Showing posts with label [Bayi] 02 Bulan. Show all posts
Showing posts with label [Bayi] 02 Bulan. Show all posts

Friday, July 3, 2009

MAINAN BAYI 0-3 BULAN

Mainan sangat diperlukan untuk perkembangan bayi. Untuk mengoptimalkannya, tidak semua kebutuhan bayi akan mainan harus dipenuhi dengan cara membeli. Banyak jenis mainan yang justru bisa kita hadirkan dari dalam rumah kita. Jadi, belilah mainan yang memang perlu dibeli.
Dimulai dari tulisan ini, Mommy Gadget akan menyampaikan berbagai jenis mainan yang diperlukan anak pada tiap tahap perkembangannya.

1. Cahaya
Untuk membantu bayi baru lahir memfokuskan matanya, latihlah bayi hingga dia bisa mengikuti sumber cahaya. Caranya antara lain:

  • sorotkan senter di dalam kamar yang gelap
  • sibaklah tirai jendela di pagi hari agar cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya

2. Gambar Bergaris Tebal, Berpola Sederhana dan Berwarna Hitam-Putih
Ini juga berfungsi untuk membantu memfokuskan mata sang bayi.

3. Suara yang Lembut, Gendongan dan Belaian
Untuk mengembangkan ikatan yang kuat antara Anda dan bayi Anda.

4. Berbicara dengan Kontak Mata
Berusahalah menciptakan komunikasi dengannya. Ini adalah dasar dari kemampuan berbahasanya kelak. Katakan kata-kata sederhana seperti, “Halo bayi cantik” sambil menghadapkan wajah bayi kepada Anda dan menatap matanya. Jarak wajah Anda dan bayi sekitar 10 cm. Setelah 1 bulan, bayi juga menatap wajah Anda saat Anda berbicara. Dia juga akan mulai tersenyum dan membalas senyuman.

5. Suara Ritmis
Suara dengan nada yang konstan dan berulang-ulang diyakini dapat menenangkan bayi. Karena suara jenis inilah yang sering didengar bayi selama di dalam rahim, yaitu suara detak jantung dan bunyi perut ibu. Anda dapat menghadirkannya melalui:

  • CD/kaset murottal Alquran
  • gemericik air
  • mesin cuci, hair dryer atau vacuum cleaner yang berdengung, dll

6. Wajah
Bayi sangat suka memperhatikan wajah orang, terutama wajah orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Coba berbagai ekspresi wajah dan bermacam-macam suara dari mulut Anda untuk membantu perkembangan penglihatan dan pendengarannya. Anda bisa mencoba:

  • menyanyi dengan mempertegas bentuk mulut
  • mengedip-ngedipkan mata
  • buat suara-suara seperti batuk atau bersin
  • mengajaknya bercermin

7. Mainan berwarna-warni dan Bergemerincing
Ini digunakan untuk merangsang bayi bergerak mengikuti benda. Hal ini untuk melatih motoriknya sekaligus kemampuan spasialnya. Reaksi bayi di awal-awal umurnya masih lambat. Berilah bayi waktu sekitar 2 detik untuk merespon Anda.

  • menoleh ke kiri-kanan. Telentangkan bayi, bunyikan mainannya atau panggillah namanya dari sisi kanan tubuhnya dan kemudian ganti ke kiri hingga bayi dapat menoleh ke arah sumber suara
  • menggerakkan bola matanya ke kiri-kanan dan atas-bawah. Telentangkan bayi, gerakkan mainan ke kanan, ke tengah dan ke kiri secara perlahan. Ulangi terus hingga bayi dapat mengikutinya. Lalu latihlah dengan menggerakkan mainan ke atas-bawah
  • mengangkat kepala dan dada. Telungkupkan bayi, bunyikan mainannya di depan/atas bayi
  • meraih benda. gantungkan mainan di tempat yang dapat dilihat bayi. Menjelang usia 3 bulan, bantu bayi meraihnya

8. Mainan yang Dapat Diraba, Digenggam, Ditekan, Dipencet, Digoyang dll
Ini berguna untuk melatih koordinasi mata, tangan dan motorik halusnya. Pastikan mainan ini aman jika masuk ke mulut bayi. Jenis mainan ini misalnya:

  • kain aneka bahan dan tekstur
  • rattles
  • mainan karet yang berbunyi jika ditekan
  • piano mainan atau semacamnya, dll


diadopsi dari berbagai sumber

Wednesday, July 1, 2009

Toilet Training Sejak Dini

Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orangtua ketika anaknya buang air kecil atau buang besar di lantai yang sudah bersih. Atau pipis di kasur yang kain penutupnya bare diganti dengan yang bersih dan wangi. Akibatnya, cucian bekas ompol menumpuk yang seakan-akan menghantui Anda, karena tumpukan itu tidak pemah berkurang. Kalau bukan karena sayang anak dan sadar risiko menjadi orangtua ingin marah-marah terus rasanya.

USIA 3 TAHUN MASIH WAJAR
Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun. Anak di bawah usia 2 tahun mengompol karna belum sempumanya kontrol kandung kemih atau toilet trainingnya.

Ada beberapa penelitian dan literatur yang menyebutkan kira-kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur enam tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun. Tapi, bukan berarti anak tidak diajarkan bagaimana cara benar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang benar dan di tempat yang tepat bukan? Karena kita juga harus memperhitungkan masa sekolah anak, di mana biasanya ketika sudah bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis sembarangan.

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Dengan toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. Selain itu, toilet training juga mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiridan memakai kembali celananya, demikian menurut Siti Mufattahah, S.Psi; Psikolog dan staf pengajar dari Jurusan Psikologi Universitas Gunadarma, Depok.

BISA DIMULAI SEJAK USIA 2 BULAN
Memang untuk mengajarkan toilet training pada anak gampang-gampang susah. Namun demikian sebagai orangtua tetap perlu mengajarkan pada anaknya. Untuk mengajarkan toilet training pada anak bisa dimulai sejak usia 1 sampai 3 tahun. Pada saat usia tersebut, si anak harus mampu melakukan toilet training. Jika si anak tidak mampu melakukan toilet training sendiri boleh jadi anak pernah mengalami hambatan.

Cara orangtua mendidik anaknya agar terbiasa untuk dapat pipis atau BAB sesuai waktunya, stimulasinya bisa dimulai sejak usia 2 bulan. Caranya, orangtua bisa memeriksa popoknya atau mengganti popoknya setelah basah. Karena orangtua sebagai orang yang terdekat dengan anaknya mengetahui kapan waktu anaknya BAK atau pun BAB.

Apabila anak sejak usia 2 bulan tidak mampu diajarkan toilet training, tidak ada salahnya anak diajarkan saat usia 1 tahun. Perlu diingat anak pada usia 1 tahun mengalami fase anal. Pada fase ini anak mencapai kepuasan melalui bagian anus. Fase kepuasan ini berhubungan dengan kebersihan dan jadwal kedisiplinan.

Jadi, seorang anak minimal sudah diajarkan sejak usia 1 tahun. Bila anak diajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah perilaku anak. Selain itu, bila anak sudah lebih dari 3 tahun belum mampu untuk toilet training, boleh jadi ia mengalami kemunduran. Karena pada saat usia 1 sampai 3 tahun ia belum mampu melakukan buang air sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Akibatnya, anak bisa menjadi bahan cemoohan teman-temannya.

Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK atau BAB sesuai waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar. Tetapi pada usia tiga tahun masih dianggap wajar bila BAK atau BAB di celananya. Namun begitu, bukan berarti orangtua membiarkan saja. Berilah pengertian pada anak bahwa cara yang dilakukan tidaklah tepat.

Masalah kemandirian anak BAK dan BAB boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak wanita dan laki-laki. Biasanya anak wanita lebih penurut, maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk toilet training dibanding anak laki-laki. Namun demikian untuk mengajarkan toilet training pada laki-laki pun harus bisa.

TANDA SI KECIL SIAP
Beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:
1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, atau bila ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun, -
2. Waktu buang airnya sudah bisa diperkirakan,
3. Sudah bisa memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
4. Tertarik dengan kebiasaan masuk k€e dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
5. Minta untuk diajari menggunakan toilet.

TAHAPAN TOILET TRAINING
Mengajarkan toilet training memerlukan beberapa tahapan:
- Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air.
Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC. Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. saat si kecil sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Nah, agar si kecil tidak takut di toilet, Anda dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya.
- Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Anda juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.
Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang anda inginkan
Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari. (Pambudi)

sumber: dari sini

Sunday, May 31, 2009

Waktunya Tengkurap!

Anda mungkin sudah tahu bahwa posisi tidur yang paling baik dan aman untuk bayi Anda adalah terlentang atau miring. Namun begitu, ternyata jika bayi Anda posisi tidurnya terlentang terus menerus tidak baik juga lho!

Mengapa demikian?

Tengkorak/batok kepala bayi Anda masih sangat lunak dan sangat mudah mengalami perubahan bentuk. Jika Anda membiarkan si kecil terus menerus tidur dengan posisi terlentang, maka lama kelamaan bentuk kepalanya akan “peang” dan bagian belakang akan terlihat rata.

Oleh sebab itu, cobalah sesekali membaringkan bayi Anda dalam keadaan tengkurap!

Kapan Bisa Dimulai dan Berapa Lama?

Kegiatan ini bisa Anda mulai ketika usia bayi Anda 2-3 bulan, yaitu ketika ia sudah mulai bisa mengendalikan gerak kepalanya.

Sebagian ahli menganjurkan agar Anda melakukannya terhadap si kecil sekitar 30 menit setiap harinya. Tidak perlu langsung… bagi-bagi saja menjadi beberapa kali dalam sehari. Perhatikan juga kondisi bayi Anda sebelum mulai menengkurapkannya, pastikan ia dalam keadaan tenang dan jika ia sedang kesal jangan dipaksa ya! 

Apa Sih Keuntungannya?

Beberapa keuntungan sesekali membaringkan bayi Anda dengan posisi tengkurap, a.l:
  1. Memberikan kesempatan kepada bagian belakang kepala bayi untuk “istirahat”.
  2. Membantu menguatkan otot leher bayi, sebagai persiapan untuk merayap.
  3. Membantu mengembangkan kemampuan motorik kasar… Coba saja lihat, ketika Anda membaringkan si kecil dengan posisi tengkurap, maka ia akan menendang-nendangkan kaki serta menggerak-gerakkan tangannya, bukan?
  4. Membantu mengembangkan kemampuan motorik halus… Ketika tengkurap, bayi Anda biasanya akan berusaha menggenggam dan menarik-narik baju Anda atau selimut yang ada di dekatnya.

Bagaimana Cara Melakukannya?

Ada beberapa cara melakukan kegiatan ini:
  1. Ketika Anda sedang berbaring atau duduk bersandar, coba tengkurapkan bayi Anda di atas perut Anda.
  2. Bentangkan selimut tebal atau alas kanvas di lantai dan tengkurapkan bayi Anda di atasnya.
  3. Gendong bayi Anda dan tengkurapkan ia di atas lengan Anda.

Buatlah kegiatan ini menyenangkan. Ajak ia berbicara dan bercandalah dengannya ketika ia sedang tengkurap. Jika ia tertidur dalam posisi tengkurap, maka jangan meninggalkannya sendirian dan balikkan ke posisi terlentang ketika ia sudah terlelap.

Yuk, waktunya tengkurap!


sumber: dari sini

Tuesday, May 5, 2009

ARTI di Balik SENYUMAN

Apa pun artinya, ia selalu tampak seperti malaikat cilik!
Duh, gemas deh bila melihat bayi tersenyum. Senyumannya begitu tulus, begitu polos seperi layaknya malaikat. Saat si kecil lahir tentu senyuman itulah yang dinanti-nanti oleh orangtua. Tapi jangan berharap banyak karena senyuman bayi jarang sekali terjadi di awal-awal kelahirannya. Setelah beberapa waktu, barulah ia akan meyunggingkan senyum. Adakalanya di saat ia tertidur, bibir mungilnya akan menyunggingkan senyum. Lantaran itu, banyak yang percaya bahwa mereka tersenyum karena tengah diajak main oleh para malaikat yang menjaganya. Entah benar entah tidak, yang pasti senyuman itu bukanlah senyum sosial. Namun lebih tepat senyuman sebagai senyum kebetulan saja).
Sekitar usia bayi 2-3 bulan barulah senyumnya bisa dikaitkan dengan perilaku sosial. Di usia ini kemampuan penglihatannya mulai membaik. Kala ia menyusu ia bisa menatap ibu dengan penuh perhatian. Di usia ini, bayi sudah memberi respons terhadap banyak stimulus dari lingkungan sekitarnya.

BENTUK RESPONS
Pada dasarnya semua bayi bisa tertawa, bahkan bayi yang memiliki gangguan seperti autisme sekalipun. Meski senyumannyayang merupakan salah satu bentuk respons atas stimulasi dari lingkungan yang ia persepsi initak selalu karena rangsangan dari orang melainkan benda.
Senyum terkait dengan perkembangan kognisi bayi juga perkembangan sosial dan emosinya. Semakin usianya bertambah, bayi akan semakin mampu member respons terhadap stimulus yang berasal dari luar dirinya dan akan menentukan kepada siapa ia akan tersenyum.
Soal frekuensi senyum/tertawa tentu berbeda pada setiap bayi. Beberapa factor yang memengaruhinya antara lain:
* Temperamen. 
Bayi dengan temperamen yang mudah, akan lebih sering tenang dan tertawa ketimbang menangis. Sementara bayi sulit kerap rewel dan banyak menangis.

* Faktor kesehatan. 
Beberapa bayi dengan penyakit dan gangguan perkembangan menunjukkan perilaku tidak/sulit tertawa. Adanya rasa tak enak di tubuhnya membuat si kecil merasa tak nyaman sehingga jarang memberi respons dengan senyuman maupun tertawa.

* Rasa aman, senang dan nyaman dengan lingkungannya. 
Puting susu ibu, bau tubuh ibu, muka yang selalu tersenyum, dendangan ibu, tepukan di punggung atau belaian, akan mampu membuat bayi tersenyum. Sejak lahir bayi sudah mampu memberi respons terhadap suara, bau-bauan, rasa, dan sentuhan. Perasaan nyaman membuat bayi menunjukkan ekspresi nyaman. Salah satunya berupa senyuman. Sebaliknya lingkungan yang penuh tekanansuasana bising atau stimulus yang diiringi bunyi-bunyian kencangakan membuat bayi merasa tak nyaman dan tertekan,
sehingga membuatnya tak mau tersenyum ataupun tertawa.

* Aneka stimulus. 
Senyum maupun tawa bayi dipengaruhi oleh stimulus yang diberikan. Banyak cara dan stimulus yang dapat membuat bayi tertawa. Misal dengan permainan. Sejak usia 2 bulan bayi sudah mampu memberi respons atas permainan cilukba. Bayi menikmati stimulus muncul-hilang dari pandangan yang membuatnya tertawa-tawa. Bahkan beberapa bayi sudah bisa tertawa-tawa atas respons kitikan di perutnya atau permainan-permainan yang melibatkan berbagai nyanyian.
Nah, orangtua dapat mengupayakan agar stimulus yang berhasil membuat bayi tertawa dapat dinikmati kembali oleh bayinya. 

Bila Tak Ada SENYUM & TAWA


Bagaimana menghadapi bayi yang jarang tersenyum maupun tertawa?
1. Perhatikan dan amati, apakah anak tampak berbeda secara fisik dari bayi pada umumnya.
2. Cermati pula seperti apa temperamen yang sering ditampilkan bayi sejak ia lahir; apakah ia tergolong bayi yang sulit atau mudah.
3. Amati lingkungan di mana ia berada. Apakah cukup membuat bayi merasa nyaman atau tidak.
4. Berikan aneka stimulus yang dapat membuatnya tersenyum atau tertawa. Terkadang bayi tidak tertawa karena tidak ada stimulasi yang mampu membuatnya tertawa. Berikan mainan, dari yang sederhana seperti cilukba atau berbagai mainan lain yang sesuai perkembangan usia bayi dan dapat membuatnya merasa senang sehingga bayi lebih mudah tertawa.
5. Bayi yang sering distimulasi untuk tertawa amat bermanfaat bagi dirinya. Secara emosi perkembangannya akan lebih baik karena ia selalu merasa senang. Kelak ia pun jadi anak yang easy child. Selain itu, secara fisiologis, bayi yang merasa senang dan bahagia, tak sering rewel maupun berwajah cemberut. Ia tidak merasa stres dan selalu merasa nyaman sehingga jauh lebih sehat. Pada akhirnya, ini akan berpengaruh pada daya tahan tubuhnya yang akan jauh lebih baik.

Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
Roslina Verauli,Psi., 
dari Empati Development Centre, Jakarta

Monday, May 4, 2009

Tumbuh Kembang Bayi Bulan Ke-2


Aih... Dia MULAI TERSENYUM

Ia memberi kejutan dengan menunjukkan perilaku sosialnya untuk yang pertama kali. Ah, senangnya.... Yuk, kita lihat apa saja yang terjadi dalam tumbuhkembangnya di bulan kedua ini.

* Motorik kasar
Posisi tubuhnya sudah tidak terlalu menekuk seperti katak namun mulai meregang pada kedua tangan dan kakinya. Mobilitas yang dilakukan adalah bergeser saat berbaring, kedua kaki seolah ditendangkan dan menggeliat seperti melenturkan tubuhnya.
Ketika diposisikan telengkup bayi sudah dapat mengangkat kepala, meski baru membentuk sudut 45 derajat. Memang kepalanya masih agak bergoyang-goyang karena kekuatan otot leher belum sempurna, namun sudah bisa bertahan sekitar 10 menit. Karena itu bila ingin menggendong bayi, lehernya tetap perlu ditopang.
Untuk membantu menguatkan otot lehernya, si bayi perlu sering ditengkurapkan. Agar nantinya ia bisa tengkurap sendiri, sering-seringlah memiringkan badannya. Jangan sering menggendong bayi, berikan kesempatan untuk bereksplorasi.
Kepalan tangan yang tadinya menggenggam erat, kini perlahan sudah mulai sering membuka dan tidak lagi mengepal kuat. Perlahan refleks menggenggamnya juga berkembang.

* Motorik halus
Kemampuan motorik halus berkaitan dengan kemampuan penglihatannya. Di usia ini pandangannya mulai terfokuskan (ia seperti memerhatikan tangannya saat berbaring). Bayi juga sudah bisa melihat warna-warna terang, tak sekadar hitamputih atau gelap dan terang saja. Untuk stimulasi gunakan mainan berwarna cerah yang ditempel, digantung, dan dipegang. Gerakkan mainan tersebut dari sisi ke garis tengah pandangan bayi. Ia akan belajar mengikuti arah benda bergerak. Motorik halus pun terkait dengan koordinasi pendengarannya. Kemampuan pendengarannya di usia ini juga berkembang. Ia mulai bereaksi terhadap bunyi-bunyian. Misal bunyi lonceng di dekat telinganya akan membuatnya memerhatikan dan tertegun. Bayi pun bisa menaruh perhatian pada suara yang ada di sekitarnya, terutama suara ibu. Maka itu seringlah memperdengarkan berbagai bunyi maupun suara. Bayi pun bisa
merasakan tekstur, seperti kasar atau halusnya pakaian.

* Bahasa
Selain mengungkapkan perasaan lewat tangisan, bayi mulai mengeluarkan suara. Ia juga sudah merespons bunyi-bunyian yang ditangkap melalui pendengaran; baik suara keras maupun lembut. Umumnya, bunyi yang dikeluarkan adalah vokal "a" atau "e", terkadang ditambah selingan huruf "h", jadi "he" atau bunyi seperti aooh dan aaah. Jika bayi mulai mengeluarkan suara-suara, jangan lupa untuk selalu memberinya hadiah seperti ciuman. Baginya, mengeluarkan suara-suara merupakan sesuatu yang menyenangkan. Sering-seringlah mengajak si kecil bicara, menyanyi, bersenandung, dan lainnya.

* Emosi
Bila di usia sebelumnya bayi lebih banyak diam dan tak tersenyum, maka di usia ini bayi mulai tersenyum. Perilaku ini bila diamati umumnya muncul kala perutnya kenyang, ingin bermain, atau ingin merespons pembicaraan. Sering-seringlah tersenyum pada setiap kesempatan kala melakukan aktivitas bersamanya. Contoh, saat mengajaknya bicara, memandikan, bermain, memakaikan baju dan sebagainya. Dengan demikian bayi merasa aman, senang dan nyaman. Emosinya pun jadi terstimulasi dengan baik dibandingkan dengan ibu yang jarang mengajaknya tersenyum atau bercakap-cakap. Kelak, ia akan tumbuh menjadi bayi yang easy child, merasa aman dan percaya diri dalam mengembangkan kecerdasan emosinya.

* Sosial
Di usia ini perilaku sosial bayi yang pertama muncul. Ketika menyusu pada ibunya, ia bisa menatap dengan penuh perhatian. Umumnya bayi juga sudah mengenal suara orangtuanya dengan baik. Respons yang diberikan bayi adakalanya dalam bentuk senyuman atau dengan suara yang dia keluarkan untuk mengungkapkan perasaannya. Respons dapat juga berupa kedipan mata, kernyitan dahi atau ekspresi
wajah dan gerakan tubuh lainnya.
Jika orangtua sering memberinya stimulasi, kemampuan sosialnya akan terus berkembang dengan baik. Untuk itu berikan stimulasi dengan sering memberinya sentuhan, baik berupa ciuman, usapan, belaian kasih sayang, dan lainnya. Lakukan interaksi dengan membacakan si kecil buku cerita, mendongeng, bernyanyi, mengajaknya bicara dan lainnya. Hal ini penting agar terjalin kontak erat dengan orangtua. Jangan lupa, kontak yang baik dengan orangtua membantu mengembangkan rasa aman pada diri bayi serta menanamkan rasa percaya pada lingkungan.
Perlu dicurigai, bila bayi tidak merespons (dengan menyunggingkan senyum sosial) saat distimulasi. Banyak balita penyandang autisme ternyata saat bayi tidak menunjukkan senyum sosial. Jika ada dugaan ke arah sana, konsultasikan ke ahli untuk mendapat diagnosis pasti.

* Ukuran tubuh
Berat badan sekitar 3,6-5,2 kg, panjang badan 52,8-58,1 cm dan lingkar kepala 35-41 cm.

Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/NAKITA
Narasumber:
dr. Rini Sekartini, SpA(K)
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta