lain dalam kelas juga menjadi pengompol yang teratur.

Penundaan latihan buang air kecil pada malam hari memiliki hubungan genetic yang kuat. Beberapa studi menunjukkan hapir 70% pengompol memiliki orangta atau saudara dengan masalah yang sama. Pengompol juga umumnya terjadi pada anak laki-laki.

Penanganan untuk anak yang mengompol
- Bila anda mendapati sejumlah popok malam hari yang tetap kering sampai pagi, saatnya untuk melepaskan popok. Pada sebagian besar anak, ini mempercepat latihan.
- Jika pengendalian kandung kemih belum bisa, bawa si anak ke toilet sebelum anda tidur. Ini berhasil bagi beberapa anak dan membantu mereka tetap kering.
- Obat-obatan diketahui membantu beberapa anak tetapi efeknya sementara.
- Bila sudah 6 tahun dan masih mengompol, pasang alarm mengompol. Hasilnya sangat baik.

Sumber: dari sini

TIPS MEMULAI TOILET TRAINING

Melatih si kecil toilet training pada saat yang tepat, memang butuh kesabaran, Berikut ini tips memulai toilet training agar berhasil:

1. Gunakan kursi jamban di lantai

Kursi jamban lebih aman bagi anak-anak, karena kakinya menapak lantai, sehingga orangtua tidak perlu kawatir si kecil terjatuh.

Jika memutuskan meletakkan kursi jamban di atas kloset, gunakan sandaran kaki untuk pijakan si kecil.

2. Anak harus diperbolehkan menggunakan kursi jambannya untuk mainan

Duduk di atasnya dengan pakaian lengkap dan bagian bawah terbuka. Dengan cara itulah dia bisa membiasakan diri menggunakan kursi jambannya.

3. Jangan mengikat si kecil di kursi jamban

4. Awali dengan latihan BAB dulu

Sebab anak-anak lebih bisa belajar pergi ke kursi jamban untuk BAB sebelum BAK.

5. Gunakan kata-kata khusus untuk BAB dan BAK

Misalnya pipis dan eek. Dengan begitu, si kecil akan menghafal dan menggunakannya untuk memberitahu saat ia ingin BAK atau BAB.

6. Hindari menggunakan kata-kata negatif

Seperti kotor, nakal, busuk/pesing untuk istilah yang terkait dengan BAB/BAK. Juga, gunakan nada yang biasa saat bicara tentang BAB/BAK.

7. Tenang saja jika si kecil turun dari kursi jamban sebelum BAB/BAK

Jangan tunjukkan kejengkelan. Coba lagi nanti. Jika berhasil menggunakan kursi jambannya dengan benar, berikan pujian/hadiah dalam bentuk senyuman, pelukan atau tepuk tangan pelan.

8. Anak-anak belajar dari meniru

Akan membantu jika si kecil duduk di kursi jambannya saat Anda menggunakan toilet.

9. Anak-anak sering mengikuti orangtua ke kamar mandi

Ini mungkin tanda bahwa anak sudah mau menggunakan kursi jambannya.

10. Sejak awal, ajari si kecil BAK sambil duduk/jongkok

Sebab, sulit bagi anak untuk mengendalikan otot-otot sistem perkemihan dengan berdiri. Anak lelaki akan berusaha berdiri untuk BAK ketika melihat anak lelaki lain BAK sambil berdiri.

Sumber: Bunda edisi 256

TANDA SIAP TOILET TRAINING

Ketimbang memperhatikan usia, orangtua sebaiknya lebih memperhatikan tanda-tanda kesiapan si kecil dalam menjalani toilet training.

Berikut tanda-tanda tersebut:

  • mampu berjalan sempurna untuk duduk di potty
  • bisa memberitahukan kalau ingin pipis atau BAB
  • mampu mengontrol otot-otot yang digunakan untuk pipis dan BAB
  • menunjukkan ketidaknyamanan ketika celananya basah atau terkena kotoran
  • minta ganti celana ketika ngompol atau pup
  • senang meniru yang dilakukan orangtua atau anak yang lebih besar
  • mengikuti orangtua atau kakak ke kamar mandi dan melihat cara menggunakan toilet
  • ingin melakukan hal-hal untuk menyenangkan orangtua atau memperoleh pujian dan hadiah
  • tidak ngompol saat tidur siang atau malam
  • bisa duduk tenang dan bermain dalam keadaan diam selama 5 menit
  • bisa membantu mengenakan atau melepas pakaian sendiri
  • ingin menaruh mainan dan barang miliknya yang lain ke tempatnya
  • menunjukkan kebanggaan ketika berhasil mencapai suatu prestasi
  • sudah BAB secara teratur pada waktu tertentu setiap hari
  • kotoran yang keluar saat BAB sudah terbentuk sempurna
  • saat BAK, jumlah urin yang keluar cukup banyak
  • tidak sedang mengalami situasi yang membuat stres, seperti penyapihan dan kelahiran adik baru. Tunggu sampai stres berlalu (biasanya 4-6 minggu)

Sumber: Bunda edisi 256

CADEL TIDAK HILANG SENDIRI

Ada beragam variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut “r” jadi “l”, “k” jadi “t”, “k” jadi “d”, atau “s” dengan “t” sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.

Memang, semestinya pada rentang usia prasekolah, anak sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda. Jadi wajar meski usianya sama, tapi masih ada anak yang cadel.

Sayangnya, cukup sulit mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak. Karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata.

Kerusakan pada area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan pada area wernicke disebut sensori aphasia dimana anak dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata orang lain.

Tak hanya itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan pada rentang usia 3-5 tahun, kemampuan anak masih berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. Ia tengah berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbendaharaan kata, meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk juga penguasaan konsonan.

Kendati demikian, orangtua sebaiknya tidak membiarkan kecadelan anaknya, karena semakin lama akan semakin sulit diluruskan, sehingga bisa jadi si anak akan terus berada dalam kecadelannya. Apalagi, cadel tak akan hilang secara otomatis meski kadar keseringannya berkurang. Jadi, berikanlah stimulasi agar cadelnya tak berkelanjutan.

Bila cadel dibiarkan, maka di usia sekolah nanti, dapat menyebabkan anak merasa berbeda dengan teman-temannya. Buntutnya, anak menjadi malu dan merasa asing dari orang lain. Bisa-bisa ia tak mau bila disuruh berbicara di depan kelas karena takut ditertawakan teman-temannya. Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri. Terakhir, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga diri si anak, yang dapat berlanjut ke konsep diri. Bila sampai terjadi seperti itu, tugas orangtualah untuk membangunkan harga diri anak agar ia tak minder. Caranya dengan menonjolkan kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri.

4 PENYEBAB CADEL & CARA MENGATASINYA

1. Kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah

Kemampuan mengucapkan kata-kata, vokal dan konsonan secara sempurna, sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah. Untuk mengucapkan konsonan tertentu, seperti R, diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir.

Cara mengatasi:

Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan ucapan yang benar. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktu kematangannya untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya. Lakukan pula kerjasama dengan guru, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal.

2. Kelainan fisiologis

Cadel yang disebabkan kelainan fisiologis, jumlahnya sangat sedikit. Penyebabnya dibedakan menjadi 3 yakni:
* Gangguan pada bagian pendengaran
Gangguan ini dapat berupa adanya kerusakan atau ketidaksempurnaan pada organ-organ yang terdapat di telinga, sehingga bisa mempengaruhi pendengaran. Akibatnya, informasi yang diperoleh tidak lengkap sehingga berdampak pada daya tangkap dan tentunya juga mempengaruhi kemampuan berbicaranya.
* Gangguan pada otak
Ada beragam yang dapat dikategorikan sebagai gangguan pada otak. Diantaranya adalah perkembangan yang terlambat, atau karena penyakit yang diderita seperti radang selaput otak, atau kejang terus-menerus. Beragam gangguan ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak sehingga berdampak pada gangguan bicara. Salah satunya adalah cadel.
* Gangguan di wilayah mulut
Gangguan ini disebabkan adanya kelainan pada organ-organ di mulut (langit-langit, lidah, bibir, rahang, dan lain-lain). Misal, bibir sumbing, langit-langitnya terlalu tinggi, lidah yang terlalu pendek, rahang yang terlalu lebar, terlalu sempit, atau memiliki bentuk yang tidak proporsional. Namun umumnya kelainan pada organ mulut ini sangat jarang terjadi.
Cara mengatasi:
Kelainan fisiologis dapat diatasi, tergantung berat ringan penyebabnya. Umumnya bila penyebabnya termasuk katagori berat, maksudnya penyakitnya tak dapat disembuhkan atau kelainan organnya tak dapat dikoreksi, maka bisa menjadi cadel yang menetap. Namun bila tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.

3. Faktor lingkungan
Misal, karena meniru orangtuanya. Banyak orangtua yang menanggapi cadel anaknya dengan kecadelan pula. “Jangan naik pagel (pagar, Red).” Akibatnya, malah bisa membuat anak jadi terkondisi untuk terus bicara cadel. Padahal saat anak belajar berbicara, ia bisa mengucapkan suatu kata tertentu karena meniru. Nah, kalau orangtua atau orang-orang yang berada di lingkungan terdekatnya berkata cadel, ia akan berpikir, itulah yang benar. Jadilah ia cadel sungguhan. Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). Kemungkinan, anak tak pernah mendengar dan belajar bagaimana seharusnya mengucapkan konsonan tertentu.
Cara mengatasi:
Orangtua harus menghentikan kebiasan berkata cadel dan melakukan koreksi. Amati dengan jeli. Contoh, bila hari ini bisa namun keesokan harinya tidak bisa, maka tugas orangtua segera mengoreksi dengan menyebutkan yang sebenarnya. Mintalah kepada anak untuk mengulanginya beberapa kali. Namun, jangan memaksa. Berikan penghargaan bila ia kembali mampu mengucapkannya dengan baik. Jika orangtua memang cadel, mintalah orang-orang yang berada di lingkungan terdekat untuk memberikan stimulasi kepada anak.

4. Faktor psikologis
Contoh, untuk menarik perhatian orangtuanya karena kehadiran adik. Yang semula tidak cadel, tiba-tiba menjadi cadel karena mengikuti gaya berbicara adiknya.
Cara mengatasi:
Orangtua harus menunjukkan bahwa perhatian kepadanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orangtua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat.

MENCEGAH CADEL

Demi menghindari timbulnya cadel, rajin-rajinlah memberikan stimulasi pengucapan yang benar. Paling lambat saat anak berusia 2 tahun. Jangan gunakan bahasa dengan pengucapan yang cadel. Jangan mengganti bunyi “s” dengan “c” atau “r” dengan “l”, dan lain-lain.

Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu dalam berbicara. Ini kerap dilakukan tanpa disadari oleh orang dewasa dengan alasan memudahkan. Yang paling sering adalah konsonan “R”, semisal “pergi” jadi “pegi” atau “es krim” jadi “ekim”.

Sumber: http://pembelajaran-anak.blogspot.com

8 KEUNTUNGAN MERANGKAK


jalanJangan buru-buru senang jika bayi melompatinya dan langsung berjalan.

Dalam soal tumbuh-kembang anak, sebagian kita – para orangtua - bersikap seperti tengah menyaksikan anak ikut lomba balap. Kita senang jika anak bisa ‘ngebut’ melewati tiap etape atau tahapan, mendahului anak lain. Kalau bisa lompati saja 1-2 tahap, biar lebih cepat lagi.

rangkakDalam perkembangan berjalan juga begitu. Sebagian kita merasa senang jika bayi langsung belajar berjalan tanpa merangkak dulu. Padahal, merangkak itu penting buat bayi. Peter Fysh, dokter anak, chiropractor dan anggota International Chiropractor Association yang berdomisili di Sunnyvale, California, Amerika Serikat mengatakan,

otakmerangkak menuntut pemakaian kaki dan tangan yang berlawanan secara simultan, yaitu: menggerakkan tangan kanan dengan kaki kiri, diikuti tangan kiri dengan kaki kanan, dan seterusnya, dalam gerakan timbal-balik. Tiap gerakan seperti ini menuntut pemakaian kedua belahan otak kiri dan kanan dalam sebuah koordinasi neurologis yang kompleks.

akademis‘Berjalan terlalu dini’ (merangkak terlalu singkat sebelum mulai berjalan) diduga berhubungan dengan masalah akademis di belakang hari. “Penelitian terhadap anak-anak yang digolongkan ‘berjalan terlalu dini’ menunjukkan bahwa mereka meraih skor lebih rendah dalam berbagai tes prasekolah,” kata Dr. Fysh.

Louis Barclay Murphy dan Colleen T. Small dalam The Baby’s World menjelaskan berbagai pengalaman sensori bayi, dalam konteks budaya para bayi itu sendiri. Berdasarkan penjelasan mereka, kita bisa melihat betapa banyak ‘keuntungan langsung’ yang bisa dirasakan bayi dengan merangkak - selain meningkatnya keterampilan motorik, tentunya:

1. ‘Memperluas Dunia’

dunia1Bayi perlu memperluas dunia, karena mereka akan semakin terbiasa dengan apa yang mereka lihat sehari-hari dan bisa bosan. Dengan merangkak, bayi bisa menggapai, menyentuh, merasakan dan menjulurkan tubuh untuk melihat dan mendengar sesesuatu yang baru dan menarik. Dengan cara ini, bayi memelihara minat dan kesenangannya terhadap rangsangan baru – ini sangat penting untuk perkembangan mental bayi dan kelangsungan hidupnya. Bayi-bayi yang kurang mendapat ‘nutrisi’ untuk pancainderanya (karena dunianya tidak diperluas) akan lambat perkembangannya.

2. Mengembangkan ‘Peta-peta Kognitif’

arahPeta-peta kognitif (cognitive maps) berkembang begitu anak menyesuaikan diri mereka dengan lingkungan sekitar. Ketika bayi mulai merangkak dari ruang yang satu ke ruang lain, mereka belajar menemukan jalan sendiri untuk mengelilingi rumah. Mereka menciptakan peta kognitif seperti burung dan tupai menemukan jalan pergi dari dan pulang ke sarang. Bayi yang merangkak juga bisa menyelidiki lemari-lemari dapur di sepanjang jalur merangkak. Itu membuat mereka makin menguasai jalur, bahkan mampu mengubah tiap jalur menjadi tempat mengasyikkan. Semua itu akan mengembangkan kompetensi dan kemandirian bayi.

3. Mengembangkan kelekatan dengan lingkungan

boxProses pengembangan kelekatan (attachment) bayi dengan sesuatu disebut juga kanalisasi. ‘Sesuatu’ itu bisa ibunya, selimutnya, mainannya, boks-nya, makanannya, pakaiannya, dan seterusnya. Bayi yang merangkak bisa menjalin kelekatan dengan lebih banyak ‘sesuatu’, yang mungkin tidak didapat jika tidak merangkak: kolong boks (yang ternyata nyaman untuk sembunyi!), sudut kamar, lemari, meja-kursi, ceruk di antara perabotan, ruang di balik pintu, dan apa saja yang bisa mereka temukan dalam setting rumah kita.

4. Menyalurkan hasrat kebebasan

apiAda bayi-bayi enerjik yang kesal jika terkurung dalam kotak bermain atau kamar. Mereka bisa marah dan melakukan tindakan destruktif: melempar atau merusak mainan, menendang, memukul, dan sebagainya. Dengan merangkak, bayi-bayi enerjik tersebut mendapatkan penyalurannya. Hasrat ingin bebas terpuaskan, energi gerak yang melimpah tersalurkan (merangkak itu capek, lho!).

5. Memperkaya kehidupan emosi

emosiMerangkak memberi kesempatan bayi mengalami lebih banyak tantangan dari lingkungan. Semua itu harus dihadapi oleh bayi dengan segala rasa yang muncul dalam dirinya – takjub, gembira, bersemangat, sedih, cemas bahkan takut. Kesuksesan demi kesuksesan yang berhasil dicapai bayi dalam mengatasi tantangan tersebut akan membangun optimisme bayi.

6. Memperkaya cara-cara untuk menyamankan diri

isapBayi mampu membuat dirinya nyaman dengan berbagai cara. Ada yang mengisap jari (oral), memandangi gambar-gambar di dinding (visual), menggosok-gosokkan jari kaki ke mainan (taktil). Dengan merangkak, bayi bisa memperkaya cara menyamankan diri. Misalnya, merangkak ke kolong meja dan berbaring menikmati ketersembunyian dirinya dari orang lain (visual).

7. Memperkaya cara bayi untuk ‘mempengaruhi dunia’

tanganSebelum bisa merangkak, bayi mungkin hanya bisa ‘mengulurkan tangan dan menatap penuh harap’ untuk menyuruh kita menghampiri dan menggendongnya. Dengan merangkak, bayi bisa menghampiri kita dan lebih ‘memaksa’ kita menggendongnya segera.

8. Memperkaya kosakata bayi

kataSebelum merangkak, bayi hanya menunggu seseorang menghampiri, menyodorkan sesuatu dan berkata “Ini boneka beruang…,” lalu belajar menghubungkan antara sesuatu yang nyata (benda empuk berbulu lembut, berwarna cokelat) dan gagasan tentang benda tersebut (boneka beruang). Dengan merangkak, bayi mendapat kesempatan jauh lebih luas untuk menemukan lebih banyak objek dan mengaitkannya dengan bahasa. Ketika merangkak mencapai kaki tangga, misalnya, kita berseru “Jangan ke tangga!” Bayi belajar menghubungkan bahwa yang ada di dekatnya adalah ‘tangga’ dan dia ‘dilarang’ mendekati benda tersebut.

Hm, kalau sebanyak ini keuntungannya, siapa lagi yang berani mengatakan merangkak tidak penting?

Serba-serbi Merangkak
ensikloMenurut Encyclopedia of Children’s Health:

  • Kebanyakan bayi belajar merangkak antara usia 6-10 bulan.
  • Tidak semua bayi merangkak. Ada 5% bayi melompati periode merangkak dan langsung berpegangan, berdiri dan berjalan.

Sumber: http://www.naya.web.id

Wednesday, July 1, 2009

Pedoman Toilet Training Untuk Orang Tua

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet. The American Academy of Pediatrics telah mengembangkan brosur ini untuk membantu anak anda melewati tahap penting perkembangan sosial.

Kapan anak siap untuk toilet training?
Tidak ada patokan usia kapan TT harus dimulai. Saat yang tepat tergantung dari perkembangan fisik dan mental anak. anak berusia di bawah 12 bulan tidak mempunyai kontrol terhadap kandung kemih dan BAB, 6 bulan sesudahnya ada sedikit kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa anak sudah menunjukkan kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap sampai usia 30 bulan atau lebih.

Anak anda seharusnya juga sudah siap secara emosional. Harus ada kemauan sendiri, tidak melawan atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Jika anak bertahan kuat, sebaiknya ditunggu beberapa saat.

Mengajarkan TT sebaiknya santai dan hindari kemarahan. Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol kapan dan dimana anak ingin BAK atau BAB kecuali anak itu sendiri. Hindari pemaksaan yang berlebihan. Anak pada usia TT mulai timbul kesadaran terhadap diri sendiri. Mereka mencari cara untuk menguji keterbatasan mereka. Beberapa anak melakukannya dengan cara nenahan keinginan BAB-nya.

Perhatikan tanda-tanda berikut ini untuk menilai kesiapan anda:
 Anak anda tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau setelah tidur siang.
 BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi
 Ekspresi wajah, postur menjadi tubuh dan kata-kata yang menunjukkan keinginan BAB atau BAK.
Keadaan stress di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadang-kadang sangat bijaksana untuk menunda TT dalam situasi berikut ini:
 Keluarga anda baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu dekat.
 Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan seorang bayi.
 Ada penyakit berat, kematian atau seseorang dalam keluarga sedang mengalami krisis.
Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan dalam TT, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.
 Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana
 Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta membantu melepas pakaian.
 Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang koor dan ingin diganti.
 Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot.
 Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak yang lebih besar.

Bagaimana mengajar anak anda menggunakan toilet ?
Anda seharusnya memutuskan dengan hati-hati kata-kata apa yang akan digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian tubuh, urine dan BAB. Ingatlah bahwa kata-kata tersebut akan didengar juga oleh teman, tetangga, guru, dan orang-orang lain. Sebaiknya gunakan kata-kata yang sudah umum digunakan supaya tidak membingungkan atau mempermalukan anak anda.

Hindari penggunaan kata-kata “kotor”, “nakal” atau jorok untuk menggambarkan urine atau feses. Istilah negatif ini akan membuat anak anda merasa malu dan bingung. Ajarkan BAB dan BAK dengan cara sederhana. Anak anda mungkin ingin tahu dan mencoba untuk bermain dengan fesesnya. Anda dapat mencegah hal ini tanpa membuat anak anda sedih, katakan bahwa feses bukan sesuatu untuk dimainkan.

Ketika anak anda sudah siap, anda sebaiknya memilih pot (potty chair) untuk BAK atau BAB. Pot lebih mudah digunakan untuk anak kecil, karena pendek sehingga anak tidak sulit untuk duduk diatasnya dan kaki anak dapat mencapai lantai.

Anak-anak sering tertarik dengan aktifitas dalam kamar mandi keluarga. Kadang-kadang biarkan mereka memperhatikan orang tuanya saat pergi ke kamar mandi. Dengan melihat orang dewasa menggunakan toilet akan membuat mereka mempunyai keinginan yang sama. Jika memungkinkan ibu sebaiknya memperlihatkan cara yang benar kepada anak perempuannya, sedangkan ayah kepada anak laki-lakinya. Anak-anak dapat juga mempelajari cara ini dari kakak atau teman-temannya.

Ajarkan anak anda untuk memberitahukan bila dia ingin BAB atau BAK, Anak anda sering memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda lain kali harus memberi tahu anda sebelumnya.

Sebelum BAB anak anda mungkin merintih, atau mengeluarkan suara-suara aneh, jongkok, atau berhenti beberapa saat. saat mengedan wajahnya akan menjadi merah. Jelaskan pada anak tanda-tanda tersebut adalah petunjuk saatnya menggunakan toilet.

Kadang-kadang lebih lama mengenal keinginan untuk BAK daripada keinginan untuk BAB. Beberapa anak belum dapat mengontrol keinginan BAK selama beberapa bulan setelah mereka dapat mengontrol BAB. Beberapa anak mampu mengontrol BAK terlebih dahulu. Sebagian besar anak laki-laki belajar BAK dengan cara duduk terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara berdiri. Ingatlah bahwa semua anak berbeda.

Ketika anak anda tampak ingin BAK atau BAB, pergilah ke pot. Biarkan anak anda duduk di pot beberapa menit, Jelaskan bahwa anda ingin anak anda BAB atau BAK di situ. Bergembiralah, jangan memperlihatkan ketegangan. Jika anak anda protes dengan keras, jangan memaksa. Mungkin anak anda belum saatnya untuk memulai TT.

Sebaiknya anak dilatih menggunakan pot secara rutin, misalnya menjadi kegiatan pertama di pagi hari ketika anak anda bangun, setelah makan, atau sebelum tidur siang. Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengontrol kapan anak anda BAB atau BAK.

Keberhasilan TT tergantung pada cara pengajaran bertahap yang sesuai dengan anak anda. Anda harus mendukung usaha anak anda. Jangan menginginkan hasil yang terlalu cepat. Berikan anak anda pelukan dan pujian jika mereka berhasil. Bila terjadi kesalahan jangan mamarahi atau membuat mereka sedih. Hukuman akan membuat mereka merasa bersalah dan membuat TT menjadi lebih lama.

Ajarkan anak anda kebiasaan menjaga kebersihan. Tunjukkan cara cebok yang benar. Anak perempuan seharusnya membersihkan dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman dari rektum ke vagina atau kandung kemih. Pastikan anak laki-laki maupun perempuan mencuci tangan mereka setelah BAB atau BAK.

Beberapa anak percaya bahwa urine atau feses adalah bagian dari tubuh mereka, melihat fesesnya disiram mungkin menakutkan dan sulit untuk dimengerti. Beberapa anak takut mereka akan tersedot ke dalam toilet bila disiram saat mereka masih duduk di atasnya. Orang tua harus mengajarkan mereka keinginan untuk mengontrol, biarkan mereka mencoba menyiram tissue ke dalam toilet. Hal tersebut akan menghilangkan ketakutan mereka terhadap suara berisik air dan mereka dapat melihat benda yang menghilang, masuk ke dalam toilet.

Ketika anak anda mulai sering berhasil, tingkatkan dengan penggunaan celan latihan (training pants). Kejadian tersebut menjadi sangat istimewa. Anak anda akan merasa bangga telah mendapat kepercayaan dan merasa tumbuh. Bagaimana pun juga bersiaplah terhadap terjadinya “kecelakaan”. Akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum TT selesai. Sebaiknya tetap melanjutkan latihan duduk di pot di siang hari. Jika anak anda dapat menggunakan pot dengan sukses, ini merupakan kesempatan untuk memuji. Bila tidak ini masih merupakan latihan yang baik.

Pada awalnya, banyak anak akan BAB atau BAK segera setelah diangkat dari toilet. Perlu waktu untuk anak anda belajar relaksasi otot-ototnya untuk mengontrol BAB atau BAK. Bila sering terjadi “kecelakaan” seperti ini, berarti anak anda belum siap untuk TT.
Kadang-kadang anak anda akan meminta popok saat merasa akan BAB dan berdiri di satu tempat tertentu untuk defekasi. Ajak anak anda mengenali tanda-tanda keinginan BAB. Anjurkan kemampuannya dengan duduk di atas pot tanpa popok.

Pola defekasi bervariasi. Beberapa anak 2-3 kali per hari. Anak lain 2-3 hari sekali. Feses yang lunak membuat TT lebih mudah untuk anak dan orang tua. Terlalu memaksa anak dalam TT dapat menimbulkan masalah BAB jangka panjang.

Bicarakan dengan dokter anak anda bila terjadi perubahan kebiasaan BAB atau bila anak anda menjadi tidak nyaman. Jangan gunakan laksatif, supositoria, atau enema, kecuali dianjurkan oleh dokter.

Sebagian besar anak dapat mengontrol BAB dan BAK di siang hari saat usia 3-4 tahun. Bahkan setelah anak anda tidak mengompol di siang hari masih perlu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tidak mengompol di malam hari. Sebagian besar anak perempuan dan lebih dari 75% anak laki-laki mampu tidak mengompol di malam hari setelah usia 5 tahun.
Anak anda akan menunjukkan kepada anada jika dia sudah siap pindah dari pot ke toilet sesungguhnya. Pastikan anak anda cukup tinggi, dan latihlah tahap demi tahap bersama mereka.

Dokter anak anda dapat membantu.
Bila timbul masalah sebelum, saat, atau setelah TT, bicarakanlah dengan dokter anak anda. Kadang-kadang masalahnya tidak terlalu berat dan dapat diatasi segera, tetapi kadang-kadang timbul masalah fisik dan emosional yang memerlukan terapi. Bantuan, nasihat, dan dukungan dokter anak dapat membuat TT lebih mudah. Dokter anak anda juga dilatih untuk mengidentifikasi dan menangani masalah-masalah yang lebih serius.

sumber: dari sini

Toilet Training Sejak Dini

Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orangtua ketika anaknya buang air kecil atau buang besar di lantai yang sudah bersih. Atau pipis di kasur yang kain penutupnya bare diganti dengan yang bersih dan wangi. Akibatnya, cucian bekas ompol menumpuk yang seakan-akan menghantui Anda, karena tumpukan itu tidak pemah berkurang. Kalau bukan karena sayang anak dan sadar risiko menjadi orangtua ingin marah-marah terus rasanya.

USIA 3 TAHUN MASIH WAJAR
Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun. Anak di bawah usia 2 tahun mengompol karna belum sempumanya kontrol kandung kemih atau toilet trainingnya.

Ada beberapa penelitian dan literatur yang menyebutkan kira-kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur enam tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun. Tapi, bukan berarti anak tidak diajarkan bagaimana cara benar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang benar dan di tempat yang tepat bukan? Karena kita juga harus memperhitungkan masa sekolah anak, di mana biasanya ketika sudah bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis sembarangan.

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Dengan toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. Selain itu, toilet training juga mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiridan memakai kembali celananya, demikian menurut Siti Mufattahah, S.Psi; Psikolog dan staf pengajar dari Jurusan Psikologi Universitas Gunadarma, Depok.

BISA DIMULAI SEJAK USIA 2 BULAN
Memang untuk mengajarkan toilet training pada anak gampang-gampang susah. Namun demikian sebagai orangtua tetap perlu mengajarkan pada anaknya. Untuk mengajarkan toilet training pada anak bisa dimulai sejak usia 1 sampai 3 tahun. Pada saat usia tersebut, si anak harus mampu melakukan toilet training. Jika si anak tidak mampu melakukan toilet training sendiri boleh jadi anak pernah mengalami hambatan.

Cara orangtua mendidik anaknya agar terbiasa untuk dapat pipis atau BAB sesuai waktunya, stimulasinya bisa dimulai sejak usia 2 bulan. Caranya, orangtua bisa memeriksa popoknya atau mengganti popoknya setelah basah. Karena orangtua sebagai orang yang terdekat dengan anaknya mengetahui kapan waktu anaknya BAK atau pun BAB.

Apabila anak sejak usia 2 bulan tidak mampu diajarkan toilet training, tidak ada salahnya anak diajarkan saat usia 1 tahun. Perlu diingat anak pada usia 1 tahun mengalami fase anal. Pada fase ini anak mencapai kepuasan melalui bagian anus. Fase kepuasan ini berhubungan dengan kebersihan dan jadwal kedisiplinan.

Jadi, seorang anak minimal sudah diajarkan sejak usia 1 tahun. Bila anak diajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah perilaku anak. Selain itu, bila anak sudah lebih dari 3 tahun belum mampu untuk toilet training, boleh jadi ia mengalami kemunduran. Karena pada saat usia 1 sampai 3 tahun ia belum mampu melakukan buang air sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Akibatnya, anak bisa menjadi bahan cemoohan teman-temannya.

Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK atau BAB sesuai waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar. Tetapi pada usia tiga tahun masih dianggap wajar bila BAK atau BAB di celananya. Namun begitu, bukan berarti orangtua membiarkan saja. Berilah pengertian pada anak bahwa cara yang dilakukan tidaklah tepat.

Masalah kemandirian anak BAK dan BAB boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak wanita dan laki-laki. Biasanya anak wanita lebih penurut, maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk toilet training dibanding anak laki-laki. Namun demikian untuk mengajarkan toilet training pada laki-laki pun harus bisa.

TANDA SI KECIL SIAP
Beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:
1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, atau bila ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun, -
2. Waktu buang airnya sudah bisa diperkirakan,
3. Sudah bisa memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
4. Tertarik dengan kebiasaan masuk k€e dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
5. Minta untuk diajari menggunakan toilet.

TAHAPAN TOILET TRAINING
Mengajarkan toilet training memerlukan beberapa tahapan:
- Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air.
Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC. Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. saat si kecil sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Nah, agar si kecil tidak takut di toilet, Anda dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya.
- Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Anda juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.
Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang anda inginkan
Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari. (Pambudi)

sumber: dari sini

Sunday, May 10, 2009

Bayi 10 Bulan: Beberapa Hal Penting

Apa saja yang bisa dilakukan oleh bayi usia 10 bulan dan apa saja yang penting untuk Anda ketahui? Coba simak artikel berikut…

Mobilitas Tinggi

Yap. Bayi seusia ini biasanya sudah sangat aktif bergerak ke sana kemari. Makanya Anda harus ekstra hati-hati serta harus jaga stamina. Maklum… lumayan capek juga kan kalau harus mengikuti mobilitas bayi Anda

Dia normalnya sudah bisa merangkak dengan cepat, serta bisa duduk dengan mudah dari posisi apapun.

Berkeliling

Kemungkinan besar dia pun sangat senang berjalan dengan berpegangan entah pada sisi meja, kursi, ataupun perabot lainnya yang tidak terlalu tinggi. Sebagian bayi lain mungkin baru bisa mengangkat tubuhnya dari posisi duduk ke posisi berdiri, dengan cara berpegangan ke sisi meja atau kursi.

Terkadang ia akan bereksperimen dengan menggunakan satu tangannya untuk mengambil mainan yang ada di lantai, atau bahkan ia akan berani melepaskan kedua pegangannya untuk berdiri.

Baby Walker

Penggunaan baby walker sampai saat ini masih kontroversial. Kebanyakan ahli tidak mendukung penggunaannya, karena justru membuat bayi Anda lamban bisa berjalan. Lebih baik Anda memberi semangat kepada si kecil untuk berjalan dengan mendorong-dorong kursi plastik kecil atau yang sejenisnya.

Bagaimana Jika Bayi Anda Belum Bisa Merangkak


Jangan langsung panik.

Banyak juga lho bayi yang perkembangan motoriknya tidak terlalu cepat, tapi sebenarnya ia banyak menyerap informasi. Bayi seperti ini lebih senang menjadi pengamat.

Ada juga bayi pada usia 10 bulan yang berpindah tempat dengan cara ngesot, atau menyeret pantatnya, atau merayap di atas perutnya.

Yang perlu Anda ingat adalah, Anda jangan terlalu memaksakan bayi Anda untuk melakukan sesuatu yang tidak menarik baginya. Lebih baik Anda mendukung apa yang menjadi kesukaannya. Jika memang perkembangan motoriknya ternyata sangat lamban, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter Anda.

Permainan Mendidik

Salah satu permainan yang baik untuk bayi berumur 10 bulan adalah ciluk-ba. Cobalah Anda mengajaknya bermain ciluk-ba dengan berbagai variasi. Permainan sederhana ini selain mengasyikkan, juga bermanfaat bagi perkembangan kognitif si kecil, serta sangat baik untuk mempererat hubungan Anda dengannya.

sumber: dari sini

Tuesday, May 5, 2009

ARTI di Balik SENYUMAN

Apa pun artinya, ia selalu tampak seperti malaikat cilik!
Duh, gemas deh bila melihat bayi tersenyum. Senyumannya begitu tulus, begitu polos seperi layaknya malaikat. Saat si kecil lahir tentu senyuman itulah yang dinanti-nanti oleh orangtua. Tapi jangan berharap banyak karena senyuman bayi jarang sekali terjadi di awal-awal kelahirannya. Setelah beberapa waktu, barulah ia akan meyunggingkan senyum. Adakalanya di saat ia tertidur, bibir mungilnya akan menyunggingkan senyum. Lantaran itu, banyak yang percaya bahwa mereka tersenyum karena tengah diajak main oleh para malaikat yang menjaganya. Entah benar entah tidak, yang pasti senyuman itu bukanlah senyum sosial. Namun lebih tepat senyuman sebagai senyum kebetulan saja).
Sekitar usia bayi 2-3 bulan barulah senyumnya bisa dikaitkan dengan perilaku sosial. Di usia ini kemampuan penglihatannya mulai membaik. Kala ia menyusu ia bisa menatap ibu dengan penuh perhatian. Di usia ini, bayi sudah memberi respons terhadap banyak stimulus dari lingkungan sekitarnya.

BENTUK RESPONS
Pada dasarnya semua bayi bisa tertawa, bahkan bayi yang memiliki gangguan seperti autisme sekalipun. Meski senyumannyayang merupakan salah satu bentuk respons atas stimulasi dari lingkungan yang ia persepsi initak selalu karena rangsangan dari orang melainkan benda.
Senyum terkait dengan perkembangan kognisi bayi juga perkembangan sosial dan emosinya. Semakin usianya bertambah, bayi akan semakin mampu member respons terhadap stimulus yang berasal dari luar dirinya dan akan menentukan kepada siapa ia akan tersenyum.
Soal frekuensi senyum/tertawa tentu berbeda pada setiap bayi. Beberapa factor yang memengaruhinya antara lain:
* Temperamen. 
Bayi dengan temperamen yang mudah, akan lebih sering tenang dan tertawa ketimbang menangis. Sementara bayi sulit kerap rewel dan banyak menangis.

* Faktor kesehatan. 
Beberapa bayi dengan penyakit dan gangguan perkembangan menunjukkan perilaku tidak/sulit tertawa. Adanya rasa tak enak di tubuhnya membuat si kecil merasa tak nyaman sehingga jarang memberi respons dengan senyuman maupun tertawa.

* Rasa aman, senang dan nyaman dengan lingkungannya. 
Puting susu ibu, bau tubuh ibu, muka yang selalu tersenyum, dendangan ibu, tepukan di punggung atau belaian, akan mampu membuat bayi tersenyum. Sejak lahir bayi sudah mampu memberi respons terhadap suara, bau-bauan, rasa, dan sentuhan. Perasaan nyaman membuat bayi menunjukkan ekspresi nyaman. Salah satunya berupa senyuman. Sebaliknya lingkungan yang penuh tekanansuasana bising atau stimulus yang diiringi bunyi-bunyian kencangakan membuat bayi merasa tak nyaman dan tertekan,
sehingga membuatnya tak mau tersenyum ataupun tertawa.

* Aneka stimulus. 
Senyum maupun tawa bayi dipengaruhi oleh stimulus yang diberikan. Banyak cara dan stimulus yang dapat membuat bayi tertawa. Misal dengan permainan. Sejak usia 2 bulan bayi sudah mampu memberi respons atas permainan cilukba. Bayi menikmati stimulus muncul-hilang dari pandangan yang membuatnya tertawa-tawa. Bahkan beberapa bayi sudah bisa tertawa-tawa atas respons kitikan di perutnya atau permainan-permainan yang melibatkan berbagai nyanyian.
Nah, orangtua dapat mengupayakan agar stimulus yang berhasil membuat bayi tertawa dapat dinikmati kembali oleh bayinya. 

Bila Tak Ada SENYUM & TAWA


Bagaimana menghadapi bayi yang jarang tersenyum maupun tertawa?
1. Perhatikan dan amati, apakah anak tampak berbeda secara fisik dari bayi pada umumnya.
2. Cermati pula seperti apa temperamen yang sering ditampilkan bayi sejak ia lahir; apakah ia tergolong bayi yang sulit atau mudah.
3. Amati lingkungan di mana ia berada. Apakah cukup membuat bayi merasa nyaman atau tidak.
4. Berikan aneka stimulus yang dapat membuatnya tersenyum atau tertawa. Terkadang bayi tidak tertawa karena tidak ada stimulasi yang mampu membuatnya tertawa. Berikan mainan, dari yang sederhana seperti cilukba atau berbagai mainan lain yang sesuai perkembangan usia bayi dan dapat membuatnya merasa senang sehingga bayi lebih mudah tertawa.
5. Bayi yang sering distimulasi untuk tertawa amat bermanfaat bagi dirinya. Secara emosi perkembangannya akan lebih baik karena ia selalu merasa senang. Kelak ia pun jadi anak yang easy child. Selain itu, secara fisiologis, bayi yang merasa senang dan bahagia, tak sering rewel maupun berwajah cemberut. Ia tidak merasa stres dan selalu merasa nyaman sehingga jauh lebih sehat. Pada akhirnya, ini akan berpengaruh pada daya tahan tubuhnya yang akan jauh lebih baik.

Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
Roslina Verauli,Psi., 
dari Empati Development Centre, Jakarta

Monday, May 4, 2009

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-12

SENANG MEMBUANG Atau MELEMPAR BENDA
Sementara itu, perkembangan bahasanya semakin baik. Ia mulai mengerti arti,
"Tidak!"

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
* Berdirinya semakin stabil dan sudah dapat tanpa berpegangan.
* Dapat berjalan beberapa langkah meski masih butuh penopang untuk keseimbangan tubuhnya. Bantu bayi dengan memegangi kedua atau salah satu tangannya.
* Dapat bergerak dari posisi duduk ke berdiri dengan cara berlutut; satu kakinya ditarik dan diangkat sampai akhirnya dapat berdiri.

PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
* Kegemarannya memasukkan dan mengeluarkan objek dari/ke dalam wadah masih terus berlangsung.
* Mengambil objek yang kecil (sebesar buah kismis) masih dengan menjimpit (dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk).
* Dapat memegang krayon dan mengarahkannya pada kertas, namun belum membuat suatu coretan.

PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSI
* Kesadaran akan lingkungan sekitar semakin bertambah. Hal ini merupakan pertanda baik. Ia dapat mengenali orang baru yang dijumpai. Begitu pula dengan permainan atau barang-barang di sekitarnya.
* Takut pada orang asing dan takut berpisah dari ibu juga masih ditemui di usia ini.
* Ada juga rasa takut lain, seperti takut ketika dicuci rambutnya, takut pada suara keras, takut pada sesuatu yang tiba-tiba bergerak, dan lainnya. Namun rasa takut ini biasanya akan hilang dalam beberapa bulan ke depan.
* Bayi menolak perhatian dari orang lain dengan cara rewel atau menangis (terutama bila ada ibu di dekatnya).
* Jika memegang suatu objek ia akan mengulurkannya kepada orang yang ada didekatnya. Bukan untuk memberikan melainkan hanya memperlihatkan pada orang tersebut.

PERKEMBANGAN KOGNITIF
* Memperlihatkan pemahaman akan kata yang familiar. Contoh, "Ambil boneka beruangnya, Sayang!" Meski tidak langsung memberi respons dengan mengambil, bayi akan memerhatikan objek yang dimaksud. Hal ini menandakan ia mengerti "boneka beruang" yang dimaksudkan.
* Memerhatikan arah gerak suatu objek yang dilemparkannya dan memerhatikan dampak yang ditimbulkan dari objek yang dilempar tersebut. Ini merupakan permainan yang menarik baginya.
* Sudah mengerti akan perkataan "tidak". Ia akan berhenti melakukan sesuatu atau terdiam ketika mendengar kata "tidak".
* Memberi respons pada permintaan-permintaan sederhana. Umpamanya, "Ayo ke sini, Sayang." Maka ia pun memberi respons dengan mendekat.

PERKEMBANGAN BAHASA

* Seperti di usia sebelumnya, ia dapat mengucapkan beberapa kata sederhana seperti, "mama", "papa", "dada". Orangtua dapat menstimulasi dengan sering mengajaknya bicara. Ia akan belajar menirukan ucapan kata-kata sederhana.
* Tampak berusaha berkomunikasi dengan memainkan intonasi suara dan pola melodi sehingga terdengar seperti kalimat. Suara-suara itu diarahkan pada orang yang berbicara padanya.

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN
* Gerakannya dalam mengunyah dan menggigit makanan semakin baik.
* Pola tidurnya mulai teratur. Tidur malamnya sekitar 12-14 jam dan bangun pada pagi hari. Namun, bayi masih mudah lelah, karena itu majukan makan siangnya sekitar pukul 11.00 agar ia bisa tidur siang sekitar 1-4 jam.
* Mulai menolak makan. Perilaku ini umumnya berlanjut di usia berikutnya.

PERTUMBUHAN

Berat badan sekitar 7,8-10,2 kg, panjang badan 69,6-76,1 cm, dan lingkar kepala 43,5-49,5 cm. Sebagai patokan, berat badan di usia 1 tahun adalah 3 kali berat lahir, dan panjang badan 1,5 kali panjang lahir.


Dedeh Kurniasih.
Narasumber:
dr. Rini Sekartini Sp.A(K).,
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 
Ikatan Dokter Anak Indonesia cabang DKI Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-11

YUK MELATIH SI KECIL!
Lakukan terus latihan berjalan agar ia dapat lebih lancar melangkah.

Keterampilan Motorik Kasar
• Posisi duduk sudah stabil dan seimbang dengan baik, bahkan bayi sudah bisa bergerak memutar pada saat duduk.
• Masih melancarkan kemampuan berjalannya. Teruskan stimulasi dengan menatih atau membiarkan ia merambat sambil berpegangan pada meja, kursi atau barang di dalam rumah yang dapat menopang tubuhnya.
• Dalam posisi berdiri, bayi sudah dapat membungkukkan badan ke arah posisi duduk. Beberapa bayi sudah dapat berjalan sendiri 1-2 langkah, kemudian terjatuh.

Keterampilan Motorik Halus
• Masih senang memukul-mukulkan kedua mainan yang ada pada masing-masing tangannya.
• Gemar memasukkan dan mengeluarkan benda dari wadahnya.
• Selama bermain terkadang ia mengulurkan pergelangan tangannya atau memanipulasi objek mainannya.
• Bayi dapat memegang mainan menggunakan kelima jarinya, untuk benda kecil ia sudah dapat memegang dengan ibu jari dan telunjuk. Bayi dapat merasakan perbedaan permukaan benda halus dan kasar dengan telapak tangannya.

Perkembangan Kognitif
• Bila mendengar suatu bunyi, ia akan berusaha mencari sumber suara dengan menggerakkan kepala maupun bahunya.
• Ia akan meniru gerak secara spontan dan juga hal-hal baru yang diajarkan padanya.
• Bila kedua tangannya sedang "penuh" memegang mainan, lantas ada objek lain yang menarik perhatiannya, maka ia tetap berusaha mengambilnya. Adakalanya ia letakkan dulu satu mainannya untuk mengambil benda tersebut.
• Seperti di usia sebelumnya, jika ada mainan yang diinginkannya terhalang sesuatu,
ia akan berusaha mengambilnya dengan berbagai cara atau menyingkirkan halangan
tersebut.

Perkembangan Sosial-Emosi
• Bayi mengekpresikan permintaannya dengan menunjuk objek yang diinginkan.
• Seperti di usia sebelumnya, ia memperlihatkan rasa suka dan tidak pada seseorang, objek maupun tempat.
• Bisa diajak "bekerja sama" dalam bermain. Contoh, ia akan memberi saat kita memintanya untuk memberikan sesuatu yang ada dalam genggamannya.
• Masih mengalami ketakutan dan rasa tak nyaman bila berpisah dengan ibu. Ini wajar saja karena ada kedekatan secara emosional dan ketergantungan yang kuat pada figur ibu.

Perkembangan Bahasa

• Bisa menyebut kata "mama", "papa" atau "dada". Beri respons kala ia mampu mengucapkan kata-kata tersebut. Hal ini amat berarti baginya.
• Dari pengalaman, ia belajar bahwa dengan berteriak ia bisa menarik perhatian orangtuanya. Dari itu ia sering mengeluarkan suara-suara ribut seolah berseru. 
• Ia sudah dapat mengerti namanya. Lakukan stimulasi dengan sesering mungkin memanggil namanya.

Perkembangan Kemandirian
• Dapat menggunakan tangan serta jemari tangannya dengan lebih baik. Untuk itu, latih bayi untuk memegang sendok meski caranya masih dengan tangan mengepal.
• Ketika dipakaikan baju sudah bisa diajak bekerja sama. Contoh, dengan mengulurkan tangan atau kaki.

Pertumbuhan
Berat badan sekitar 7,6-9,9 kg, panjang badan 68,5-74,9 cm dan lingkar kepala 43-49 cm.


Dedeh Kurniasih.
Narasumber:
dr. Rini Sekartini Sp.A(K).,
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-10

BELAJAR MINUM DARI GELAS
Bayi juga sudah dapat ditatih belajar berjalan!

Motorik Kasar
* Gerakannya untuk duduk sudah lebih bebas. Ia pun makin mahir mengatur posisi tubuhnya.
* Bayi mulai berjalan merambat dengan berpegangan pada furnitur yang ada. Ketika berdiri berpegangan, ia sudah dapat bertahan dalam waktu yang lebih lama, sekitar setengah menit atau lebih. Telapak kaki sudah dapat menapak dengan baik.
* Ketika dipegangi tangannya untuk ditatih, ia sudah dapat melangkahkan kakinya untuk berjalan.

Motorik Halus
* Koordinasi kedua belah tangan sudah lebih baik. Kubus atau balok mainan yang dipegang oleh masing-masing tangannya sudah dapat dipukul-pukulkan.
* Karena kerja sama kedua tangannya sudah baik, bayi bisa menirukan gerak tepuk tangan.

Kognitif
* Ia masih senang bermain-main menjatuhkan objek. Bayi pun mulai mencoba-coba melemparkan mainannya dengan gembira, seperti mengharapkan suatu sensasi dari permainan tersebut.
* Kemampuannya untuk mengamati sikap, ucapan dan perilaku orang dewasa yang berinteraksi dengannya semakin bertambah. Ia dapat menirukan beberapa hal sederhana yang baru, seperti peniruan kata maupun gerak tubuh.
* Ketika diajak melihat-lihat buku sambil didongengi cerita, bayi mulai menunjukkan perhatian dan ketertarikan pada gambar-gambar di dalamnya.

Bahasa
* Seperti di usia sebelumnya, bayi suka menirukan ucapan yang dikatakan orang dewasa kepadanya. Lakukan dialog lebih sering dengan menggunakan kata-kata sederhana. Ucapkan berulang kali agar dapat ditirunya meski tidak sempurna. 
* Bayi mengerti kata-kata yang dikenalnya, seperti jika ditanya, "Mana Ayah?" ia akan memberi respons dengan memalingkan kepalanya mencari orang yang dimaksudkan. Jika ia menemukan "ayah" akan ditatapnya sang ayah.
* Ia sudah mengerti kata "ya" dan "tidak" dan dapat memberi respons saat mendengar kata tersebut. Ia seperti terdiam ketika yang didengarnya adalah kata "tidak".

Sosial Emosi
* Ia merasa senang ketika mendapat perhatian atau diberi pujian karena melakukan sesuatu. Sesuai yang diharapkan orang dewasa di sekitarnya. Ada kecenderungan ia akan melakukan kembali atau mengulang perilaku tersebut.
* Perasaan takut, khawatir, dan rasa tak nyaman terhadap orang tertentu, situasi atau orang asing, dan ditinggalkan orang terdekatnya masih ditemui di usia ini.
* Antusias mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya, apalagi dengan kemampuan motoriknya yang semakin bertambah. Perhatikan faktor keamanan lingkungan di sekitar bayi.

Kemandirian
* Teruskan melatihnya makan sendiri. Ia akan menggunakan jari-jemari tangannya untuk memasukkan makanan ke mulut. Ajarkan cara memegang sendok untuk mengambil makanan di piringnya.
* Ia bisa menggunakan jempol dan jari tangan lainnya untuk memegang gelas dan belajar minum. Gunakan gelas plastik agar aman.

Pertumbuhan
Berat badan sekitar 7,3-9,5 kg, panjang badan 67,2-73,6 cm dan lingkar kepala 42,5-48,5 cm.


Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/NAKITA
Narasumber:
dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)
dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-9

Mencoba Berdiri Sendiri
Keinginan mengeksplorasi lingkungan bertambah. Perhatikan keamanan di sekitarnya.

Motorik Kasar
* Semakin hari, posisi duduk semakin stabil. Punggungnya lurus, kedua kaki menekuk dan terkembang. Bayi juga sudah bermain dalam posisi duduk yang seimbang dengan waktu yang agak lama.
* Jika kita posisikan ia berdiri dengan memegang kedua tangannya, ia hanya bertahan sebentar. Keseimbangan badannya untuk sikap tegak lurus belum begitu dikuasai.
* Dengan berpegangan pada furnitur di dekatnya (seperti meja atau kursi), bayi dapat mengangkat badannya dengan menjejakkan kedua kakinya hingga akhirnya dapat berdiri sendiri.

Motorik Halus
* Semakin sering mengamati mainan yang berada dalam genggamannya kemudian menjatuhkannya dengan sengaja. Ia pun berusaha mencari arah terjatuhnya benda tersebut.
* Ketertarikannya pada benda-benda kecil di usia sebelumnya (dengan berusaha mengambil dengan menggarukkan jari jemarinya). Namun, di usia ini ia berusaha mengambil dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk yang diluruskan, lalu memungut benda tersebut dengan kedua jarinya yang melakukan gerakan menjepit seperti pinset.

Sosial Emosi
* Ibu dapat mengajaknya bermain petak umpet. Ketika ibu menghilang dari pandangan, tampak ekspresi wajah yang seolah menunggu dan ketika ibu muncul ia akan tertawa senang.
* Sama seperti di usia sebelumnya, bayi akan merasa takut dan khawatir dengan orang baru, situasi asing yang baru atau ditinggalkan ibu/pengasuhnya. Ia akan memberi repons dengan merengek atau menangis.
* Ketika diajak bermain cermin dan namanya disebutkan, ia akan menatap dirinya dalam cermin itu dengan ekspresi senang.
* Rasa ingin tahunya semakin hari semakin bertambah. Ia ekspresikan dengan berbagai cara seperti menjulurkan lidah, memegang mainan dan membolakbaliknya, memasukkan ke dalam mulut, merangkak ke sana kemari, dan lainnya. Perhatikan keamanan mainan maupun lingkungan sekitarnya 
* Ketika ada bayi lain di dekatnya, ia berusaha menarik perhatiannya dengan mencoba menyentuh rambut atau pakaian bayi tersebut.

Bahasa
* Sejak usia 6 bulan bayi merangkaikan suku kata yang sama seperti ma-ma, da-da dan kini semakin jelas kedengarannya. Pembentukan suku kata ganda ini dianggap sebagai pembentukan kata pertama seperti mama, papa, dan lain sebagainya.
* Kala bayi menunjukkan kesenangan meniru ucapan yang didengarnya, jangan malas mengajaknya berkomunikasi dengan kata-kata sederhana. Ia akan mengamati dan meniru ucapan yang disampaikan padanya. Gunakan bahasa yang benar, jangan gunakan bahasa "bayi".
* Saat merasa senang, ia akan mengeluarkan suara-suara seperti tertawa.

Kemandirian
* Beberapa bayi mulai tumbuh gigi seri kedua atas dan bawah setelah gigi seri pertamanya. Makanan padat yang diberikan pun sudah dalam bentuk nasi tim. Jadi kemampuan menggigit dan mengunyahnya sudah semakin berkembang. 
* Masih ada kecenderungan untuk menggigit-gigit atau mengunyah mainan, seperti di usia-usia sebelumnya. Berikan ia mainan teether dan perhatikan kebersihan mainan tersebut.
* Mampu memegang biskuit dan memasukkannya ke mulut. Berkaitan dengan itu ajari ia untuk makan sendiri dengan memberikannya sendok kecil untuk dipegangnya.
* Dapat memegang botol susu atau gelas minum sendiri dan mengarahkannya ke mulut seperti hendak minum. Gunakan gelas plastik dengan sedikit air minum.

Kognitif
* Kemampuan pendengarannya semakin bertambah. Ia menunjukkan ketertarikan pada suara sayup-sayup, berbisik, atau perlahan. Raut mukanya menunjukkan ia mendengarkan dengan saksama suara tersebut.
* Kemampuan penglihatan semakin bertambah. Bila sebuah mainan diletakkan dalam suatu wadah, ia dapat mengambilnya dari dalam wadah atau memasukkannya kembali. Ia sudah mampu membedakan ruang seperti atas-bawah dan luar-dalam dengan tepat.
* Bila ada sesuatu benda yang diinginkan, ia berusaha untuk meraihnya.
* Sudah dapat memberi respons atas perintah sederhana dengan gerakan tubuhnya, seperti ketika diminta "dadah" dia akan melambaikan tangannya.

Pertumbuhan
Berat badan 7,0-9,2 kg, panjang badan 66,0-72,3 cm, dan lingkar kepala 42-48 cm.


Dedeh Kurniasih.
Narasumber: dr. Rini Sekartini, Sp.A(K) 
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-8

IA MULAI MENGOCEH
Bayi mulai bisa berdiri dengan berpegangan dan bersuara, "Ma, ma..."

KETERAMPILAN MOTORIK KASAR
* Terlihat upaya bayi untuk merangkak maju. Sesekali ia akan memutar badannya atau mengubah posisi sikap tubuhnya.
* Sudah dapat duduk sendiri meski sikap punggung belum lurus atau tegak betul. Terkadang masih terguling dan perlu bantuan, sehingga ketika duduk ia masih bertumpu pada tangannya. Jika tubuhnya miring, adakalanya lengan bayi berupaya menahan agar tidak berguling. Tanpa bantuan lengan, bayi bisa bertahan duduk selama sekitar 10 menit.
* Jika diposisikan berdiri dengan dipegangi ketiaknya, bayi melonjak dengan pinggul yang agak menekuk seperti berjongkok dan kemudian menghentakkan kakinya untuk lurus berdiri.
* Bayi juga mulai belajar berdiri dengan berpegangan pada furnitur yang ada di dekatnya.

KETERAMPILAN MOTORIK HALUS
* Kemampuan motorik halus di usia sebelumnya lebih dimantapkan di usia ini dan berlanjut pada kemampuan baru. Contoh, selain bisa memegang suatu objek dengan tangan kanan dan kirinya, kini objek tersebut bisa ditimang atau dimainkan dengan kedua tangannya.
* Kemampuan mengambil objek dalam ukuran kecil bisa dilakukannya dengan cara 
menjumput atau menggaruk dengan jemari tangannya.
* Ia dapat pula meraih benda yang agak jauh dengan mengulurkan lengannya.
* Sering kali ia berusaha membunyikan mainan yang ada dalam genggamannya. Contohnya, mainan kubus-kubusan dalam kedua genggamannya diadu atau diketukketukkan.

PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSI
* Tampak sikap yang seolah menahan diri atau takut pada orang yang baru dikenalnya. Ia tak mau sembarang digendong orang yang ditunjukkan dengan cara menangis.
* Secara visual ia sangat mengenali wajah ibunya. Lantaran itu ada rasa khawatir bila berpisah dengan sang bunda.
* Ia mulai mengamati peristiwa-peristiwa di sekitarnya. Ia tertarik melihat ibunya mengerjakan sesuatu di dekatnya, semisal menyapu, menulis, menelepon, berbicara dengan orang lain, dan sebagainya.
* Bila melihat cermin ia seolah menyapa bayangannya dengan mengajaknya tersenyum dan memandangi bayangan tersebut.
* Kerap mengulang-ulang aktivitas yang dirasanya menyenangkan. 
* Mulai bisa diajak bekerja sama, terutama saat bermain. Umpamanya, dalam bermain cilukba sudah bisa melakukan perintah sederhana.

PERKEMBANGAN KOGNITIF
* Mulai memerhatikan (selama sekitar 1 menit) hal-hal kecil yang ada di sekitarnya, seperti objek-objek kecil, gerakan bayangan pada kain jendela, atau gambar.
* Kemampuan untuk memusatkan perhatian semakin bertambah. Misalnya, bisa bermain dengan mainannya sendiri sekitar 2-3 menit.
* Memerhatikan kata-kata familiar yang sering didengarnya.
* Memberi respons dengan gerakan tubuh jika diminta melakukan sesuatu yang sederhana.
* Menyentuh mainan atau tangan orang dewasa saat ingin memulai suatu aktivitas.
* Pandangannya akan mengikuti arah lintasan objek yang bergerak cepat. Misal ketika mainannya terjatuh ke bawah.

PERKEMBANGAN BAHASA

* Selain mengoceh, si kecil senang bereksperimen dengan nada suaranya sendiri. Ia suka berteriak dan juga berbisik-bisik. Ia akan mendengarkan bermacam suaranya itu, terutama ocehannya dengan penuh perhatian.
* Berteriak kala meminta perhatian dari lingkungan sekitarnya.
* Dapat mengucapkan suku kata tunggal 'ba' atau 'ma' maupun suku kata ganda seperti, 'ba, ba' atau 'ma, ma.' Ia dapat menirukan ocehan dengan gaya seperti yang diucapkan orang dewasa padanya.

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN
* Proses mengunyah makanan dilakukan dengan semakin baik dan terlatih. Ia dapat menggerakkan makanan padat dalam mulutnya untuk dikunyah dan digigit dengan sengaja.
* Bisa mengunyah atau menggigit mainan yang dimasukkannya ke dalam mulut.

PERTUMBUHAN

Berat badan sekitar 6,6-8,8 kg, panjang badan sekitar 64,6-71,0 cm, dan lingkar kepala 41,5-47,5 cm.


Dedeh Kurniasih
Konsultan Ahli :
dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-7

SENANG BERMAIN CILUKBA!
Motorik halusnya semakin berkembang baik. Ia bisa mengambil mainan dengan
tangan kanan dan kirinya.

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
* Bayi dapat membalikkan badan dari posisi telentang hingga telungkup. Namun bukan dengan menggulingkan badan seperti yang ia lakukan di usia sebelumnya. 
* Masih belajar merangkak dan duduk seperti usia sebelumnya. Misal, ia memutar pinggul dan bahu untuk mengubah posisi badannya.
* Jika diposisikan berbaring, ia akan memainkan kedua kakinya. Pinggulnya tampak menekuk. Terkadang ia arahkan kedua kakinya masuk ke dalam mulut.
* Bila dicoba didirikan sebentar, dengan memegang kedua bagian ketiaknya, ia akan membuat gerakan melonjak-lonjak seperti orang kesenangan.
Bayi mulai belajar merangkak.

PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS

* Tangan kanan dan kirinya dapat ia gunakan untuk memegang suatu objek dengan tepat. Terkadang ia amati benda dalam genggamannya dan kemudian memindahkannya dengan tangan satunya.
* Bila objek dalam genggaman tangannya terlepas, ia berusaha untuk mengambilnya kembali. Jika terjatuh ke bawah bayi tampak mencari benda tersebut ke arah bawah dan tidak teralihkan perhatiannya pada hal lain.

PERKEMBANGAN BAHASA
* Bayi senang mengoceh mengeluarkan bunyi rangkaian suku kata, tanpa arti tertentu. Contoh, 'babababa..,' "dadada..," atau "papapa..."
* Mengeluarkan bunyi atau suara konsonan 'rrr' vokal "aaa", "ooo", atau dalam bentuk suku kata seperti "he-he", "da-da",
* Bila ada yang mengucapkan atau menyebutkan namanya ia akan memerhatikan ucapan tersebut.
* Adakalanya bayi berteriak-teriak untuk meminta perhatian. Paling sering bila sedang berada jauh dari ibunya atau ditinggal sendirian.

PERKEMBANGAN KOGNITIF
* Ia akan mencari arah suara meski suara berbisik sekalipun. Bola mata, kepala serta badannya bergerak memutar mencari arah bunyi.
* Jika diminta mencari salah satu anggota keluarga yang disebutkan namanya, misalnya, "Ayah mana?", ia akan tampak mencarinya.
* Bisa diajak bermain cilukba, bermain sendiri dengan mainannya serta main dengan kertas.
* Dapat memberi respons pada ekspresi wajah orang dewasa di sekitarnya.

PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSI

* Menikmati permainan sosial. Contoh ketika diajak main cilukba dengan sang ibu, bayi berusaha meraih tangan ibu yang menutupi wajah ibunya, seolah ingin membuka dan melihat wajah sang ibu. Ketika ibu membuka tangannya, si bayi akan tertawa.
* Sering kali meminta perhatian dari orang di lingkungan sekitarnya, biasanya dengan mengeluarkan suara-suara.
* Ia akan perlihatkan rasa suka dan tidak dengan ungkapan suara maupun gerakan tubuh pada orang tertentu, objek maupun suatu tempat.
* Jika diajak bicara ia akan mengamati dan mengeksplorasi wajah orang dewasa yang mengajak bicara tersebut.

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN
* Kemandirian dalam hal makan semakin berkembang baik, seperti mengunyah makanan padat dan menggigit.
* Memegang sendiri makanannya semisal biskuit bayi atau finger food lainnya.
* Bila diberi minum dari cangkir ia bisa meminumnya.


Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)., 
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE -6

Wow, Sudah Mau Duduk!
Pada bulan ke-6 bayi usia ini dapat distimulasi untuk belajar duduk. Ia pun bisa dilatih untuk memegang biskuit dan memasukkannya ke mulut.

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
* Ketika ditelungkupkan, posisi kepala bisa tegak dan bisa menopang tubuhnya dengan kedua lengan yang ditegakkan. Posisi ini sudah lebih terlihat mantap dan seimbang ketimbang usia sebelumnya.
* Kemampuan bergulingnya sudah lebih sering dan mudah terjadi.
* Bila dalam posisi telentang kemudian kita ulurkan tangan, dia akan menggenggamnya dan akan mengentakkan badan untuk bergerak bangun ke arah posisi duduk. Ia merasa senang kalau ditarik untuk didudukkan.
* Jika diposisikan duduk dengan dibantu, kepalanya dapat tegak cukup baik tanpa berpegangan. Memangku si kecil dengan posisi duduk dapat membantu menstimulasinya untuk posisi duduk.
* Bila diposisikan berdiri dengan dipegangi pada kedua ketiaknya, kaki bayi dapat menumpu dengan baik dan sudah tampak keseimbangan meski hanya sebentar.

PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
* Telapak tangan tidak lagi mengepal malah sudah membuka keseluruhan.
* Ia dapat meraih dengan tepat sasaran sebuah objek dengan kedua tangannya.
* Dapat memegang benda dengan telapak tangan dan semua jemari tangannya.
* Ia bisa dilatih memegang biskuit untuk dimakannya.
* Dapat mencoba-coba atau memanipulasi objek yang ada dalam genggamannya dan mengamat-amatinya. Selain itu, memukulkan objek yang dipegangnya pada meja, misalnya.
* Dapat memindahkan benda yang dipegangnya dari satu tangan ke tangan lain. Sesekali ia gunakan pula tangan dengan bantuan mulut atau anggota badan lainnya. Pandangannya sudah lebih luas dalam melihat. Misal, ia bisa mengikuti gerakan orang yang melintas dalam ruangannya.

PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSI
* Sudah dapat membedakan orang dekat dan orang baru sebagai orang asing baginya. Ia mulai mempunyai kesadaran akan orang asing maupun situasi yang asing. Lantaran itu, ia akan merasa senang dan bersikap ramah pada orang yang dikenalnya seperti orangtua ataupun pengasuh. Sebaliknya ia bisa merasa takut dan menangis saat disapa orang yang belum dikenalnya.
* Bila di dekatnya ada bayi lain, ia akan menunjukkan minatnya dengan tersenyum. Kalau bayi didekatnya menangis, ia seolah menunjukkan minatnya pada suara tangisan tersebut dengan sikap diam mendengarkan.

PERKEMBANGAN BAHASA
* Sebagian besar bayi usia ini dapat menggabungkan atau merangkaikan huruf hidup tertentu dengan bunyi-bunyi huruf mati. Ia bisa menyuarakan suku kata-suku kata seperti, "ma-ma", "da-da", dan "na-na" dengan nada berirama/ritmis.
* Ia akan memerhatikan dengan baik orang yang berbicara dan menyebutkan namanya. Latih bayi untuk mencoba menirukannya.

Ukuran Tubuh
Berat badan sekitar 5,8-7,8 kg, panjang badan 61,6 67,8 cm, dan lingkar kepala 40-46 cm.

PERKEMBANGAN KOGNITIF
* Ketika meraih benda, ia melakukannya dengan sengaja. Begitu juga saat melakukan eksplorasi sensori dengan memasukkan benda/sesuatu ke mulutnya.
* Kemampuan mendengarnya cukup tajam dan perhatiannya besar pada suara-suara yang didengarnya. Ia juga bisa menentukan gerak pandangan/kepalanya ke arah munculnya suara. Bisa dicoba dengan meremas kertas di samping telinganya. Ia akan menoleh ke arah bunyi kresekan kertas.
* Bisa membedakan suara ramah dan marah yang didengarnya serta member respons yang berbeda.


Dedeh Kurniasih
Konsultan Ahli:
dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)., 
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-5

Mengulurkan TANGAN & MAINAN
Motorik halusnya sudah terkoordinasi dengan baik. Telapak tangan sudah membuka dan ia akan meraih objek yang ada dalam pandangannya.


Perkembangan Motorik kasar

* Bila bayi mengamati sesuatu pada satu sisi, ia akan memiringkan kepala dan badan sehingga membuatnya terguling. Karena itu, hati-hati jika menaruh bayi, perhatikan sekelilingnya, apakah cukup aman dan tidak berisiko membuatnya terjatuh.
* Kepalanya sudah bergerak-gerak dengan aktif jika ditelungkupkan. Ia pun mulai bisa bertopang tegak pada kedua lengannya (dengan ujung-ujung jari kaki menahan pada alas). Dalam posisi telungkup pun ia mudah untuk bergerak memutar. 
* Ketika dari posisi telentang, kedua tangannya ditarik, kedua lengannya akan melengkung dan kepala bayi menunduk ke depan sehingga dagu menyentuh dada. Ketegangan otot perut dan pangkal paha juga menyebabkan pinggul tertekuk. Bayi pun dapat duduk dengan dibantu.
* Kalau bayi "diberdirikan" dengan memegang kedua ketiaknya, tampak kedua kaki bayi bisa tegak. Bertumpu pada kedua kaki dengan posisi seimbang bisa dilakukan dalam hitungan 1-2 detik.

Perkembangan Motorik halus 
* Bayi sudah mencoba meraih mainan yang digerak-gerakkan di depan pandangannya atau yang ditaruh di dadanya.
* Telapak tangannya sudah membuka sehingga orangtua bisa memegang kedua tangannya dan membantu si kecil untuk bertepuk tangan.
* Sudah bisa memerhatikan suatu objek yang berjarak. Perkembangan sosial-emosi
* Bayi mulai memunculkan berbagai suara sebagai ekpresi rasa senang atau tidak senang ketimbang menangis.
* Dapat memberi respons dengan mengoceh atau tersenyum pada orang dewasa yang mengajaknya bercanda.
* Bisa membedakan wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara ramah maupun yang menunjukkan amarah. Respons yang diberikan berbeda terhadap apa yang dilihat. Maka itu, seringlah memberikan senyuman serta suara riang gembira pada bayi.
* Dapat menikmati permainan, baik bermain sendiri dengan suatu objek atau bermain sosial semisal bermain cermin. Ia akan tersenyum ketika melihat bayangannya di cermin.
* Mengulurkan tangan minta digendong ibu atau orang yang sudah dikenalnya.
* Jika ada bayi lain, biasanya ia memberikan respons untuk menarik perhatian. Seperti dengan menendang-nendangkan kaki, tertawa, main ludah atau melambungkan badannya ke atas-ke bawah.

Perkembangan Kognitif 
* Dapat bereksplorasi sensori dengan menggunakan tangan dan mulut. Lantaran itu, ia memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut.
* Bisa meraih suatu objek dengan sengaja.
* Seringkali terlihat memainkan tangan, kaki serta jemarinya sambil mengamati dengan penuh perhatian.
* Mulai memahami air muka dan nada suara orang dan serta dapat memerhatikan dan menafsirkan perilaku orang yang senang, marah, dan lainnya. Bayi pun akan memberi respons dengan menunjukkan wajah ketakutan, keheranan atau lainnya.

Perkembangan Bahasa
* Bisa berteriak-teriak ketika ditinggal sendirian atau tak ada orang di dekatnya.
* Mengoceh dan menyuarakan suara-suara seperti "aaah", "ee", atau "oy".
* Jika diajak bercanda bisa mengungkapkan rasa senang dan gembiranya dengan tertawa.
* Mulai memberi respons dengan mendengar dan memerhatikan suara musik yang diperdengarkan, adakalanya dengan mendekut.
* Orangtua bisa mestimulasi dengan memperdengarkan kata-kata yang familiar (sudah dikenalnya). Bayi akan mencoba-coba untuk menirukan suara-suara itu.

Ukuran Tubuh
Berat badan sekitar 5,3-7,3 kg, panjang badan 59,8 -65,9 cm, dan lingkar kepala 39-45 cm.

Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
dr. Rini Sekartini, Sp.AK 
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

TUMBUH KEMBANG BAYI BULAN KE-4

MERASAKAN EMOSI

Bersikap ceria di hadapan bayi meskipun Anda sedang kesal pada sesuatu.

Emosi
* Melewati usia 3 bulan reaksi emosi bayi sudah lebih jelas. Jika ada keinginan yang tak terpenuhi, si kecil bisa mengomunikasikannya dengan gerak tubuh, rengekan atau tangisan yang beritmis, serta mimik muka. Adakalanya emosi yang muncul -karena rasa marah dan kecewa- ditampakkan dengan berlebihan seperti berteriak-teriak dan perlu waktu untuk menenangkannya. Orangtua dapat membangun emosi positif dengan berusaha jeli memahami apa kebutuhan bayinya dan harus sering mengajaknya bicara pada setiap kesempatan. Berikan stimulasi setiap berinteraksi dengan anak.
* Bayi sudah bisa merasakan emosi orangtuanya yang sedang sedih, marah, letih dan sebagainya. Umpamanya, saat si kecil berceloteh lantas ibu mengeluarkan suara dengan intonasi tinggi, ia akan diam. Bayi yang memiliki gangguan emosi justru cuek pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Kalau ini yang terjadi, sering-seringlah mengajak si kecil bermain, ngobrol, mendongeng, dan lain sebagainya. Dengan begitu, setidaknya ada rangsangan ke otak si kecil untuk bisa fokus ke satu hal yang tengah dihadapinya.
* Bayi sudah mengenali raut wajah kedua orangtuanya. Maka itu, perlihatkan wajah yang selalu ceria padanya. Hal ini akan memberi pengaruh pada keceriaannya juga. Wajah cemberut dan kesal yang kerap diperlihatkan pada bayi, hanya akan membuatnya juga jadi mudah marah.

Motorik kasar
* Bila ditengkurapkan, bayi dapat mengangkat dada dan menopang dengan kedua tangannya. Terkadang, ia pun menumpu pada kedua kakinya. Otot leher yang semakin kuat, memungkinkan bayi untuk menegakkan kepala dan menggoyangkan kepalanya. Bila otot leher bayi masih terkulai lemas maka perlu dicurigai.
* Bila didudukkan dengan dipangku, kepalanya dapat tegak. Curigai bila kepalanya lemas terjatuh atau menunduk.
* Sudah berguling atau tengkurap-telentang sendiri. Beberapa bayi masih perlu bantuan untuk itu. Ini masih wajar. Saat tubuhnya miring-miring, coba bantu dia membalikkan badannya. Waspadai bila menaruhnya di tempat tidur karena dengan kemampuannya yang baru ini, ia berisiko terjatuh bila tidak diawasi.
* Ketika bayi telungkup, berikan mainan berbunyi di hadapannya agar ia berusaha mengangkat kepala. Ini juga melatih kekuatan otot leher yang diperlukan saat ia belajar duduk nantinya dan untuk belajar meraih mainannya. Jangan sering menggendongnya, lebih baik taruh bayi di tempat tidurnya agar banyak bereksplorasi.
* Bayi sudah diajar untuk didudukkan. Contoh, dari posisi telentang, kita bisa menarik kedua tangannya perlahan sehingga ia seolah-olah dalam posisi duduk. Sudah memungkinkan juga untuk memosisikan bayi duduk saat digendong, dipangku atau diletakkan di kereta dorong bayi.

Motorik halus
* Bila diberikan mainan, bayi dapat menggenggam dan memainkannya.
* Dapat meraih benda.
* Memasukkan tangan ke mulut dengan mainan atau benda.
* Bola mata mengikuti arah benda yang digerakkan dihadapannya tanpa diikuti gerakkan kepala.

Kognitif
* Aktif memerhatikan orang yang ada di dekatnya atau yang mengajaknya bicara atau objek yang berada di dekat/dalam pandangannya. Mulai ada ketertarikan untuk mengamatinya.
* Bermain dengan mainan kerincingan atau memainkan tangan, kaki maupun jarijari
tangan dan kakinya.
* Mencari sumber suara dan mengeskplorasi rasa dengan menggunakan tangan dan
mulut.

Bahasa
Respons bayi sudah lebih kompleks. Untuk mengungkapkan perasaan, ia tak hanya mengeluarkan bunyi-bunyian vokal maupun diftong (ai, oi, au), tapi juga dibarengi gerakan anggota tubuh. Misal, saat ia mendengar bunyi, ia akan menggerakkan mata atau tubuhnya mencari sumber suara tadi. Ketika diajak bicara, bayi tampak serius memerhatikan dan mengamati orang yang mengajaknya bicara itu. Tangisannya pun sudah bervariasi. Ada perbedaan pada tangisan saat lapar, kesal, marah, mengantuk, dan sebagainya. Ia juga sudah bisa menjerit-jerit. Lantaran itu, orangtua harus peka dengan apa yang tengah dibutuhkan bayi. 

Perkembangan psikososial
* Mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara beragam. Contoh, ketika diajak bicara, ia memberi respons berupa suara atau tingkah yang memperlihatkan kesenangan maupun ketidaksenangan. Jika ada hal yang menurutnya menyenangkan, ia bisa tersenyum bahkan tergelak tertawa.
* Menyukai permainan yang bersifat sosial atau permainan yang bersenda gurau, seperti main cilukba.
* Kontak mata semakin intens dan bola matanya dapat mengikuti arah pergerakan objek. Secara visual, bayi sudah mengenali orangtuanya.
* Bisa menarik perhatian. Antara lain dengan tertawa keras, menjerit, menghentakkan badan, menendangkan kaki, main ludah dan lainnya.
* Memberi respons dengan menoleh pada suara yang menarik perhatiannya. Ada keinginannya untuk digendong oleh orang yang mendekatinya.

Ukuran Tubuh
Berat badan antara 4,7-6,7 kg, panjang badan sekitar 57,8 -63,7 cm dan lingkar kepala antara 38-44 cm.

Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

PERKEMBANGAN BAYI BULAN KE-3

Si kecil sudah bisa menegakkan kepala. Respons emosinya pun lebih jelas.

Motorik kasar
* Mulai berusaha membalikkan badan pada satu sisi, kemudian telentang kembali. Bantulah saat ia berusaha membalikkan badannya.
* Bila diposisikan tengkurap, tampak tubuhnya bertumpu pada kaki. Sementara dada terangkat dan bertumpu pada lengan.
* Otot leher mulai kuat (tak terkulai lemas). Bayi mulai mengangkat kepala sekitar 900 selama kurang lebih 1 menit.
* Jika dipangku (posisi bayi didudukkan), kepalanya sudah bisa tegak. Patut dicurigai bila kepalanya terjatuh, tampak lemas atau menunduk.

Motorik HALUS
* Bola mata sudah bisa mengikuti objek 1800. Terkadang untuk melihat suatu objek, ia sampai memutar kepalanya. Lantaran itu ia sudah dapat mengikuti arah mainan yang digerakkan di depan matannya.
* Bisa melihat objek satu ke objek yang lain. Juga dapat melihat objek yang berada di arah atas kepalanya, dengan gerak mata ke atas.
* Mulai memegang-megang mainan yang diberikan. Bayi akan menggenggam mainan tersebut. Terlihat pula usahanya untuk mendekatkan mainan ke arah mulut. Terkadang ia juga menggeliatkan badannya. Untuk menstimulasi, berikan mainan yang berbunyi seperti kerincingan yang memiliki pegangan untuk digenggamnya.
* Umumnya bayi mulai memain-mainkan kedua tangannya, seperti saling menyentuh atau mengamati kedua tangannya. Stimulasi bisa dengan member mainan yang digantung di atas boksnya agar ia berusaha untuk meraihnya. Mainan sebaiknya tidak yang berputar karena koordinasi matanya belum baik, selain juga berisiko membuat matanya tidak terfokus pada satu objek.

REFLEKS
Sejak lahir sampai usia 2-3 bulan bayi memiliki refleks "menyentakkan badan". Sejalan dengan waktu, gerakan refleks tersebut akan menghilang.

KOGNITIF
* Memerhatikan mata dan mulut orang yang mengajaknya bicara.
* Mencari dengan gerakan mata atau tubuhnya ke arah sumber suara.
* Memperlihatkan ketertarikan pada sesuatu atau orang, paling tidak dalam satu menit.
* Mulai bermain dengan mainan yang dibunyikan.
* Menggunakan tangan dan mulut untuk mengeksplorasi sensorinya.

BAHASA
* Tangisan yang ditunjukkan bervariasi. Ada yang lemah, meninggi, tersedu-sedu dan sebagainya. Orangtua bisa membedakan tangisan mana yang menandakan kebutuhan akan makan, minum, lapar, kesal, marah, mengantuk, dan sebagainya. 
* Mulai tertawa dan menangis yang kedengarannya ritmis dengan mulut terbuka dan menutup.
* Memekik atau menjerit.
* Bunyi yang dikeluarkan seperti orang berkumur, "Oooo...", dan sebagainya. Biasanya suara-suara tersebut merupakan ekspresi rasa senang/gembiranya. Sering kali juga dibarengi dengan gerak anggota tubuhnya. Terkadang juga ia mengeluarkan bunyi seperti suku kata yang diucapkan namun belum terlalu jelas.
* Ketika diajak bicara atau bercanda ia memberi respons dengan mengeluarkan bunyi-bunyi vokal seperti "a".
* Setiap kali bayi menunjukkan kemajuan berbahasa dan kemampuan merespons, beri dia pujian dengan senyuman. Jika mengajaknya bicara, orangtua hendaknya mengucapkan kata dengan benar, tidak dicadel-cadelkan. Misal, "Adek mau susu?" bukan "Adek mau cucu."

SOSIAL

* Bayi mulai menikmati permainan sosial. Ia sering tersenyum bila melihat raut muka orang lain yang mengajaknya bercanda. Perilaku ini menunjukkan adanya hubungan sosial.
* Bayi berusaha mengamati orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia akan belajar mengenali mimik orang-orang di sekitarnya apakah dalam keadaan senang, kesal, dan lainnya. Maka itu hendaklah orangtua selalu menampakkan wajah ceria pada si kecil.

EMOSI

* Reaksi emosi sudah lebih tampak. Contoh, bayi mengeluarkan suara-suara ketika merasa gembira, saat kesal atau marah.
* Adakalanya ia bereaksi secara berlebihan, umpamanya berteriak-teriak, tak mau tenang untuk waktu lama, dan sebagainya. Reaksi ini umumnya merupakan cerminan kekecewaannya karena kebutuhan yang tidak segera direspons. Jika kebutuhannya dipenuhi biasanya ia akan tenang kembali.
* Untuk menghadapi bayi dengan reaksi emosi berlebihan, tingkatkan kejelian membaca kebutuhannya dan penuhi segera.

PERTUMBUHAN
Berat badan sekitar 4,2-6 kg, tinggi 55,5 -61,1 cm dan lingkar kepala 37-43 cm.


Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta