Showing posts with label POLA MAKAN. Show all posts
Showing posts with label POLA MAKAN. Show all posts

Friday, July 3, 2009

PANDUAN PEMBERIAN MAKANAN PADAT BAYI 6-8 BULAN

Makanan Padat Pertama

pump1Sulit dipercaya betapa cepat bayi anda berkembang. Ia berkembang secara dramatis dari bayi kecil yang anda bawa pulang beberapa bulan yang lalu, dan sekarang ia telah mulai mempelajari kepandaian baru setiap hari.

Antara usia 6–9 bulan, ASI (atau susu formula yang diperkaya zat besi) masih menjadi sumber nutrisi bagi bayi anda. Penting untuk diingat bahwa sebagian besar nutrisi yang diperlukan bayi anda tetap berasal dari sumber-sumber tersebut di atas, meskipun anda telah menambahkan makanan padat ke dalam menunya. ASI menyediakan nutrisi yang diperlukan bayi anda, seperti kalsium, zat besi, protein dan zinc – zat seng.

Meskipun demikian, pada usia ini bayi biasanya membutuhkan lebih banyak zat besi dan seng daripada yang kandungan yang ada di dalam ASI (dan susu formula) – dan pada saat inilah, tambahan nutrisi dapat diperoleh dari makanan padat dalam porsi kecil. WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI untuk tetap dilakukan sampai anak berusia dua tahun atau lebih.


6 Bulan – Makanan Pertama

Yang diberikan:

  • oatASI/ASI perahan
  • SEREALIA: beras putih, beras merah, havermuth (untuk beras dapat memakai tepung beras)
  • SAYURAN: labu parang, ubi jalar, kentang, kacang hijau, labu, zucchini
  • BUAH: pisang, alpukat, apel, pir

Yang Belum Boleh Diberikan:

  • DAGING & MAKANAN YG MENGANDUNG PROTEIN
  • IKAN & KERANG-KERANGAN
  • SUSU SAPI & PRODUK SUSU OLAHAN

Tipe:

  • alpukat1 jenis makanan
  • Semi cair (dihaluskan atau dibuat puree, tepung)
  • Dimasak (kecuali buah tertentu, seperti alpukat, semangka dan pisang)

Frekuensi:

  • Makan besar: 1-2 kali per hari
  • Cemilan: 1 kali per hari
  • ASI: kapan saja bila diminta atau formula umumnya setiap 3-4 jam

Porsi Makanan:
1-2 ujung sendok teh pada awalnya, bertahap tingkatkan sesuai bertambahnya usia dan minat bayi.

7-8 bulan – Makanan Semi Padat

Yang diberikan:

  • bayamASI/ASI perahan
  • SEREALIA: lanjutkan pemberian beras merah, beras putih dan havermut. Perkenalkan maizena (untuk beras dapat memakai tepung beras)
  • SAYURAN: asparagus, wortel, bayam, brokoli, sawi, kembang kol, bit, lobak, kol
  • BUAH: mangga, pir, peach, blewah, timun suri
  • Biskuit bayi
  • DAGING & MAKANAN YG MENGANDUNG PROTEIN: ayam, sapi, hati ayam, tahu, tempe

Yang Belum Boleh Diberikan:

  • IKAN & KERANG
  • SUSU SAPI & PRODUK SUSU OLAHAN

Tipe:

  • olah1-2 macam makanan
  • Semi padat (haluskan dgn saringan kawat, puree, tepung)
  • Soft finger food (8 bln+)
  • Dimasak (kecuali buah tertentu, spt alpukat, semangka dan pisang)

Frekuensi:

  • Makan besar: 2 kali per hari
  • Cemilan: 1 kali per hari
  • ASI: kapan saja bila diminta atau formula umumnya setiap 3-4 jam

Porsi:

  • 3-9 sendok makan serealia, untuk 2-3 kali pemberian makan
  • 1 sendok teh buah, bertahap tingkatkan menjadi ¼ sampai ½ cangkir untuk 2-3 kali pemberian makan
  • 1 sendok teh sayuran, perlahan ditingkatkan menjadi ¼ sampai ½ cangkir untuk 2-3 kali pemberian makan.
  • 1 sendok teh makanan sumber protein, perlahan tingkatkan menjadi 2 sendok makan untuk 2 kali pemberian makan

Sumber: http://www.sehatgroup.web.id

Thursday, July 2, 2009

Mengatasi Anak 2 tahun Susah Makan

Cara Mengatasi Anak 2 tahun Susah Makan :
1. Jika anak sudah 2 tahun. Susu bukan kebutuhan utama jadi stop susunya.
2. Setelah susu berhasil di stop. Berikan nasi lembek dulu mungkin dia kebiasaan minum susu jadi sudah malas mengunyah yang keras-keras. Berikan makanan yang enak tentunya baik dari rasa dan penampilan. Anak juga tahu makanan enak dan tidak enak. Tapi tetep perhatikan gizi dari makanan ya..
3. Buat suasana makan menyenangkan. Jangan terlalu memaksa dan jangan juga kebanyakan bicara seperti : “ayo makan dulu nak”, “ayo buka mulutnya”, “tinggal dikit lagi nih makanannya (padahal masihbanyak)”, “kalo ga makan makanannya dikasih kucing ya”, “sini makannya dihabiskan dulu”. Ga perlu kata-kata itu. Kalo anak sudah senang dan lapar tentunya dia pasti mau makan. Lebih baik ikuti kemana anak pergi. Sambil bercerita tentang sekitar atau apa aja. Sambil suapi dengan telaten.
4. Biarkan anak makan sendiri. Memang berantakan. Tapi anak sedang eksplorasi, belajar menyuap sendiri. Biarkan anak yang control rasa lapar dan kenyangnya. Kalo anak sudah tidak mau makan jangan paksa disuruh habiskan.
5. Sediakan cemilan sehat disekitar anak yang bisa langsung dicomot kalo dia merasa laper tapi sedang asik main.
6. Batasi waktu makan hanya ½ jam. Jangan sampai kelamaan.
7. Sekian dulu tips dari saya.. to be continued kalo ada ide lagi…

Ditulis dan dipraktekkan oleh lutvita

Anak Susah Makan

ditulis oleh : lutvita

Kayaknya topik “Anak susah makan” ini sudah menjadi topik hangat di kalangan ibu-ibu terutama yang balita-nya sangat sulit sekali disuapi. Hal ini dikarenakan di pikiran si ibu anak ini lagi masa pertumbuhan. “golden age” gitu lho, gimana mungkin ga masuk makanan. Tapi kok ya anaknya malah susah makan. Udah disediakan semua lauk pauk bergizi dari mulai ikan salmon, daging giling, wortel, brokoli, bayem, labu,zucini, kabocha, keju, beras merah khusus untuk anak. Dan lain-lain deh. Tapi kok ya udah dimasak penuh perjuangan karena ga bisa masak. Cari resep hasil Tanya sana sini dari ibu2 milist dan browsing. Tapi hiks hiks hiks kok anaknya ga mau makan. Kalo ga di emut. Makanan dilepeh. Atau memalingkan muka…
Tapi kita ga sendirian. Ada sangat banyak anak yang seperti itu, mari kita analisa bersama-sama mengapa anak kita seperti itu ya???
Mungkin :
1. Dia udah kenyang susu, baik UHT atau susu bubuk. Jadi kalo anak mau doyan makan. Stop pemberian susu. INGAT!! Lambung anak sangat kecil. Dikasih susu segelas dipagi hari sudah membuat ia kenyang seharian. Paling laper2 lagi sore. Jadi kalo mau kasih susu siang setelah setelah bangun tidur. Kasih segelas kurleb 200ml dan malam hari sebelum bobo dan sikat gigi. Kasih segelas susu dulu biar agak kenyang karena mau bobo yang panjang ampe pagi.
2. Si Ibu yang menyuapi ini ga rileks dan tenang. INGAT!! Juga kalo anak tidak akan membiarkan dirinya kelaparan. Coba aja ga dikasih susu dan makan. Diamkan saja. Tapi sediain cemilan kesukaannya kayak roti keju, brownies, kue lapis Surabaya disekitar dia. Pokoknya kue enak yang dia suka. Pasti dicaplok kalo laper. Itu tandanya ada rasa laper tapi dia hanya mau makanan tertentu. Nah caranya umpetin semua cemilan enak sebelum makan.
3. Gimana nyuapinnya. Duduk aja bareng2 di depan tivi sambil sediain nasi dan sayur. Alasi Koran supaya kalo dia mau nyuap sendiri ga berantakan. Ajak makan bersama. Ajak anak untuk mencoba dan biarkan dia melepeh kalo ga doyan. Pasti kalo kuah sayurnya lezat dia akan bilang “enakkkk”. Kalo ga enak ya dilepeh. Jangan dimarahi kalo melepeh. Kita katakana aja “ade ga doyan ya makanya dilepeh??” nanti dia tau oo kalo dilepeh itu tanda ga doyan. Kalo dia makan itu tanda dia doyan. Dan itu ga salah, ga ada yang salah dengan hal tersebut. Kita aja kalo nyobain makanan yang dikira daging

ternyata jengkol (dan kita ga doyan jengkol) pasti reflex langsung kita lepeh kan??? Jadi jangan marahi anak karena melepeh makanan karena dia ga doyan.
4. Ga perlu kebanayakan bahas tentang makanan. Biarkan saja ia menikmati makanan sambil cerita-cerita yang ringan2. Kayak cerita barney, Thomas dsb. Ga usah bilang “ayo dihabiskan makannya” “ ayo cepet makananya jagngan berantakan” atau “ayo tinggal dikit lagi (padahal masih banyak)” santai aja. Kita aja ga suka kan makan diburu-buru..
5. Terakhir perlakukan anak dalam segala hal termasuk dalam moment makan seperti kita ingin diperlakukan.. missal kita pengen makan dalam suasana santai, ga diburu2, ga diomel-omelin karena dilepeh dsb…
Ada yang mau nambahin ???

sumber: dari sini

Enam Kesalahan Orang Tua Soal Makanan


Si kecil hanya mau makan ayam goreng saja? Atau hanya mau makan cokelat saja? Tidak mau makan nasi? Tidak suka minum susu? Mungkin inilah akibat kesalahan yang dibuat orang tua dalam mengatur makanan anak. Apa saja kesalahan yang sering dibuat orang tua?

Kecenderungan anak menyukai makanan tertentu atau menolak makanan tertentu diamati oleh Ms. Worobey, Director of the Rutgers University Nutritional Sciences Preschool di New Brunswick, New York. Dalam sebuah wawancara yang ditulis oleh Tara Parker Pope, New York Times, Ms. Worobey menyatakan bahwa urusan makanan anak sudah sangat serius.

Makanan anak bisa membuat masalah kegemukan pada anak juga masalah kekurangan gizi. “Jika anak doyan cokelat, orang tua cenderung menurutinya saja. Karena itu yang membuat mereka nyaman. Padahal cokelat saja tidak cukup nutrisinya buat anak,” demikian koomentarnya.

Kesulitan makan atau memilih makanan tertentu merupakan hal yang wajar dalam tumbuh kembang anak. Apalagi anak-anak merupakan neophobic – tidak suka dengan hal-hal baru termasuk mencoba makanan baru.

Inilah 6 kesalahan umum yang dilakukan oleh orang tua dalam pemberian makanan pada anak-anak:

1. Melarang anak masuk dapur: Dengan alasan ada kompor, api, air mendidih atau peralatan dapur yang berbahaya, orang tua selalu melarang anak-anak masuk ke dapur saat mereka memasak. Padahal dengan mengajak mereka bersama-sama memasak makanan,

anak-anak akan lebih mudah diperkenalkan dengan makanan baru.

Dalam sebuah penelitian di sekolah guru Columbia University terbukti bahwa memasak dengan anak mempengaruhi kebiasaan makan anak. Anak-anak yang ikut pelajaran memasak akan lebih mudah memakan makanannya dibandingkan dengan yang tidak.

2. Memaksa anak mencicipi makanan: Entah dengan paksaan, bujuk rayu atau iming-iming hadiah, orang tua cenderung memaksa anak untuk mencicipi makanan baru. “Cicip dulu dong nanti mama beliin mainan,” demikian bujuk rayu yang dilakukan para ibu. Padahal dari hasil riset terbukti anak-anak yang dipaksa makan makanan tertentu hanya akan makan sekali saja dan kembali tidak menyukai makanan tersebut!

Yang paling baik, biarkan makanan di atas meja, ajak anak untuk mencicipi. Jangan memaksa dan jangan memuji jika ia mau makan. Bersikap netral merupakan yang terbaik.

3. Menyembunyikan makanan: Hal yang paling disukai orang tua, menyembunyikan makanan di lemari, rak atau wadah yang tak bisa dijangkau anak-anak, terutama untuk makanan yang disukai anak-anak. Makin dilarang, anak justru makin menginginkan makanan tersebut. Jadi yang terbaik, jangan membawa, membeli makanan yang tidak baik untuk anak-anak ke dalam rumah. Beli makanan yang sehat yang Anda ingin anak-anak makan lebih banyak.

4. Memberi contoh anak-anak: Orang tua yang tidak suka sayuran akan ditiru oleh anak-anaknya. Anak-anak cenderung mengikuti pola makanan dan memilih makanan sesuai dengan yang dikonsumsi orang tuanya. Karena itu berhati-hatilah jika sedang melakukan program diet agar anak-anak tidak ikut-ikutan meniru cara makan orang tua.

5. Menyajikan sayuran yang membosankan: Bagaimana anak-anak bisa menyukai sayuran jika disajikan hanya berupa sayuran rebus atau sayur bening saja? Orang tua harus mau berusaha sedikit kreatif dengan memberi saus, menumis dengan margarine atau mengolah jadi makanan yang lebih enak dan menarik.

6. Cepat menyerah: Ms. Worobey menyatakan bahwa ia sering sekali mendengar komentar orang tua, “Pokoknya anak saya nggak bakal mau makan makanan itu.” Orang tua lupa bahwa anak akan bertumbuh kembang sehingga kesukaan akan makanan juga akan berubah.

Saat memasuki fase ABG pilihan makanannya akan berubah demikian juga selera makannya. Maka tak ada cara lain, orang tua harus tetap menyediakan makanan baik dan sehat tiap saat di rumah. Jangan putus asa jika anak-anak belum mau menyentuhnya. “Tugas sebagai orang tua adalah memutuskan makanan apa yang perlu untuk anak-anak. Setelah itu santai dan tenang saja. Karena anak-anak berbeda dari hari ke hari sikap dan perkembangannya,” demikian tegas Ms. Worobey.

(dev/Odi) Odilia Winneke
© 2008 detikcom

Awasi Pola Makan Anak Anda


Reporter: Ellyana Nurcahyanti

detikcom – Jakarta, Masih banyak orangtua mengira di dalam makanan serta minuman anak yang mengandung gula tidak tersimpan kadar kalori yang tinggi. Sebaiknya segeralah mengubah pola pikir ini.

Meskipun terbebas dari lemak sekalipun kadar kalori dalam makanan serta minuman masih tetap ada. Perhatikan dosisnya. Jangan sampai berlebihan sebab tidak baik bagi keseimbangan metabolisme tubuh untuk perkembangan dan pertumbuhan anak.

Mengkonsumsi kalori yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dalam bentuk gula, nantinya juga akan tersimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Hal ini membuat kandungan gula atau karbohidrat dalam otak menjadi berlebihan.

Mengurangi kadar gula dalam makanan anak Anda sangat berguna untuk memperoleh tubuh yang sehat dan bebas penyakit. Jauhkan anak Anda dari minuman yang mengandung soda, minuman instant bercita rasa buah, serta aneka minuman yang mengandung pewarna. Karena jenis minuman ini dapat menaikkan kadar gula sebanyak 100 gr sehari.

Wajar adanya bagi seorang anak untuk mengkonsumsi minuman yang mengandung gula lebih dari 1000 kalori sehari. Ini dikarenakan 16 ons dari minuman tersebut mengandung 70 gr gula atau lebih. Dan hal tersebut sama saja dengan kadar gula yang terdapat di dalam 3 potong cake.

Anak-anak pada umumnya gemar mengkonsumsi jus atau minuman yang mengandung rasa buah. Meskipun minuman buah atau jus yang diminumnya itu merupakan jus buah alami tanpa bahan pengawet, namun dapat menjadi sumber kalori dan gula yang sangat besar. Misalkan saja, dalam 12 ons gelas jus anggur, terkandung di dalamnya 60 gr fructose atau gula buah serta lebih dari 200 kalori.

Hingga kini mungkin Anda berpikir bahwa asupan makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh si kecil semata-mata berguna bagi perkembangan serta pertumbuhannya. Namun, semua itu haruslah disesuaikan dengan kondisi kesehatan anak Anda.

Sebaiknya jangan terlalu banyak memberinya makanan serta minuman yang mengandung kadar gula tinggi. Biasakan untuk mengajari anak Anda pola hidup sehat sejak dini.(msh)

sumber : detik.com

Bila anak peaky eater


Jangan biarkan bila anak maunya makan makanan itu-itu saja. Itu namanya anak mengalami peaky eater. Ada dampak buruknya. Jenis makanan itu-itu saja membuat anak tak mendapat aneka zat gizi yang dibutuhkannya.

Bila makan dengan lauk semur ayam dan telur dadar, Vanya (1,5 th) lahap bukan main. Vania sampai senang, hampir tiap harus menyediakannya. Tubuh Vanya montok karena senang makan. “Kalau saya sediakan lauk pauk lain, entah itu daging, ikan, sayur bayam, Vanya nggak suka. Makanannya suka dilepeh-lepehkan. Jadi ya sudah saya bikin semur aja terus dan telur dadar, toh itu juga bergizi ya.” Tapi, yang diherankan Vania, sejak mulai mendapat makanan padat sampai sekarang, Vanya tetap maunya makanan itu-itu saja. “Mulai deh saya merasa repot. Terutama kalau ngajak Vanya bepergian, belum tentu kan ketemu semur ayam atau telur dadar. Akhirnya kalau pergi cuma minum susu atau camilan saja. Ternyata repot deh kalau anak maunya makan itu-itu saja,” lanjut Vania.

Tak hanya repot lho, tapi juga dapat berdampak bunk bagi kesehatan dan selera anak. Apalagi tahun-tahun pertama ini merupakan fondasi anak membentuk selera terhadap makanan. Bila seleranya hanya itu-itu saja, bisa terus menetap atau menyulitkannya beradaptasi dengan makanan baru.

Mengapa Peaky Eater

Anak akan disebut peaky eater bila ia hanya mau makan itu-itu saja. Makanan baru atau variasi makanan sulit diterimanya. Children Nutritional Research Center, Texas, menyebut anak yang mengonsumsi satu jenis makanan saja dalam waktu yang lama atau peaky eating-nya menetap, juga disebut food jag.

Biasanya, menurut peneliti di lembaga tersebut, hal ini terjadi aldbat pemberian makan yang salah. Pada usia-usia pertama mendapat makanan padat, anak sebenamya sedang mengembangkan seleranya akan berbagai rasa. Diberi apapun anak akan menerima dan mencobanya. Adakalanya orangtua seperti Vania yang melihat anak begitu lahap makan berlauk pauk semur dan telur dadar, salah memahami hal ini. Apalagi ketika memberi lauk pauk lain si kecil tak selahap ketika makan semur dan telur dadar, dianggapnya ia cocok dengan lauk itu saja. Sampai, ia terjebak memberinya lagi, memberinya lagi, tahu-tahu si kecil ‘fanatik’ dengan jenis makanan itu-itu saja.

Artinya, pemberian makanan itu sangat besar artinya. Sebab, bila anak sudah terjebak pada makanan yang itu-itu saja, anak makan kehilangan beberapa zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi masa tumbuhkembangnya. Semua orang apalagi anak-anak membutuhkan tuhkan makanan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Makanan bervariasi lah yang hams diterimanya. Dari mulai sayur-sayuran, daging, susu, hingga buah-buahan, harus seimbang. Bila Anda terus biarkan, bisa menjurus ke malnutrisi atau kurang gizi. Sebab yang didapatnya hanya satu dua macam gizi saja, zat-zat zat gizi lainnya?

Yang berperan dalam memerangkap selera si kecil menjadi peaky eating adalah cara Anda memberinya makanan. Selain Anda, adalah orang yang sehari-hari mengasuh anak. Bisa nenek kakeknya, tante omnya, atau pengasuhnya.

Ini sesuai dengan yang diungkap dalam suplemen di Journal of the American Dietic Association, Amerika. Menurutnya, beberapa-temuan dan referensi menunjukkan besarnya pengaruh orang yang mengasuh anak sehari-hari, terutama pengasuhnya. Jika orangtua dan pengaruh biasa makan . kentang goreng (di Indonesia mie instant), atau pengasuh suka jajan bakso, siomay, minum sirup, dsb, maka pelan-pelan selera anak pun akan mengikuti pengasuhnya.

Tak jarang pengasuh membuatkan makanan yang itu-itu raja. Karena dipikirnya si kecil doyan, kenapa harus berubah? Bagaimana pun memberi makanan baru atau berbeda-beda pasti perlu upaya lebih keras. Tapi, apakah Anda harus ‘kalah’ dari pengasuhnya, dan membiarkan si kecil jadi malnutrisi? Mulai sekarang, selain bikinkan menu, juga intiplah apa yang dimasak pengasuh. Siapa tahu berbeda dari pesanan Anda.

Sulit Menerima Perubahan

Anak-anak batita adalah anak-anak yang sulit menenma perubahan. Karena itu kemungkinan menjadi peaky eater sangat bisa terjadi. Namun ada beberapa pakar yang menyebut bahwa, pada suatu saat perut anak akan berubah dan ia akan mencoba-coba makanan baru.

Namun penelitian Children Research Center tidak menghasilkan demikian. Justru karena anak sulit menerima perubahan sehingga selera dan perutnya tak mudah bergeser. Membutuhkan waktu lama bila anak sudah menjadi peaky eating.

Yang paling berpengaruh adalah, jangan biarkan anak mengonsumsi makanan itu-itu saja. Berikan makanan yang bervariasi, ganti-ganti menu setiap hari, itulah bekalnya dalam memahami dan menerima perubahan.

Menormalkan Selera Makan si Kecil

Sudah terlanjur jadi peaky eater? Bukan berarti terus Anda biarkan. Ada cara menormalkannya kok:

• Gantilah Menu-nya tapi siap-siaplah menerima penolakannya. Mula-mula pasti anak akan menolaknya, Anda harus sabar dan menerimanya. Tetaplah bujuk-rayu ia. Tapi hindarkan memaksa ya.

• Bila anak tetap menolak, berikan menu lamanya tapi tambahkan dengan variasi lain. Misal semur ayam ditambah wortel dan buncis. Atau telur dadar dengan irisan bayam. Atau semur ayam dengan oseng-oseng sayuran.

• Perlahan-lahan sisihkan menu lamanya ganti dengan yang baru. Agar anak menerima suapi anak dengan memberinya aneka mainan. Mainan dapat menyibukkannya sehingga tak memperdulikan makanannya. Tinggal disodorkan sambil bilang “aa..”

• Berikan anak makanan yang bervariasi, baik yang baru maupun yang telah dikenal anak.

• Hindarkan memaksa anak menghabiskan makanannya. Baik dengan katakata, maupun ancaman psikologis berupa menunjukkan pemukul misalnya.

Sumber: Tabloid Ibu & Anak

Pencegahan Obesitas Anak

Rekomendasi Pencegahan Obesitas Pada Anak Berdasarkan Usia

Usia

Rekomendasi

0 – 1 tahun

ASI sangat membantu dalam menjaga peningkatan berat badan. Bayi dengan ASI dapat mengontrol kapan ingin mengkonsumsi dan mengikuti keinginannya sendiri ketika lapar.

2- 6 tahun

Sedini mungkin kenalkan dengan kebiasaan yang sehat. Ajak anak untuk lebih aktif dan berikan beragam makanan sehat. Mungkin butuh usaha lebih agar anak dapat menerima beragam makanan, namun jangan menyerah.

7 – 12 tahun

Rangsang anak agar lebih aktif setiap hari, dapat dengan kegiatan berkelompok seperti olahraga atau permainan-permainan sehat lainnya. Ajak anak juga tetap aktif dirumah, melalui kegiatan seperti berjalan, bermain di halaman dan juga ajak mereka untuk terlibat ketika membuat makanan sehat.

13 – 17 tahun

Remaja cenderung menyukai makanan siap saji. Cobalah untuk mengarahkan mereka untuk beralih menyukai makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, serealia. Batasi makanan siap saji dengan kalori tinggi. Ajak untuk lebih aktif setiap hari, jika anak Anda tidak ikut serta dalam klub olahraga, sarankan mengikuti kegiatan yang lebih individual seperti lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain-lain.

Pada segala usia

Kurangi waktu untuk menonton TV, komputer dan video game serta kurangi camilan pada saat melakukan kegiatan tersebut. Berikan makanan sehat sesering mungkin. Coba untuk selalu memberikan buah dan sayuran, dan ajak anak untuk selalu sarapan setiap hari. Tetap rangsang anak untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Namun jangan paksa anak pada satu jenis olahraga atau aktivitas, tapi bantulah mereka untuk menemukan yang mereka suka dan dukung mereka.

Sumber
Overweight and Obesity. www.kidshealth.org

A-Z Gizi Anak

Kalau sudah menyangkut urusan gizi anak, para orangtua sangat peduli. “Apakah anak saya sudah mendapat cukup gizi?”. “Kok, anak saya kurus ya?” Eiit….., jangan buru-buru berkesimpulan.

A= Air susu ibu
Sebenarnya hanya 1% wanita yang benar-benar tidak bisa menyusui. Jadi, setiap wanita bisa memberikan ASI. Persiapan memberi ASI dimulai sejak bayi dalam kandungan. Begitu pula ketika ibu akan bekerja, ASI mulai diperas, dibekukan dan disimpan dalam lemari pendingin (frezeer) beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya.

Pada awal kehidupannya, bayi sering sekali menyusu, sekitar 8-12 kali. Beri ASI saat ia meminta (on demand) agar produksi ASI dan pertumbuhan bayi optimal. Isapan si kecil dan pengosongan tuntas payudara Anda merupakan rangsangan terbaik untuk meningkatkan jumlah ASI.

Yang sering terlupakan adalah ASI bukan hanya sekadar kaya nutrisi, namun ASI adalah materi hidup, yang juga mengandung enzim yang membantu agar pencernaan bayi bisa menyerap nutrisi dengan baik.

B= Besi
Bayi, terutama saat-saat penyapihan, rentan kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia. Para ahli menganjurkan untuk deteksi dini satu kali sebelum usia anak satu tahun lewat pemeriksaan kadar hemoglobin.

Perbedaan penyerapan zat besi oleh tubuh dari berbagai sumber makanan:

  • Penyerapan tinggi: daging, ikan dan unggas cukup
  • Penyerapan sedang: gandum dan kacang-kacangan
  • Penyerapan rendah: sayuran

Untuk meningkatkan penyerapan, kombinasikan makanan kaya zat besi dengan vitamin C, misalnya selipkan potongan tomat dalam bekal roti daging untuk anak.

C= Camilan sehat
Di sela-sela makanan wajib, anak pun butuh camilan. Tetapi repot juga bila anak lebih memilih mengemil daripada makan. Solusinya, sediakan camilan sehat yang setara gizinya dengan makanan wajib. Misalnya, roti dengan selai kacang, kroket keju, biskuit gandum. Hindari camilan manis sejak dini. Namun, saat anak aktif dan memerlukan makanan berkalori tinggi, segelas es krim, puding susu, atau cheesecake akan menambah energi untuk aktifitasnya.

D= Diet
Bolehkah anak obesitas berdiet untuk menurunkan berat badan? Menurut para ahli, diet seperti ini tidaklah dianjurkan karena diet berlebihan ditakutkan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Diet lebih ditujukan untuk membentuk pola makan sehat dan menjaga agar berat badan tidak terus naik. Diharapkan, semakin tinggi anak, berat badan akan menjadi seimbang. Sertakan pola makan sehat dengan aktifitas fisik.

Ajak anak bermain di luar rumah dengan unsur kegiatan: jalan, lari, lompat, tangkap, tendang yang ‘menguras kalori’. Batasi nonton TV/main games kurang dari 2 jam/hari. Yang pasti aktifitas fisik memiliki banyak keuntungan untuk gaya hidup di masa depan.

E= Enyahkan mitos
Masyarakat seringkali lebih mempercayai mitos ketimbang kenyataan. Salah satunya mitos bahwa menyusui akan merusak estetika payudara. Banyak selebriti dunia dan dalam negeri berlomba-lomba menyusui bayinya, dan lihat betapa badan mereka tetap langsing. Intinya, selama pola hidup sehat dijalankan, maka tubuh kita pun akan sehat dan bugar. Jadi, demi memberi si Kecil makanan terbaik, mengapa Anda harus menundanya?

F= Fakta tentang vitamin
Awal tahun 1900-an, ahli menemukan sebuah substansi “vital” dalam makanan, yang belakangan disebut vitamin. Efek kekurangannya cukup fatal, dan pemenuhannya akan memberi banyak keuntungan hingga jutaan orang tua di dunia berlomba memberikan suplemen vitamin untuk anaknya. Namun, makanan kaya vitamin tetaplah menjadi pilihan utama.

Faktanya, jumlah vitamin yang diserap ternyata bervariasi tergantung dari:

  • Keadaan (status) nutrisi anak,
  • makanan yang dikonsumsi sebelumnya,
  • kondisi pencernaan,
  • proses pengolahan,
  • sumber vitaminnya.

Anak diare menyerap vitamin lebih sedikit. Anak yang mengalami operasi pemotongan usus akan kekurangan vitamin tertentu tergantung letak ususnya. Begitu juga sayuran yang direbus terlalu lama akan berkurang kadar vitaminnya, dan sumber vitamin alami lebih baik penyerapannya.

G= Gigi vs tekstur makanan
Banyak orang tidak mengetahui bahwa ada hubungan antara pola makan anak dengan kesehatan gigi. Kepadatan makanan anak harus disesuaikan dengan perkembangan giginya. Anak yang terus menerus diberi makanan dengan tekstur halus membuat perkembangan rahangnya terhambat. Jika perkembangan rahang dan gusi terhambat maka pertumbuhan gigi pun bisa terganggu.

H= Hindari
Saat si Kecil sedang belajar makan makanan padat, hindari mengenalkan makanan manis-manis. Makanan yang mengandung gula pemanis substitusi (sorbitol) juga harus dibatasi karena bisa menyebabkan diare. Sayur atau buah kalengan bisa mengandung natrium terlalu banyak hingga tak baik untuk si kecil.

Beberapa jenis makanan dapat menyebabkan tersedak seperti potongan wortel mentah, buah cherri, permen, potongan sosis, kacang, butiran buah anggur, dan popcorn. Hindari pula si kecil bermain dengan balon, koin, bola-bola kecil, ujung pulpen, tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.

I= Ikan
Ikan laut merupakan sumber omega-3 dan omega-6. Sertakan menu ikan di hidangan anak Anda. Tentu saja pilih ikan yang “aman”, artinya yang tidak memiliki banyak duri halus, misal ikan salem, tongkol/tuna, marlin, kakap, dsb. Selain itu perhatikan jenis pengolahan. Untuk tahap permulaan, sebaiknya pilih masak dengan cara tim.

J= Jangan paksa
Seringkali anak usia 2-3 tahun tak mau makan menu yang disediakan, seiring dengan keinginannya untuk menentukan pilihan sendiri. Saat-saat seperti ini, pemaksaan malah akan mengganggu kemampuan anak untuk memilih dan menentukan kesukaannya. Selain itu, anak yang dipaksa mencoba menu baru, meski diiming-imingi hadiah, ternyata lebih banyak yang menolak makanan dibandingkan dengan anak yang suka rela mencobanya. Anak yang dihukum tidak makan makanan kesukaannya juga malah akan semakin menginginkan makanan tersebut. Tugas orang tua adalah menyediakan makanan sehat, dan biarkan anak memilih dan menentukan sendiri jumlah makanan yang diinginkannya.

K= Kurus?
Benarkah si kecil kurus? Membandingkan berat badannya dengan teman-teman sebaya bukanlah cara akurat untuk memastikan kurus. Sebab ada anak yang memang berperawakan pendek dan ada pula yang tinggi.

Mengukur berat badan selain berdasarkan umur, idealnya berat badan juga dibandingkan dengan tinggi atau panjang badannya. Terkadang si kecil memang punya berat badan lebih ringan dari sebayanya tetapi bila dilihat dari panjang badannya, mungkin ia sebenarnya normal.

Penilaian kurus atau tidaknya seorang anak juga ditentukan oleh banyak hal antara lain tebal lemak dan ukuran lingkar lengannya. Jadi, sebelum anak divonis kurus, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

L= Lemak
Lemak mutlak diperlukan oleh bayi yang relatif makan lebih sedikit daripada anak atau pun orang dewasa. Kebutuhan lemak untuk anak 1-3 tahun adalah 30-40% dari jumlah kalori sehari, sedangkan anak usia 4-18 tahun sebesar 25-35%. Lemak dibutuhkan untuk melarutkan beberapa jenis vitamin, untuk membangun sel termasuk sel saraf, untuk pertumbuhan otak, dan juga sebagai cadangan energi.

M= Menolak makan
Proses makan merupakan hasil interaksi, dan tidak melibatkan anak saja. Jangan salahkan anak bila ia menolak makan, bila faktor lain tak terpenuhi. Misalnya, suasana makan, jenis makanan yang diberikan, cara pemberiannya, stres, temperamen anak dan perkembangan keterampilannya turut berperan. Faktor budaya seperti memberi pisang yang dihaluskan pada bayi baru lahir akan mempengaruhi perkembangan keterampilan makan si kecil. Orang tua yang memaksa anaknya makan padahal ia tak lapar, atau anak yang selalu disuapi juga bisa menjadi salah satu sebab anak sulit makan. Jangan lupakan pula kondisi anak apakah ia sedang sakit atau tidak seperti bayi yang pilek bisa menolak makan karena pernapasannya terganggu.

N= Nutrisi anak aktif
Ketika si kecil mulai bersekolah dan menghabiskan separuh waktu siangnya di sana, ia butuh nutrisi lebih. Mereka butuh menu makan siang yang dapat memenuhi sepertiga dari kebutuhan energi, protein, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium. Tanamkan pentingnya nutrisi bergizi, dan jangan biasakan mengganti dengan jajan. Pastikan ia mendapat sarapan sarat gizi agar dapat belajar optimal. Sarapan yang disarankan adalah segelas susu, satu porsi buah atau sayur, lauk pauk, dan sumber karbohidrat seperti sereal-sarapan roti, mie, atau nasi.

O= Obat penambah nafsu makan
Curcuma sudah diteliti dapat menambah nafsu makan. Kekurangan zinc dapat juga mengurangi nafsu makan. Sebaiknya jangan tergoda untuk buru-buru membeli suplemen yang mengklaim bisa menambah nafsu makan anak, karena belum tentu ia membutuhkannya. Konsultasikan dulu dengan dokter anak Anda.

P= Pilih-pilih makanan
Menurut sebuah studi, picky eaters (anak yang suka pilih-pilih makanan) biasanya diberi ASI kurang dari 6 bulan hingga pemberian ASI lebih dari 6 bulan diharapkan dapat mencegahnya dari pilih-pilih makanan. Studi juga menunjukkan jumlah makanan yang disukai anak tak akan banyak berubah dari usia 2-3 tahun sampai usia 8 tahun. Hingga anak yang sudah terlanjur pilih pilih makanan pada usia tersebut, akan lebih sulit diubah. Jadi, mengenalkan menu baru saat usianya dua hingga empat tahun akan lebih diterima ketimbang setelah usia empat tahun.

R= Rentan sakit
Beberapa elemen nutrisi akan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Yang sudah diteliti antara lain antioksidan seperti selenium, vitamin C, A, E, zinc. Anak yang kekurangan nutrisi lebih mudah sakit. Begitu juga anak yang tidak minum ASI.

S= Sering muntah
Anak yang sering muntah juga akan mempengaruhi status nutrisinya. Ada batasan kapan anak muntah dikatakan patologis, pastinya periksakan dokter.

T= Tidak suka sayur
Kesukaan anak terhadap sayur dan buah dibentuk sejak bayi, terutama ketika ia mulai makan sama dengan orang di sekitarnya. Menurut ahli, anak yang diberi variasi makanan dan sering melihat Anda makan sayuran akan lebih suka sayur. Tawarkan berbagai macam sayur, berulang-ulang dan konsisten, sampai anak Anda mau mencobanya. Cara lain adalah menyelipkan sayuran dalam makanan yang disukainya, misalnya bakso daging yang diberi wortel.

Sebagai ukuran untuk balita, satu porsi sayuran kurang lebih satu sendok makan dikalikan usia dan setengah potong buah segar. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, satu porsi adalah satu potong buah atau satu cangkir sayuran mentah. Dalam satu hari, disarankan seorang anak mengonsumsi dua porsi buah dan tiga porsi sayuran.

U= Utamakan kenyamanan saat makan
Yang satu ini sering terlupakan. Orangtua hanya berpikir, “Hmm, waktu makan telah tiba dan anak harus makan!” Wah, tak perlu kaku begitu. Sebaiknya ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Misalnya mengajak anak makan di teras belakang rumah, di depan ikan mas koki yang berwarna-warni. Anda perlu sedikit “aktif berbicara” mengajaknya berbincang.

V= Variasi menu sehari
Sama seperti Anda, si kecil pun bisa bosan dengan jenis makanan yang itu-itu saja. Ayo sedikit kreatif. Nggak susah kok, tergantung kemauan Anda. Mau cara gampang, buka saja buku aneka resep bubur bayi, atau bertanya kepada orang-orang sekitar.

W= Waktu makan yang teratur
Keteraturan makan perlu diperkenalkan sejak dini. Idealnya anak makan tiga kali sehari dengan dua selingan di antaranya. Membiasakan si kecil makan sesuai jadwal akan membuat pencernaannya lebih siap dalam mengeluarkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang masuk.

X= X-tra hati-hati
Pengukuran berat badan setiap bulan pada bayi dan balita dapat menjadi deteksi dini apakah ia punya masalah kesehatan. Bila berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut sedangkan Anda telah memberinya nutrisi bergizi, hati-hati terhadap kondisi kesehatannya. Beberapa penyakit seperti tuberkulosis dan infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan makan dan berat badannya tak naik-naik. Beberapa masalh hormon, kelainan kromosom juga bisa menyebabkan berat badan dan tinggi badannya tidak naik seperti anak normal lainnya.

Y= Yodium
Meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil, yodium adalah zat gizi vital untuk kecerdasan anak. Sumber utama yodium adalah makanan laut, juga lewat suplementai (misalnya garam beryodium).

Z= Zinc
Zinc atau zat seng sudah terbukti meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah anak dari diare. Kandungannya tinggi pada makanan kaya protein seperti kerang, daging, daging unggas, dan hati, juga pada kacang-kacangan dan produk gandum. Kekurangan zat ini dapat menyebabkan anak kurang nafsu makan dan mudah sakit.

Sumber: Sahabat Nestle

7 Langkah Sukses Makan Si Kecil


1. Makanan jangan terlalu kental, kalau kental Sikecil susah nelan.

2. Jangan masak banyak-banyak, cu

kup Sekitar 2-3 sendok teh.
3. Gunakan sendok bayi.
4. Mulailah dengan ujung sendok lalu sentuhkan ke ujung lidah mungilnya krn cara ini cukup efektif untuk mengenalkan rasa baru.
5. Kalau Si kecil menolak ini karena dia belum terbiasa disuapi dengan sendok atau masih asing dengan aneka rasa yg baru.
6. Jangan pernah berputus asa kalaupun makanannya keluar lagi krn ini tidak selalu berarti si kecil tidak menyukainya, ini terjadi karena otot-otot dan mulutnya belum cukup terampil untuk menelan atau mengunyah.
7. Bersabarlah membiasakan si kecil makan makanan tertentu, cobalah sampai beberapa kali selama beberapa hari. Beri kesempatan padanya untuk “merekam” aneka rasa dalam memorinya, dengan begitu diharapkan ia tidak terlalu “pemilih” makanan nantinya.

Sumber : Artikel Ayah Bunda

Kurangi Junkfood Sekarang !


Oleh Kompas Cyber Media

Cheese burger dan piza memang nikmat. Tanpa kita sadari inilah yang jadi makanan kita setiap hari. Padahal, dua jenis makanan ini, dan junk food lainnya, sangat berbahaya untuk kesehatan kita.

Kita pasti pernah berada dalam kondisi ini: lagi iseng jalan-jalan di mal, perut lapar, pilihan langsung jatuh pada paket hemat yang terdiri atas ayam goreng dan minuman soda. Sedang ada acara ngumpul di rumah, untuk konsumsinya kita pesan satu piza ukuran family. Di lain waktu, kita nonton bareng pacar. Sebelum masuk bioskop kita beli dulu cokelat plus minuman soda. And saat nonton VCD kita ditemani sekantong keripik kentang. Lagi iseng nunggu bus atau habis berolahraga, yang diambil bukan air putih melainkan minuman bersoda.

Kalau pola makan kita seperti ini terus lama-lama berbahaya, lho. Karena makanan yang masuk ke dalam perut kita itu bisa digolongkan sebagai junk food.

Junk food adalah kata lain untuk makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya nih yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Yang paling gampang masuk dalam jenis ini adalah keripik kentang yang mengandung garam, permen, semua dessert manis, makanan fast food yang digoreng, dan minuman soda atau minuman berkarbonasi. Biasanya di makanan yang punya label junk food ini kandungan vitamin, protein, atau mineralnya sangat sedikit. Padahal, semua itu sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh kita.

Kebiasaan kecil

  • Enggak bisa dimungkiri, hidup kita dikelilingi oleh junk food. Perhatikan deh kalau kita lagi jalan ke mal. Lirik ke kiri ada gerai fried chicken, lirik ke kanan ada gerai piza. Terus naik eskalator begitu sampai sudah disambut oleh gerai es krim. Betul-betul penuh godaan.

Sejak kecil pun kita sudah selalu diperkenalkan dengan junk food. Walau dilarang ortu, siapa sih yang tahan dengan godaan makanan ringan berbungkus warna-warni itu. Belum lagi mi instan nan menggugah selera.

“Aku tuh waktu kecil sampai SMP senang banget makan snack semacam Chiki. Sehari bisa satu bungkus. Tetapi sekarang sih walau suka sudah dikurangi,” cerita Ocha, siswa kelas 3 SMA St Ursula, Jakarta. “Aku juga sejak SD suka banget snack seperti itu. Tetapi, setelah gede, udah tahu efeknya, jadi ya dikurangin,” ujar Melody semangat. Walaupun tahu bahayanya, sampai sekarang Melody masih enggak tahan dengan godaan mi instan. “Kalau lagi di rumah, aku suka juga makan mi instan. Apalagi kalau lagi enggak ada makanan. Kebetulan (mi instan) selalu tersedia (di rumah), ya udah dimakan,” ungkap Melody.

Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat macam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu nih, penyakit-penyakit “horor” itu hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit nakutin ini semakin muda saja umurnya. Kalau kita enggak menjaga diri, bukan enggak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kitalah si penderita itu.

“Aku kapok minum minuman bersoda. Dulu sih doyan banget. Sehari bisa dua sampai tiga kali. Apalagi kalau haus di sekolah, ya udah beli aja. Tetapi, karena kebanyakan, lambungku jadi sakit. Waktu diperiksa ke dokter, disangka usus buntu. Setelah diperiksa ulang ternyata lambungku kebanyakan soda,” cerita Melody yang sekarang lebih memilih minum air mineral untuk menghilangkan hausnya.

“Aku sih enggak suka makan snack seperti itu sekarang. Waktu masih kecil sih pernah suka, tetapi karena dilarang nyokap, sekarang enggak suka lagi. Lagian kalau kebanyakan makan snack itu bikin batuk,” cerita Claudia yang lebih memilih bawa bekal dari rumah biar enggak tergoda jajan. Wah, boleh juga tuh idenya.

Kenapa berbahaya ?

  • Kenapa juga ya, sodium, satured fat, dan koleksterol itu berbahaya ?

Sodium banyak ditemukan pada makanan yang kita makan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak lho makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi kalau kita senang yang memakai shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack, keripik kentang, dan mi instan. Sayuran dalam kaleng dan kadang-kadang juga keju mengandung zat ini. Beberapa penyedap, seperti soy sauce (biasanya disediakan di resto Jepang atau Asia Timur), garlic salt, dan onion salt. Eh, kalau kita makan warung bakso atau bakso pinggir jalan, garam meja yang disediakan pun mengandung sodium, lho.

Sodium enggak boleh kebanyakan ada dalam tubuh kita. Untuk ukuran orang dewasa, sodium yang aman jumlahnya enggak boleh lebih dari 3300 miligram. Ini sama dengan 1 3/5 sendok teh. Bila sodium terlalu banyak dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga bisa membuat tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi juga akan berpengaruh munculnya gangguan ginjal, penyakit jantung, dan stroke. Iiih serem ya.

Satured fat berbahaya buat tubuh karena zat ini merangsang hati kita memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat dengan dua cara nih. Ada yang dihasilkan oleh tubuh dan ada yang berasal dari produk hewan yang kita makan. Sebenarnya nih, kita enggak perlu menambahkan kolesterol masuk dalam tubuh karena tubuh kita sudah menghasilkan sendiri kolesterol.

Kolesterol banyak terdapat dalam daging, daging ayam, ikan, telur, butter, susu, dan keju. Sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian sama sekali enggak mengandung kolesterol.

Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat menutup saluran darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh. Waah, ini bahaya banget kalau sampai aliran darah dan oksigen yang masuk ke otak mampat. Oh ya, tingginya jumlah satured fat akan menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker payudara. Kanker payudara merupakan pembunuh terbesar setelah kanker usus. Lemak dari daging, susu, dan produk-produk susu merupakan sumber utama dari satured fat ini.

Selain itu, beberapa junk food juga mengandung banyak gula. Gula, terutama gula buatan, enggak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Paling enggak satu kaleng minuman bersoda mengandung sembilan sendok teh gula. Padahal, kebutuhan gula dalam tubuh kita enggak boleh lebih dari empat gram atau satu sendok teh sehari. Bayangkan kalau kita minum minuman bersoda dua sampai tiga kaleng sehari. Betapa banyaknya gula yang menumpuk di dalam tubuh! Parahnya lagi, minuman bersoda enggak hanya mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya.

Porsi kecil

  • Ada banyak cara untuk mengurangi makanan junk food.

Pertama nih, biasakan sarapan dan makan di rumah. Percaya deh makanan rumah lebih sehat dan bergizi. Jadi, sebelum berangkat sekolah, usahakan sarapan. Begitu pun kalau mau berangkat main. Mending makan dulu, deh. Jadi, begitu sampai di tempat gaul perut kita tidak terlalu kosong. Sehingga keinginan untuk ngemil pun bisa sedikit berkurang.

Kedua, enggak ada salahnya juga sesekali kita melihat kandungan yang ada dalam makanan yang kita beli. Misalnya nih kita membeli satu kantong keripik kentang. Coba lihat di bagian belakangnya pasti ada boks yang menjembrengkan nutrition fact atau kandungan dari makanan itu. Nah, dari situ kita bisa lihat apakah makanan itu sehat atau enggak.

Lihat jumlah gram fat atau lemaknya. Untuk setiap 5 gram lemak dalam makanan itu sama dengan satu sendok makan. Misalnya nih sebuah makanan tertulis memiliki 23 gram itu. Artinya makanan itu mengandung 4,5 sendok makan lemak. Sementara lemak minimal yang baik diserap tubuh adalah 30 persen dari total kalori. Ini bukan berarti kita harus antilemak. Karena lemak itu tetap berguna buat tubuh, tetapi jumlahnya memang enggak boleh banyak. Setelah itu lihat juga jumlah sodium. Beberapa makanan, seperti daging merah, memiliki kandungan sodium yang tinggi.

Ketiga, ambil porsi kecil. Kalau sudah enggak tahan pengin makan junk food, kita bisa meminimalisasi dengan mencicipinya dalam porsi kecil. Misalnya nih, dalam satu paket hemat ada dua ayam, maka lebih baik jika kita bagi berdua dengan teman. Kalau kita membeli es krim, minuman soda atau menu yang lain, pilih juga yang ukuran small atau regular. Oh ya jangan juga tergoda dengan topping atau bumbu tambahan. Ini akan menambah kandungan kalori dalam makanan kita.

Keempat, minum air putih sebanyak-banyaknya. Idealnya kita minum delapan gelas sehari. Kalau bisa sih lebih. Air putih membantu proses pembuangan dalam tubuh kita. Semua racun-racun yang ada dalam tubuh akan lebih mudah dikeluarkan kalau kita rajin minum air putih.

Kelima, banyak sayuran dan buah-buahan. Dua jenis makanan ini tinggi kadar seratnya. Sangat bagus untuk mengimbangi tubuh kita yang sudah kemasukan junk food. Selalu membawa buah-buahan di dalam tas bisa kita jadikan kebiasaan yang bagus tuh. Begitu lapar, kita bisa langsung ngunyah buah. Pilih buah-buahan yang gampang dibawa (enggak perlu dikupas), seperti apel, pir, tomat, pisang, jeruk, anggur, atau strawbery.

Keenam, olahraga teratur. Paling tidak dalam seminggu tiga kali, per harinya sekitar setengah sampai satu jam. Aktivitas tersebut dapat membantu membakar kalori dalam tubuh. Pilihan olahraga sih bebas-bebas saja. Sesuaikan dengan kegemaran kita. Jalan kaki selama setengah jam lebih baik daripada cuma nonton di depan teve.

Setelah mengurangi junk food, kita bisa masuk ke tahap berikutnya. Gaya hidup sehat enggak susah kok. Yang penting kita mengimbangi apa yang masuk dalam tubuh. Yang terutama nih, kita harus banyak-banyak mengonsumsi serat. Serat ini banyak terdapat dalam sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Idealnya kita mengonsumsi 3-5 porsi sayuran. Sementara buah-buahan kita baiknya mengonsumsi 204 porsi. Buah-buahan sangat baik untuk menyediakan vitamin, terutama vitamin C, yang membantu stamina tubuh biar enggak cepat sakit. Bete enggak sih kalau kena hujan sedikit sudah pilek. Atau capek sedikit sudah langsung pusing.

Sumber vitamin C paling banyak ada di jeruk, strawbery, dan semangka. Buah juga sumber karbohidrat, lho. Karena kita masih tumbuh jangan anti juga sama susu dan produk susu lainnya, seperti keju atau yogurt. Jenis tersebut menyediakan kalsium yang cukup buat kita. Kalau kurang kalsium pun gawat, lho. Kita bisa kena osteoporosis atau tulang rapuh. Paling enggak sehari kita mengonsumsi dua sampai tiga porsi golongan ini. Daging-dagingan perlu dikonsumsi juga. Jumlahnya enggak banyak, hanya sekitar dua sampai tiga porsi sehari.

Gimana? Enggak susah kan? Mungkin dalam waktu dekat godaan untuk makan junk food masih besar. Tetapi, pelan- pelan bisa kita kurangi kok. Kesehatan badan lebih penting daripada kenikmatan lidah, kan? *

(Muti Siahaan Tim MUDA)

Kebiasaan Makan Balita Mencontoh Orangtua

Masa mengeluhkan balita yang tidak mau makan sayur atau buah-buahan semestinya sudah lama lewat. Pasalnya, anak-anak dapat dibiasakan mengonsumsi makanan sehat bila mereka melihat orang tuanya melakukan hal yang sama setiap hari. Jadi, cara terbaik untuk mendorong kebiasaan makanan sehat adalah dengan memberi contoh pada mereka.

Cara lainnya agar anak-anak mengikuti perilaku kita di meja makan adalah membatasi porsi makan dan tidak makan berlebihan. Bicarakan tentang perasaan kita apabila kekenyangan, terutama pada anak yang lebih kecil. Misalnya, dengan mengatakan, “Enak sekali ya masakannya. Tapi, Mama sudah kenyang. Jadi Mama udahan dulu makannya.” Sebaliknya dengan contoh yang positif, kebiasaan negatif seperti diet ketat atau mengeluh tentang bentuk tubuh di hadapan balita kita dapat membuahkan perasaan yang sama pada mereka.

Bukannya bernafsu makan, jangan-jangan anak-anak juga menghindari nasi hanya karena ibunya puasa nasi pada saat diet. Maka itu, cobalah melakukan pendekatan positif jika menyangkut makanan. Anak-anaklah yang sebaiknya menentukan apakah mereka lapar, apa yang mereka mau makan dari masakan yang disajikan, dan kapan mereka kenyang, sementara orangtua mengatur makanan apa yang tersedia untuk mereka. Untuk mempermudah tugas Anda, ikuti petunjuk berikut:

  • Jangan memaksa anak menghabiskan isi piring mereka. Dengan melakukannya, anak-anak akan mengesampingkan perasaan kenyang.
  • Jangan menyuap atau menghadiahkan anak dengan makanan. Hindari menggunakan makanan penutup sebagai hadiah untuk memakan makanan utama.
  • Jangan gunakan makanan untuk menunjukkan perasaan sayang. Apabila kita mau menunjukkan rasa sayang, peluk atau pujilah mereka sesekali. Biarkan mereka terlibat dalam perencanaan menu, entah itu untuk bekal makanan mereka di sekolah, atau untuk makan malam. Diskusikan bagaimana caranya membuat pilihan dan merencanakan makanan yang seimbang. Bila perlu, ajak ia membantu berbelanja dan memasak. Dengan melibatkan anak, Anda telah menyiapkan mereka untuk belajar mengambil keputusan yang baik tentang makanan pilihan mereka.
  • Saat di toko, ajari anak untuk melihat label makanan dan uraikan nilai-nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Saat di dapur, pilihkan tugas yang sesuai dengan umur mereka. Usai makan, jangan lupa memuji si koki cilik.

Hindari Anak Dari Junkfood

MENGONSUMSI makanan redah kadar gizi atau junk food tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama di kota-kota besar. Bahkan tak jarang para orang tua malah mengenalkan makanan tidak sehat ini kepada anak-anaknya sejak dini.

Ketika mengajak jalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan, banyak orang tua membelikan anak mereka junk food. Begitu perut lapar, anak-anak langsung diajak menyantap paket menu yang terdiri dari nasi plus ayam goreng, atau burger bersusun tiga ditambah sekantong kentang goreng plus segelas soda.

Padahal dari sisi kesehatan sudah diketahui dengan jelas betapa besar risiko kesehatan yang dihadapi bila mengonsumsi makanan junk food secara rutin.

Seperi dipaparkan DR. Dr Saptawati Bardasono, MSc, Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), junk food dapat dikonotasikan sebagai makanan yang kualitas gizinya rendah atau juga makanan sampah. Makanan ini biasanya dikemas sebagai menu cepat saji dengan menawarkan rasa yang lezat dan membuat ketagihan.

¨Junk food biasanya mengandung padat kalori, lemak dan bumbu-bumbu dengan kadar garam tinggi sehingga menimbulkan sensasi rasa yang sangat lezat di lidah. Ini jelas tidak sehat karena lemak, kalori dan zat-zat lain yang dikandungnya melebihi batas yang ditentukan. Padahal, komposisi makanan sehat itu kan harus seimbang,,¨ terang DR. Saptawati saat ditemui di sebuah hotel Jakarta, Rabu (16/4).

Bila junk food sudah merambah anak anak dan menjadi bagian dari gaya hidup mereka, lanjut Saptawati, maka dikhawatirkan risiko mengidap berbagai penyakit akan mengintai sejak usia dini.

¨Mereka sudah dari awal akan memiliki risiko mengidap berbagai penyakit seperti obesitas. Belum lagi penyakit degeneratif yang akan menyerang ketika dewasa seperti jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, atau jenis penyakit berat lainnya. Oleh sebab itu, anak-anak sebaiknya dihindarkan atau jangan sering-sering mengonsumsinya. Yang lebih baik tetap makanan dengan kandungan gizi dan nutrisi seimbang,¨ tambahnya.

Kalori berlebih
Bila ditelaah, junk food memang layak disebut makanan sampah karena dihitung dari nilai gizi, makanan ini tidaklah seimbang. Sebungkus kentang goreng porsi normal misalnya dapat mengandung 500 kalori, hamburger sekitar 500 kalori, belum lagi bila ditambah minuman soda total kalori satu hidangan bisa melebihi total 2000 kalori.

Rata-rata kebutuhan kalori untuk pria dewasa saja rata-rata hanya 1.900 kalori, sedangkan anak-anak sekitar 1500-1900 . Berarti, makan sekali sajian, belum termasuk minumnya, sudah melewati lebih dari separuh kebutuhan kalori untuk anak-anak.

Junk food juga dapat mengandung kolesterol dan gula yang tinggi. Sementara kandungan nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral justru terabaikan. Yang dikhawatirkan, junk food kemungkinan mengandung zat berbahaya lain seperti bahan pengawet dan zat aditif yang membuat anak ketagihan. Jadi sebaiknya hindarkan anak Anda dari junk food!

Sumber : Kompas

Wednesday, July 1, 2009

Tip & Trik Pemberian MPASI


Makan Yuk Sayang


Berlalunya masa ASI Eksklusif (saat bayi memasuki usia 6 bulan) merupakan momen tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) pada si kecil. Tujuannya tak lain agar keterampilan makan si kecil jadi terlatih. Jadi jangan terlambat memperkenalkannya agar bayi tidak mengalami kesulitan makan karena kemampuan mengunyahnya yang tidak terstimulasi.

Tentu saja MPASI perlu diberikan secara bertahap. Perkenalan awal saat usia bayi 6 bulan mesti dibuka dengan hidangan yang semicair. Seiring pertambahan usia dan perkembangan bayi, tekstur makanannya semakin lama harus semakin kasar hingga akhirnya ia siap mengonsumsi makanan keluarga di usia 1 tahun. Nah, semua ini kami bahas secara lengkap di sini.

Kami berharap buklet ini dapat menjadi inspirasi dalam mengolah menu makanan bayi. Semoga juga tak ada lagi keluhan mengenai menu makanan bayi yang "dituduh" hanya itu-itu saja. Namun yang menjadi harapan terbesar bagi kami adalah agar kita sebagai orangtua dapat memberikan yang terbaik bagi si kecil. Bukan hanya dengan menyajikan hidangan-hidangan yang lezat saja, namun juga bervariasi dan tentu bergizi.

Selamat menjadikan waktu makan menjadi saat-saat paling meyenangkan bagi bayi!

Tip & Trik

PEMBERIAN MPASI

1. Makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi 6 bulan hendaknya dimasak semicair (jangan terlalu kental) sehingga bayi tidak terlalu kaget menelannya mengingat ini adalah "masa perkenalan pertamanya" dengan makanan semipadat.

2. Frekuensi MPASI untuk bayi 6 bulan adalah 1–2 kali per hari. Untuk perkenalan berikan dalam porsi sedikit (cukup 1–2 sendok teh), selanjutnya bisa ditingkatkan seiring bertambahnya minat dan usia bayi.

3. Memasuki 7 bulan, perkenalkan bayi dengan bubur saring dan pure. Gunakan kawat saring agar tekstur makanannya sedikit kasar. Frekuensi pemberian MPASI 2 kali sehari dengan diselingi sajian fingerfood yang lunak di antara waktu makan.

4. Tingkatkan tekstur makanan bayi menjadi lebih kasar pada usia 9 bulan. Pada saat ini, makanan tak perlu disaring lagi, tapi cukup dicincang atau dihancurkan kasar. Cara pengolahannya dengan ditim dari 3-4 bahan dasar yang dapat disajikan secara terpisah atau dicampur. Untuk frekuensi pemberian MPASI bisa ditingkatkan menjadi 2-3 kali per hari dengan selingan di antara waktu makan sebanyak 2 kali per hari.

5. Mengenai urutan pemberian makan padat, mulailah dengan makanan yang paling tidak menyebabkan alergi (kadar protein paling rendah), seperti beras merah, beras putih, dan havermut. Perkenalkan pada bayi hanya satu jenis bahan makanan selama 2-4 hari berturut-turut sebelum memperkenalkan bahan makanan yang lain. Tujuannya untuk memastikan agar bayi tidak alergi terhadap makanan tersebut.

6. Ahli gizi merekomendasikan agar sayuran diperkenalkan sebelum buah, karena buah yang rasanya manis akan membuat sayuran yang rasanya kurang manis menjadi tidak menarik untuk bayi. Untuk si 6 bulan, umpamanya, mulailah dengan sayuran yang rasa-nya hambar seperti kentang, kacang hijau, labu, zucchini, baru kemudian perkenalkan buah seperti pisang, avokad, apel, pir, dan semangka.

7. Buah yang dapat diberikan kepada bayi di awal pemberian MPASI adalah pisang, pepaya, pir, apel, melon, semangka, mangga, avokad, dan jeruk. Sampai usia 7 bulan sebaiknya buah, kecuali avokad, diberikan setelah dikukus sebentar atau direbus dengan sedikit air, lalu dilumatkan menjadi seperti saus dengan atau tanpa susu.

8. Ragam bahan makanan bagi bayi 9 bulan sudah bisa lebih bervariasi. Untuk buah, bisa nanas, kiwi, mangga, dan melon. Sayuran seperti buncis, kacang kapri, kacang panjang, serta labu juga dapat diperkenalkan. Pada usia ini, bayi juga dapat diperkenalkan dengan olahan susu, seperti keju dan yoghurt.

9. Tambahkan sumber zat lemak seperti santan, minyak kelapa atau margarin untuk meningkatkan kalori MPASI. Campuran ini sekaligus untuk melezatkan makanan dan mempertinggi penyerapan vitamin A serta zat gizi lain yang larut dalam lemak.

10. Hindari pemberian gula dan garam karena selain tidak akan menambah nilai nutrisi pada makanan, juga membuat bayi jadi terbiasa dengan standar makanan seperti itu.

11. Hindari memberikan madu pada bayi di bawah 12 bulan. Madu dapat me-ngandung bakteri clostridium botulinum yang dapat menyebabkan terganggunya pencernaan bayi.

12. Demi kepraktisan, banyak ibu mengolah MPASI sekaligus untuk kebutuhan satu hari. Ini bisa saja dilakukan namun simpanlah MPASI tersebut dalam wadah tertutup dan masukkan ke dalam lemari pendingin. Gunakan 1 wadah penyimpanan untuk sekali makan. Beberapa saat menjelang waktu makan, keluarkan hidangan tersebut dari lemari pendingin, lalu hangatkan dengan cara merendamnya dalam wadah berisi air panas.

Sumber : dari sini

Jadwal Pemberian Makanan Bayi

Berdasarkan Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

* 0-4 bulan ASI On demand

* 4-6 bulan (bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur) ASI
Pukul 08.00 (makan pagi) Bubur Susu
Pukul 10.00 Buah segar/biskuit
Pukul 12.00 (makan siang) ASI
Pukul 14.00 (sebelum tidur siang) ASI
Pukul 16.00 Buah segar/biskuit
Pukul 18.00 (makan malam) Bubur susu
Pukul 21.00 ASI

* 6-9 Bulan (Bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur) ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi) Bubur→ nasi tim
Pukul 10.00 Buah segar/Biskuit
Pukul 12.00 (makan siang) Bubur→ nasi tim
Pukul 14.00 (sebelum tidur siang) ASI/PASI
Pukul 16.00 Buah segar/biskuit
Pukul 18.00 (makan malam) Bubur→ nasi tim
Pukul 21.00 ASI/PASI

* 9-12 Bulan (Bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur) ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi) Nasi Tim→ makanan keluarga
Pukul 10.00 Buah segar/biskuit
Pukul 12.00 (makan siang) Nasi tim→ makanan keluarga
Pukul 14.00 (sebelum tidur siang) ASI/PASI
Pukul 16.00 Buah segar/Biskuit
Pukul 18.00 (makan malam) Nasi tim→ makanan keluarga
Pukul 21.00 ASI/PASI

*> 12 bulan

Pukul 06.00 (bangun tidur) ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi) Makanan Keluarga
Pukul 10.00 Snack
Pukul 12.00 (makan siang) Makanan Keluarga
Pukul 14.00 (sebelum tidur siang) -
Pukul 16.00 Snack Pukul 18.00 (makan malam) Makanan Keluarga
Pukul 21.00 ASI/PASI

Semoga Bermanfaat
Jadikan Anak Indonesia Lebih Baik

Sumber: dari sini

Tuesday, April 28, 2009

Menghadapi Kebiasaan Makan Si Kecil

Tidak & Ya

Sebagai orangtua, kita memegang penuh kendali untuk membentuk kebiasaan anak. Kita berhak membiarkan atau melarang anak melakukan sesuatu. Kita pula yang menentukan jenis makanan dan minuman apa yang boleh ia konsumsi, dan mana yang tidak.

Namun, konsep sederhana itu bisa menjadi rumit seiring dengan perkembangan anak. Semakin besar, ia semakin kenal berbagai jenis makanan dan minuman. Apalagi jika ia sudah punya kehidupan sosial sendiri. Sudah bergaul dengan teman seusianya, di taman bermain, atau di sekolah. Di periode ini, biasanya anak mulai bisa memilih makanan yang ia rasa enak dan tidak enak. Yang ia suka dan tidak suka. Di masa-masa ini orangtua sering "kehilangan kendali" terhadap pola makan buah hatinya.

Memang, tak ada salahnya bila sekali waktu kita membelikan Si Kecil es krim, atau memberinya cokelat sebagai imbalan saat ia mencetak prestasi. Namun, bila anak sudah menyukai makanan atau minuman tertentu, ia cenderung lebih sering memintanya. Bahkan, pada satu waktu, permintaan itu bisa berubah menjadi tuntutan. Ia akan meminta dengan paksa pada orangtuanya, dan menolak makanan lain yang tak terlalu disukainya.

Bila ini terjadi, harus diingat bahwa kita sedang dalam proses membentuk kebiasaan hidupnya, salah satunya pola makan. Oleh karena itu, toleransi kita pun harus dibatasi. Jika tidak, bisa-bisa kita membiarkan anak menabung penyakit untuk masa depannya. Yang perlu kita terapkan dalam membentuk pola makan anak tak lain adalah pemahaman, kapan harus berkata "tidak" dan kapan boleh berkata "ya".

Tak mau menghabiskan makanannya

Katakan: Ya. Tak perlu khawatir bila Si Kecil melakukan hal ini. Bisa jadi ia memang sudah kenyang. Bila ternyata ia baru makan sedikit, kita tak perlu menawarkannya makanan pengganti atau susu. Biarkan saja ia bermain hingga merasa lapar kembali. Di usia balita, anak memang tengah mencari pola makan yang cocok dengan dirinya. Yang harus kita lakukan adalah membuat jadwal makan yang teratur untuknya.

"Nafsu makan anak balita memang fluktuatif sepanjang hari. Itu normal. Bila di satu saat ia hanya makan sedikit, maka di saat yang lain, dengan sendirinya ia akan makan banyak. Kewajiban orangtua adalah menyediakan pilihan makanan yang sehat dan sesuai untuk anak," dr. Johanes Candrawinata, MNC, SpGK.

Ingin makan sambil bermain

Katakan: Tidak. Makan adalah aktivitas tunggal. Artinya, ini sebaiknya dilakukan tanpa dibarengi kegiatan lain. Pemahaman ini penting dan perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini, terutama ketika ia mulai bisa makan sendiri.

"Menyuapi anak sambil membiarkannya bermain atau menonton televisi bukanlah hal yang baik. tindakan ini akan membuat waktu makannya jadi lebih panjang. Perhatiannya pun terbelah, sehingga ia tak tahu makanan apa yang masuk ke dalam mulutnya," jelas dr. Johanes, yang juga anggota dewan penasihat majalah Prevention ini. Kebiasaan seperti ini juga berpotensi menjadikan anak tidak mandiri. Bila dibiarkan, bahkan dapat berlanjut hingga ia dewasa.

Memaksa ingin makan sendiri

Katakan: Ya. Melatih anak makan dengan alat makannya sendiri sebaiknya dilakukan sejak ia berusia dua tahun. Ajarkan ia supaya mencuci tangan dulu sebelum makan. Biasakan juga untuk makan di meja makan bersama anggota keluarga yang lain, dengan waktu yang terjadwal. Dalam suasana itu, anak akan belajar dengan melihat kebiasaan makan orangtua dan saudara-saudaranya. Situasi kekeluargaan yang terbangun juga akan meninggalkan kesan yang kuat padanya. Dampak lainnya, anak akan terbiasa makan secara teratur, dan tidak sambil berlarian.

Pilih-pilih sayuran

Katakan: Ya. Jika Si Kecil sering menolak makan sayur, kita harus memikirkan strategi lain untuk membuatnya mau melahap sumber serat itu. Jangan lantas memaksanya untuk menghabiskan sayuran yang tak ia sukai. Bisa-bisa ia trauma dan sama sekali tak mau makan sayur.

Coba tawarkan jenis sayur lain dengan rasa yang tidak pahit, atau agak manis. Bisa juga dengan menyisipkan sayur yang tak ia sukai ke dalam menu makanan favoritnya. Atau, mengolah sayur itu menjadi jenis makanan lain, seperti cake atau roti. Yang pasti, orangtua merupakan teladan paling efektif bagi anak. Jika anak terbiasa melihat kedua orangtuanya melahap sayuran, ia pun akan mengikuti kebiasaan tersebut.

Lebih suka minum susu daripada makan

Katakan: Tidak. Banyak orangtua yang tak mengeluh jika anaknya senang minum susu. Seringkali, mereka justru memberikan susu setiap kali anak memintanya. Terutama jika anak tersebut sulit makan. Masalah akan timbul ketika anak yang berusia di atas dua tahun, terbiasa minum susu lebih dari tiga gelas dalam sehari.

"Susu memang dapat menggantikan asupan gizi yang diperlukan anak dari makanan, sebab kandungan nutrisinya lengkap. Namun, minum susu terlalu banyak akan membuat anak merasa kenyang, sehingga ia tak mau makan sesuai jadwal normalnya," ujar dr. Johanes. Orangtua juga perlu biaya besar bila terlalu sering membiarkan anak minum susu.

Tak suka minum susu

Katakan: Ya. Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan perlu minum susu untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya. Namun, sumber kalsium tidak hanya terdapat di susu. "Jika anak sulit minum susu, coba berikan makanan lain yang berbahan dasar susu sapi. Misalnya, keju tinggi kalsium, yogurt, atau es krim," kata dr. Johanes. Diharapkan, jika anak sudah terbiasa dengan produk-produk makanan tersebut, ia tak akan asing lagi dengan rasa susu.

Selain itu, orangtua juga bisa mencukupi kebutuhan kalsium anak melalui makanan pokok. Buatkan anak menu makanan yang menganndung banyak ikan dan sayuran hijau. "Kalsium banyak terdapat di ikan teri, sarden, atau pepes ikan duri lunak," tambah dr. Johanes.

Hanya mau minuman manis

Katakan: Tidak. Air putih adalah jenis minuman yang wajib dikonsumsi setiap manusia, karena membantu memperlancar proses pencernaan. Sementara minuman manis biasanya mengandung kalori, sehingga konsumsi berlebihan berpotensi meningkatkan berat badan pada anak. Gula juga dapat memicu timbulnya kerusakan pada gigi anak.

Masalah ini bisa disiasati dengan membiasakan anak minum lemonade. Siapkan air putih dalam wadah besar, masukkan potongan dan perasan jeruk lemon serta pemanis buatan tanpa kalori, seperti sucralose. "Secara bertahap, kurangi pemanis buatan, hingga yang ada hanyalah rasa jeruk lemon alami. Hal ini membiasakan anak untuk menyukai air murni lagi," saran dr. Johanes.

Sumber : Prevention

© 2008 - 2009 Kompas