Showing posts with label [Anak] 1 - 3 Tahun. Show all posts
Showing posts with label [Anak] 1 - 3 Tahun. Show all posts

Saturday, July 4, 2009

Beberapa sebab anak terlambat berbicara

Sukses menjalani kehamilan, seorang ibu berhadapan dengan proses melahirkan. Setelah itu dia akan melewati masa menyusui yang diharapkan dapat dilalui dengan baik sesuai program ASI eksklusif selama 6 bulan. Setelah itu mungkin ibu berhadapan dengan banyak hal dan diantaranya adalah keterlambatan anak untuk berbicara. Bila ini terjadi segera kenali penyebabnya dan selesaikan dengan baik. Beberapa tulisan dibawah adalah beberapa alasan mengapa anak terlambat berbicara.

Keterbatasan Pendengaran

Seringkali ditemui kondisi medis sementara maupun kerusakan permanen dalam pendengaran anak. Bila ini terjadi maka tidak heran anak mengalami proses terlambat bicara karena memang dia tidak dapat mendengar dan meniru perkataan orang tuanya.

Perkembangan Otot yang lambat

Beberapa anak mengalami kesulitan melakukan gerakan mulut/rahang cepat untuk mengkombinasikan dan mengkoordinasikan apa yang ingin mereka katakan dengan suara dan bahasa yang harus mulut mereka hasilkan.

Sulit mengerti bahasa orang dewasa

Umumnya anak memang sulit untuk menangkap seluruh informasi yang diberikan oleh orang tua kepadanya. Ini disebabkan biasaya kita berbicara dengan cepat dan menggunakan bahasa yang rumit. Cobalah untuk menggunakan kata-kata sederhana dan berbicara dengan pelan agar anak dapat menangkap kata demi kata.

Kurang berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan anak untuk berbicara didominasi oleh interaksi anak dengan orang lain. Untuk itu perhatikan frekuensi interaksi anak dengan orang lain guna melatih kemampuan komunikasi mereka

Peran Pasif dalam kehidupan sosial

Kebanyakan anak lebih sering ditempatkan dalam posisi "menerima" dan tidak "memberi" dalam hubungannya dengan orang lain.Hal ini mengakibatkan tidak terbiasanya mereka berpartisipasi secara aktif; hal yang dibutuhkan dalam perkembangan bicara mereka

Cara komunikasi "kuno" sudah terlalu nyaman dipakai

Beberapa anak, khususnya dalam hubungan di dalam keluarganya, terbiasa dengan nyaman berkomunikasi menggunakan gerakan,bahasa tubuh maupun bunyi-bunyian saja. Hal ini boleh jadi merupakan cara komunikasi yang efektif di dalam rumah, namun tidak dalam lingkup masyaarakat, di mana anak butuh menggunakan bahasa secara verbal sampai ke tingkat kata-kata yang rumit

Orang dewasa tidak menganggap anak mampu

Banyak orang dewasa tidak melibatkan anak dalam berkomunikasi, karena memiliki pemikiran bahwa anak tersebut belum mampu berpartisipasi aktif ataupun mengerti pembicaraan yang berlangsung.

Orang dewasa bicara atas nama mereka

Seringkali orang dewasa bicara atas nama anak, sehingga mereka kelihatan tidak berbicara. Ini terjadi misalkan ketika ada orang lain yang bertanya nama adik siapa, biasanya orang tua yang menjawabnya. Hindarilah hal ini dan cobalah memberikan kesempatan kepada anak utuk berbicara dengan mengatakan kepadanya “coba sebutkan namanya siapa”

Tidak cukup waktu untuk berbicara

Sering terjadi bahwa dalam suatu proses komunikasi, orang dewasa tidak menunggu cukup lama guna memberi kesempatan pada anak untuk merespon. Kebanyakan anak bersikap pasif dalam berkomunikasi, sepertinya mereka mengerti bahwa mereka tidak akan diberi kesempatan untuk bicara.

Terlalu banyak rangsangan

Sekalipun untuk niat dan tujuan yang baik, seringkali anak di'jejali' dengan terlalu banyak bahasa, sehingga mereka kewalahan. Rasanya seperti anak yang sedang belajar menangkap bola, lalu dilempari beberapa bola sekaligus.

Terlalu banyak bahasa "sekolah"; kurang bahasa yang "komunikatif"

Kebanyakan anak pada awal usianya diajarkan bahasa yang mencakup 'warna', 'angka', yang sebetulnya tidak terlalu bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari. Anak membutuhkan rangsangan bahasa yang sifatnya praktis; mencakup kosa kata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan melatih kemampuan berbahasanya melalui kehidupan sehari-hari.

Terlalu banyak bahasa "pertujukan"; kurang "obrolan" sosial

Kebanyakan anak menggunakan bahasa untuk menunjukkan kemampuannya meniru sesuatu kepada orang dewasa; apakah itu sajak pendek, syair lagu, mengulang cerita yang didongengkan kepada mereka, dll. Hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan untuk 'ngobrol' dan bertanya jawab secara santai, sehingga terbangun hubungan 'pertemanan' dengan orang yang berkomunikasi dengan mereka.

Terlalu banyak bermain sendirian

Tentunya anak belajar banyak melalui permainannya dengan boneka, robot atau mainan lainnya. Namun untuk melatih kemampuan nya berkomunikasi, ia akan membutuhkan juga manusia yang melakukan pembicaraan timbal balik sesuai dengan kemampuan si anak.

Sumber: dari sini

Friday, July 3, 2009

Latihan Ke Toilet

Anak-anak dilatih ke toilet hanya ketika mereka sudah siap. Tidak ada anak yang bisa dilatih sampai saraf yang tepat cukup dewasa, suatu proses yang berada di luar pengaruh orangtua atau dokter yang paling pintar.

Setelah cukup dewasa, prosesnya dikendalikan oleh keinginan anak untuk menurut atau melawan. Selanjutnya ini bergantung pada watak anak, dan keterampilan serta kepintaran si pelatih.

Kebanyakan kesulitan latihan ke kamar mandi sebenarnya bukan suatu masalah, yang disebabkan ekspektasi yang tidak realistis da masihat yang sesat. Tidak mendengarkan yang bermaksud baik tetapi terganggu dengan teman dan keluarga. Jangan mulai terlalu dini, ini akan menimbulkan masalah yang tidak perlu. Ingat, anak itu sendiri memiliki kekuatan untuk pergi ke mana dan kapan menurut keinginannya. Jangan tergesa-gesa, jangan bertengkar, santai saja.

Ke toilet: perkembangan normal
Selama satu setengah tahun pertama kehidupan, tidak ada pengendalian usus besar atau kandung kemih yang baik, hanya refleks waktu ke toilet. Ketika si anak mendekati 18 bulan, refleks ini melemah dan pengendalian saraf sadar mulai mengambil alih.

Tidak ada gunanya melatih ke toilet sampai si anak setidaknya tahu kapan dia basah atau kotor. Dalam bulan-bulan setelah penemuan ini, si anak menyadari kebutuhan ke toilet sebelum air kemih keluar daripada sesudahnya. Terobosan besar ini terjadi antara usia 18 bulan dan 2 tahun, tetapi dengan latihan urin, ada satu kekurangan. Meskipun peringatan diberikan, sistem alarm anak hanya bisa memberitahu lima detik sebelum keluar.

Pada usia 2 tahun, peringatan meningkat dan anda bisa mulai mencatat beberapa keberhasilan. Pada saat ini, pengendalian usus juga akan terbentuk, pada beberapa anak terjadi sebelum pengendalian urin dan yang lainnya setelah itu.

Pada usia 2 ½ tahun, lebih dari 2/3 anak akan sering kencing, mayoritas anak bisa ke toilet sendiri dan memakan celana tanpa banyak kesalahan. Pada usia ini, mengompol di malam hari juga mulai terkendali, pertama si anak perlu dibawa ke toilet pada tengah malam dan kemudian tanpa dibantu. Meskipun kebanyakan anak dilatih buang air kecil dan besar pada usia 2 ½ tahun, keseluruhan prosedur masih dilingkupi dengan rasa keterdesakan yang besar—si anak perlu pergi ‘sekarang’ daripada menyesuaikan dengan orangtua.

Latihan dini ke toilet bukan merupakan tanda intelegensi, sama seperti pertumbuhan gigi awal.

Ajaran kita jelas:
• 18 bulan adalah usia paling awal untu diberikan latihan ke toilet.
• Dua tahun mungkin waktu yang lebih realistis dan jika anda menunda sampai 2 ½ tahun, tidak apa-apa.
• Memaksa anak kecil menyebabkan ketegangan dan ketegangan menyebabkan si kecil menutup semua pembukaan tubuh. Jangan memaksa—santai saja. Anak kecil yang tenang paling mudah dilatih ke toilet.

Keputusan yang harus dibuat orangtua adalah melatih menggunakan toilet atau pispot. Tidak ada jawaban yang benar untuk ini, metode penggunaannya lebih penting daripada benda itu sendiri.

Kebanyakan orangtua mulai dengan mendudukkan anak mereka di pispot, dan kebanyakan kanak-kanak lebih menyukai ini daripada ke toilet. Keuntungan pispot bisa dibawa-bawa, jadi bisa dibawa dari kamar ke kamar. Namun, ada beberapa anak kecil yang mandiri yang ingin menggunakan toilet seperti orang dewasa. Jika kasusnya seperti ini, dudukan toilet anak kecil harus dipasang di samping toilet untuk orang dewasa.

Aturan-aturan mendasar
1. Seorang anak harus belajar duduk di toilet lebih dulu sebelum dia bisa buang air besar di toilet itu.
2. seorang anak harus mengetahui perbedaan antara basah dan kering sebelum dia bisa belajar buang air kecil.
3. seorang anak harus bisa menghasilkan popok kering pada malam hari sebelum anda bisa mengharapkan tempat tidur yang kering.

Rencana Latihan Buang Air Kecil
• Apakah mereka cukup tua untuk mulai belajar?
• Apakah mereka tahu perbedaan basah dan kering?
• Jika karpet anda bisa mengatasinya, gunakan celana?
• Dudukkan anak secara teratur sebelum waktu makan dan ketika anda sendiri pergi ke toilet.
• Jangan memaksa, jangan mengendalikan, berikan dorongan.
• Bila akhirnya terlaksana, perhatikan dan beri pujian.

Anak Laki-laki: mereka sebaiknya duduk atau berdiri?
Beberapa ahli berdebat tentang pro dan kontra apakah anak laki-laki harus belajar buang air kecil berdiri atau duduk. Sejujurnya ini tidak masalah. Jika anda memilih berdiri, latihan buang air kecil sedikit lebih cepat karena dia senang mendengar air gemericik.

Namun, ada beberapa kelemahan. Kanak-kanak pada usia ini cenderung mengalami apa yang saya sebut ‘Sindrom Fireman’—mereka tidak akurat dan menyebarkan air di semua tempat.

Selain itu, beberapa anak menjadi sangat terpesona dengan keterampilan baru ini sehingga hampir tidak mungkin menyuruh mereka duduk. Jadi, anda mendorong latihan buang air kecil tetapi menunda kebiasaan buang air besar. Jika anak anda lebih suka berdiri dan menolak duduk, jangan cemas, ini hanya masalah sementara.

Rencana buang air besar
• Mulai setelah usia 18 bulan ketika orangtua dan anak siap.
• Dudukkan anak tiga kali sehari setelah makan. Buat menjadi menyenangkan. Jangan memaksa. Jangan meributkan pertentangan.
• Setelah anak bisa duduk, beri dorongan emosional yang lembut yang menanam benih keberhasilan dan nantikan dengan sabar.
• Ketika hari besar tiba—beri pujian.

Keterdesakan kanak-kanak
Ketika anda pergi berbelanja dengan seorang kanak-kanak, anda belajar cepat bahwa ketika dia berkata ‘pipis, sekarang,’ berarti sekarang—dan bukan dalam lima menit. Pada usia ini, orangtua dipaksa untuk melupakan kesopanan, membawa si anak ke selokan atau membantunya buang air kecil di dekat kebun bunga. Perjalanan dengan mobil juga sulit, karena sering berhenti. Keterdesakan normal pada kanak-kanak. Sedikit kelembaban dapat terjadi, terutama ketika si anak senang atau asyik bermain. Kecelakaan kecil juga terjadi selama minimal satu tahun.

Mengompol pada kanak-kanak

Rata-rata umur yang tidak mengompol pada malam hari adalah sekitar 33 bulan, tetapi 10% dari anak usia 5 tahun masih mengompol secara teratur. Setelah usia ini, sekitar 15% dari mereka diobati karena kebiasaan ini setelah tahun, sampai menjadi relatif jarang pada remaja. Orangtua dari anak usia 5 tahun yang mengompol harus diyakinkan bahwa, meskipun orangtua lain tidak terbuka menyatakan kenyataan ini, dua anak lain dalam kelas juga menjadi pengompol yang teratur.

Penundaan latihan buang air kecil pada malam hari memiliki hubungan genetic yang kuat. Beberapa studi menunjukkan hapir 70% pengompol memiliki orangta atau saudara dengan masalah yang sama. Pengompol juga umumnya terjadi pada anak laki-laki.

Penanganan untuk anak yang mengompol
- Bila anda mendapati sejumlah popok malam hari yang tetap kering sampai pagi, saatnya untuk melepaskan popok. Pada sebagian besar anak, ini mempercepat latihan.
- Jika pengendalian kandung kemih belum bisa, bawa si anak ke toilet sebelum anda tidur. Ini berhasil bagi beberapa anak dan membantu mereka tetap kering.
- Obat-obatan diketahui membantu beberapa anak tetapi efeknya sementara.
- Bila sudah 6 tahun dan masih mengompol, pasang alarm mengompol. Hasilnya sangat baik.

Sumber: dari sini

SEPATU UNTUK LANGKAH PERTAMANYA

Setiap orang tua di planet ini pasti akan mengatakan bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada melihat bayi anda melangkah untuk pertama kalinya. Ini adalah saat bagi anda untuk mulai mencari sepatu bayi untuk melindungi tapak kaki bayi anda.
Segera setelah bayi anda mulai berjalan, anda harus mulai membeli sepatu untuk bayi anda. Walaupun pada dasarnya bayi anda boleh berjalan tanpa alas kaki untuk belajar keseimbangan, tapi akan lebih baik bila menggunakan sepatu untuk mencegah luka akibat goresan lantai atau benda kasar lainnya. Di dalam ruangan yang dilapisi karpet berjalan tanpa alas kaki baik bagi bayi, tapi di luar ruangan sepatu adalah keharusan. Ketika belajar berjalan dan keseimbangan, berjalan tanpa alas kaki sangat membantu kaki bayi dalam menapak dengan sempurna.

Pikirkan bahwa sepatu bayi tidak sama seperti sepatu orang dewasa atau sepatu anak-anak. Bayi sebaiknya tidak menggunakan sepatu dalam waktu yang lama. Supaya pertumbuhannya tidak terhambat, sering-seringlah ukur kakinya. Idealnya, 3 kali setahun beli sepatu baru. Jangan tunggu sampai ujung kaki anak tertekuk gara-gara sepatunya kekecilan. Ganti sepatu kalau kakinya lecet, karena ia akan menolak dipakaikan sepatu dan jadi susah melangkah.
Jangan memaksa memakaikan sepatu si kakak di kaki si adik, karena pertumbuhan kaki si adik bisa terganggu. Sepatu bekas telah memiliki tapak kaki kakak yang berbeda dengan tapak kaki adik. Tapak kaki yang tidak sesuai ini mengganggu cara berjalan si adik. Ini bisa menjadikan kebiasaan berjalan si adik tidak benar.
“Memakai sepatu tidak seperti memakai busana. Memakai sepatu harus yang pas dan sesuai kebutuhan. Sepatu yang tepat dapat membentuk perkembangan tulang dan otot yang baik. Bahkan dapat mencegah timbulnya problem kaki yang dapat memengaruhi seseorang seumur hidup. Kelainan bisa timbul dari kaki, lutut, panggul sampai tulang belakang,” tutur Meidy H. Triangto SpRM, dokter spesialis rehabilitasi medik dari Pusat Rehabilitasi Kaki Anak Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Perlu diingat, tak setiap sepatu untuk bayi cocok untuk bayi itu sendiri. Saat membeli sepatu bayi, ajak bayi anda dan mencobakan di kakinya. Beberapa syarat sepatu ideal untuk Si Kecil:

Bahan

  • ringan agar langkahnya tidak terhambat
  • kuat untuk melindungi kakinya (jangan terlalu tipis)
  • memiliki pori-pori (breathable). Contohnya kulit atau kanvas, dan bukan plastic. Bahan yang berpori memungkinkan terjadinya sirkulasi udara sehingga kaki-kaki si kecil tidak mudah panas

Model

  • dapat mengalihkan berat badan ke lantai secara efektif
  • harus dapat memberikan dukungan yang baik untuk tungkai dan bukan merupakan suatu tahanan yang besar
  • tak menghalangi fisiologis pergelangan kaki anak
  • hindari tekanan yang dapat memengaruhi gerak tubuh, akselerasi, dan keseimbangan
  • hindari tekanan pada punggung kaki, terutama bagi anak yang memiliki punggung kaki lebar dan tinggi
  • tak mudah lepas. Sepatu terpasang dengan baik pada kaki atau pas di kaki
  • tidak bertali karena bila sepatu bertali dikawatirkan talinya lepas saat bayi berjalan
  • ujung sepatu tak runcing/menyempit yang membuat gerak jari-jarinya terhambat

Alas/Sol

  • sol/tumit jangan tinggi karena akan membuat kaki bayi cenderung ke depan dan menekan jari-jari kaki
  • sol datar untuk memudahkan bayi yang baru dapat berjalan
  • sol lentur. Cara memilihnya mudah, jika sepatu dapat dengan mudah ditekuk sedikit (jangan terlalu keras menekuk hingga membuat sepatu terlipat), berarti Anda telah memilih dengan tepat. Bayi tumbuh lebih cepat dari apa yang anda bayangkan, sehingga sepatu bayi harus cukup untuk menampung pertumbuhan kakinya
  • sol lembut dan bertekstur. Bila solnya keras maka kaki bayi tak mendapat tekanan/rangsangan dari bawah. Ini tak membuatnya terlatih dan mudah terjatuh

Ukuran

  • tumit si kecil harus menempel dengan baik pada sepatu
  • tak terlalu sempit/longgar. Caranya: lebihkan sedikit- 1,5 sampai 2 cm- di bagian ujung sepatu atau minta anak menggerakkan ujung kakinya

Kaus Kaki

  • tak terlalu ketat, karena dapat mengganggu peredaran darah dan kaki akan mengikuti bentuk kaus kaki
  • sebaiknya beri kaus kaki dari bahan katun agar mudah menyerap keringat. Sirkulasi udara dalam sepatu pun akan lebih baik

dari berbagai sumber

TIPS MEMULAI TOILET TRAINING

Melatih si kecil toilet training pada saat yang tepat, memang butuh kesabaran, Berikut ini tips memulai toilet training agar berhasil:

1. Gunakan kursi jamban di lantai

Kursi jamban lebih aman bagi anak-anak, karena kakinya menapak lantai, sehingga orangtua tidak perlu kawatir si kecil terjatuh.

Jika memutuskan meletakkan kursi jamban di atas kloset, gunakan sandaran kaki untuk pijakan si kecil.

2. Anak harus diperbolehkan menggunakan kursi jambannya untuk mainan

Duduk di atasnya dengan pakaian lengkap dan bagian bawah terbuka. Dengan cara itulah dia bisa membiasakan diri menggunakan kursi jambannya.

3. Jangan mengikat si kecil di kursi jamban

4. Awali dengan latihan BAB dulu

Sebab anak-anak lebih bisa belajar pergi ke kursi jamban untuk BAB sebelum BAK.

5. Gunakan kata-kata khusus untuk BAB dan BAK

Misalnya pipis dan eek. Dengan begitu, si kecil akan menghafal dan menggunakannya untuk memberitahu saat ia ingin BAK atau BAB.

6. Hindari menggunakan kata-kata negatif

Seperti kotor, nakal, busuk/pesing untuk istilah yang terkait dengan BAB/BAK. Juga, gunakan nada yang biasa saat bicara tentang BAB/BAK.

7. Tenang saja jika si kecil turun dari kursi jamban sebelum BAB/BAK

Jangan tunjukkan kejengkelan. Coba lagi nanti. Jika berhasil menggunakan kursi jambannya dengan benar, berikan pujian/hadiah dalam bentuk senyuman, pelukan atau tepuk tangan pelan.

8. Anak-anak belajar dari meniru

Akan membantu jika si kecil duduk di kursi jambannya saat Anda menggunakan toilet.

9. Anak-anak sering mengikuti orangtua ke kamar mandi

Ini mungkin tanda bahwa anak sudah mau menggunakan kursi jambannya.

10. Sejak awal, ajari si kecil BAK sambil duduk/jongkok

Sebab, sulit bagi anak untuk mengendalikan otot-otot sistem perkemihan dengan berdiri. Anak lelaki akan berusaha berdiri untuk BAK ketika melihat anak lelaki lain BAK sambil berdiri.

Sumber: Bunda edisi 256

TANDA SIAP TOILET TRAINING

Ketimbang memperhatikan usia, orangtua sebaiknya lebih memperhatikan tanda-tanda kesiapan si kecil dalam menjalani toilet training.

Berikut tanda-tanda tersebut:

  • mampu berjalan sempurna untuk duduk di potty
  • bisa memberitahukan kalau ingin pipis atau BAB
  • mampu mengontrol otot-otot yang digunakan untuk pipis dan BAB
  • menunjukkan ketidaknyamanan ketika celananya basah atau terkena kotoran
  • minta ganti celana ketika ngompol atau pup
  • senang meniru yang dilakukan orangtua atau anak yang lebih besar
  • mengikuti orangtua atau kakak ke kamar mandi dan melihat cara menggunakan toilet
  • ingin melakukan hal-hal untuk menyenangkan orangtua atau memperoleh pujian dan hadiah
  • tidak ngompol saat tidur siang atau malam
  • bisa duduk tenang dan bermain dalam keadaan diam selama 5 menit
  • bisa membantu mengenakan atau melepas pakaian sendiri
  • ingin menaruh mainan dan barang miliknya yang lain ke tempatnya
  • menunjukkan kebanggaan ketika berhasil mencapai suatu prestasi
  • sudah BAB secara teratur pada waktu tertentu setiap hari
  • kotoran yang keluar saat BAB sudah terbentuk sempurna
  • saat BAK, jumlah urin yang keluar cukup banyak
  • tidak sedang mengalami situasi yang membuat stres, seperti penyapihan dan kelahiran adik baru. Tunggu sampai stres berlalu (biasanya 4-6 minggu)

Sumber: Bunda edisi 256

CADEL TIDAK HILANG SENDIRI

Ada beragam variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut “r” jadi “l”, “k” jadi “t”, “k” jadi “d”, atau “s” dengan “t” sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.

Memang, semestinya pada rentang usia prasekolah, anak sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda. Jadi wajar meski usianya sama, tapi masih ada anak yang cadel.

Sayangnya, cukup sulit mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak. Karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata.

Kerusakan pada area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan pada area wernicke disebut sensori aphasia dimana anak dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata orang lain.

Tak hanya itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan pada rentang usia 3-5 tahun, kemampuan anak masih berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. Ia tengah berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbendaharaan kata, meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk juga penguasaan konsonan.

Kendati demikian, orangtua sebaiknya tidak membiarkan kecadelan anaknya, karena semakin lama akan semakin sulit diluruskan, sehingga bisa jadi si anak akan terus berada dalam kecadelannya. Apalagi, cadel tak akan hilang secara otomatis meski kadar keseringannya berkurang. Jadi, berikanlah stimulasi agar cadelnya tak berkelanjutan.

Bila cadel dibiarkan, maka di usia sekolah nanti, dapat menyebabkan anak merasa berbeda dengan teman-temannya. Buntutnya, anak menjadi malu dan merasa asing dari orang lain. Bisa-bisa ia tak mau bila disuruh berbicara di depan kelas karena takut ditertawakan teman-temannya. Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri. Terakhir, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga diri si anak, yang dapat berlanjut ke konsep diri. Bila sampai terjadi seperti itu, tugas orangtualah untuk membangunkan harga diri anak agar ia tak minder. Caranya dengan menonjolkan kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri.

4 PENYEBAB CADEL & CARA MENGATASINYA

1. Kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah

Kemampuan mengucapkan kata-kata, vokal dan konsonan secara sempurna, sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah. Untuk mengucapkan konsonan tertentu, seperti R, diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir.

Cara mengatasi:

Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan ucapan yang benar. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktu kematangannya untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya. Lakukan pula kerjasama dengan guru, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal.

2. Kelainan fisiologis

Cadel yang disebabkan kelainan fisiologis, jumlahnya sangat sedikit. Penyebabnya dibedakan menjadi 3 yakni:
* Gangguan pada bagian pendengaran
Gangguan ini dapat berupa adanya kerusakan atau ketidaksempurnaan pada organ-organ yang terdapat di telinga, sehingga bisa mempengaruhi pendengaran. Akibatnya, informasi yang diperoleh tidak lengkap sehingga berdampak pada daya tangkap dan tentunya juga mempengaruhi kemampuan berbicaranya.
* Gangguan pada otak
Ada beragam yang dapat dikategorikan sebagai gangguan pada otak. Diantaranya adalah perkembangan yang terlambat, atau karena penyakit yang diderita seperti radang selaput otak, atau kejang terus-menerus. Beragam gangguan ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak sehingga berdampak pada gangguan bicara. Salah satunya adalah cadel.
* Gangguan di wilayah mulut
Gangguan ini disebabkan adanya kelainan pada organ-organ di mulut (langit-langit, lidah, bibir, rahang, dan lain-lain). Misal, bibir sumbing, langit-langitnya terlalu tinggi, lidah yang terlalu pendek, rahang yang terlalu lebar, terlalu sempit, atau memiliki bentuk yang tidak proporsional. Namun umumnya kelainan pada organ mulut ini sangat jarang terjadi.
Cara mengatasi:
Kelainan fisiologis dapat diatasi, tergantung berat ringan penyebabnya. Umumnya bila penyebabnya termasuk katagori berat, maksudnya penyakitnya tak dapat disembuhkan atau kelainan organnya tak dapat dikoreksi, maka bisa menjadi cadel yang menetap. Namun bila tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.

3. Faktor lingkungan
Misal, karena meniru orangtuanya. Banyak orangtua yang menanggapi cadel anaknya dengan kecadelan pula. “Jangan naik pagel (pagar, Red).” Akibatnya, malah bisa membuat anak jadi terkondisi untuk terus bicara cadel. Padahal saat anak belajar berbicara, ia bisa mengucapkan suatu kata tertentu karena meniru. Nah, kalau orangtua atau orang-orang yang berada di lingkungan terdekatnya berkata cadel, ia akan berpikir, itulah yang benar. Jadilah ia cadel sungguhan. Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). Kemungkinan, anak tak pernah mendengar dan belajar bagaimana seharusnya mengucapkan konsonan tertentu.
Cara mengatasi:
Orangtua harus menghentikan kebiasan berkata cadel dan melakukan koreksi. Amati dengan jeli. Contoh, bila hari ini bisa namun keesokan harinya tidak bisa, maka tugas orangtua segera mengoreksi dengan menyebutkan yang sebenarnya. Mintalah kepada anak untuk mengulanginya beberapa kali. Namun, jangan memaksa. Berikan penghargaan bila ia kembali mampu mengucapkannya dengan baik. Jika orangtua memang cadel, mintalah orang-orang yang berada di lingkungan terdekat untuk memberikan stimulasi kepada anak.

4. Faktor psikologis
Contoh, untuk menarik perhatian orangtuanya karena kehadiran adik. Yang semula tidak cadel, tiba-tiba menjadi cadel karena mengikuti gaya berbicara adiknya.
Cara mengatasi:
Orangtua harus menunjukkan bahwa perhatian kepadanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orangtua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat.

MENCEGAH CADEL

Demi menghindari timbulnya cadel, rajin-rajinlah memberikan stimulasi pengucapan yang benar. Paling lambat saat anak berusia 2 tahun. Jangan gunakan bahasa dengan pengucapan yang cadel. Jangan mengganti bunyi “s” dengan “c” atau “r” dengan “l”, dan lain-lain.

Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu dalam berbicara. Ini kerap dilakukan tanpa disadari oleh orang dewasa dengan alasan memudahkan. Yang paling sering adalah konsonan “R”, semisal “pergi” jadi “pegi” atau “es krim” jadi “ekim”.

Sumber: http://pembelajaran-anak.blogspot.com

KEBUGARAN ANAK 2-3 TAHUN

Anak-anak usia 2-3 tahun belajar berbagai macam gerakan dasar seperti berjalan, berlari, menendang, dan melempar. Anak-anak di usia ini sangat aktif secara alami, jadi berikanlah mereka kesempatan untuk terus berlatih dan membangun keahlian ini. Dengan mendukung anak anda untuk terlibat dalam kegiatan bermain, anda juga membantu anak anda tetap fit di masa kini dan di masa yang akan datang.

Seberapa banyak yang diperlukan? Berdasarkan National Association of Sports and Physical Education, setiap balita harus:

  • mendapatkan paling sedikit 30 menit kegiatan fisik terstruktur (dengan pengawasan orang dewasa)
  • mendapatkan paling sedikit 60 menit kegiatan fisik tidak terstruktur (bermain bebas)
  • tidak non aktif selama 1 jam dalam 1 waktu (kecuali untuk tidur)

Apa yang Anakku Lakukan
Ketika anda berpikir agar balita anda aktif, sangatlah penting untuk memahami apa yang anak anda dapat lakukan dan keahlian apa yang sesuai dengan usia anaknya. Untuk balita usia 2 tahun, anak mestinya sudah dapat berjalan, berlari, dan melompat di tempat dengan dua kaki. Di usia 3 tahun, kebanyakan anak-anak dapat berlari dan melompat dengan baik. Sebagai tambahan, anak anda dapat belajar keseimbangan dengan satu kaki, memanjat dengan baik, menendang bola ke depan, melempar bola, dan mengayuh sepeda roda tiga.

Ingatlah beberapa keahlian tersebut untuk mendukung anak anda supaya menjadi aktif. Bermain secara bersama dan menyediakan mainan yang sesuai dengan usia anak seperti bola, mainan bongkar pasang dan mengendarai sepeda.

Ada beberapa program mommy-and-me untuk mengenalkan anak berguling, berdansa, dan gerakan-gerakan yang umum. Tetapi anda tidak mesti mendaftarkan anak anda pada program formal untuk membantu perkembangan keahliannya. Hal yang penting adalah anda mendukung aktifnya anak anda dengan menyediakan sebanyak mungkin kesempatan untuk aktif di lingkungan yang aman.

Tips Kebugaran Keluarga
Berjalan, bermain, menjelajah halaman belakang atau menggunakan perlengkapan taman bermain yang ada di taman, bisa digunakan sebagai sarana untuk bersenang-senang dengan keluarga.

Banyak sekali jenis permainan yang dapat dimainkan bersama anak anda yang memberikan kesempatan untuk bersenang-senang dan juga kebugaran untuk anda dan anak anda, seperti :

  • berjalan seperti penguin, melompat seperti katak, atau meniru gerakan binatang lain
  • duduk berhadapan dan saling memegang tangan, mengayun ke depan dan belakang sambil bernyanyi “Row, row, row your boat”
  • lengkungkan pinggang dan sentuhlah tanah. Berjalan maju dengan tangan anda seperti traktor.
  • Duduk di atas tanah dan biarkan anak anda melompati kaki anda, atau buatlah jembatan dengan menggunakan tubuh anda, dan membiarkan anak anda merangkak di bawahnya.
  • Bermain mengikuti pemimpin yang di depan “Ring around the rosy” atau permainan yang sejenis
  • Mendengarkan musik dan menari bersama

Kesempatan yang ada tidaklah berakhir, cobalah untuk kreatif, atau mengikuti arus anak anda. Dan juga batasi waktu yang dihabiskan anak anda untuk menonton TV (termasuk menonton DVD atau video) dan menggunakan komputer.

Jika Anda Peduli dengan Kebugaran Anak
Jika balita anda menolak untuk bermain atau berinteraksi dengan sesama, atau jika anak anda mengeluhkan sakit selama bermain, ada baiknya anda dapat berkonsultasi dengan dokter anak anda.
Anak-anak yang aktif pada usia ini dapat terus aktif selama hidupnya. Dan dengan menjaga kebugaran dapat meningkatkan kepercayaan diri, membantu mempertahankan berat badan yang sehat, dan mengurangi resiko mengidap penyakit serius; seperti tekanan darat tinggi, diabetes atau penyakit jantung.

Sumber: http://www.sehatgroup.web.id

SENAM UNTUK SI SATU TAHUN

Berikut ini lima gerakan untuk anak usia 1 tahunan yang direkomendasikan, dan contoh permainan sederhana yang bisa merangsang anak melakukan gerakan tersebut. Begitu sederhana, mudah dilakukan, dan akrab dengan keseharian si kecil!

1. Merangkak

Amankan ruang keluarga atau kamar si kecil dari benda-benda berbahaya. Biarkan ia merangkak sesukanya, atau ajak bermain “kucing mengejar tikus.” Bergantianlah menjadi kucing yang merangkak-rangkak mengejar tikus.

2. Berguling

Hamparkan karpet tebal atau kasur tipis di lantai. Saat anak berbaring-baring di atasnya, berbaringlah di sisinya juga dengan jarak agak jauh darinya. Panggil nama si kecil, dan katakan kita akan datang (“Dion, Mama dataaaang!”), lalu bergulinglah perlahan mendekat ke arahnya. Lakukan beberapa kali. Biarkan si kecil menirukan.

3. Berayun

Ajak anak bermain “kuda goyang”. Ambil posisi merangkak di sebelah anak, dan ayun-ayunkan tubuh ke depan-ke belakang. Biarkan si kecil menirukan.

4. Memanjat

Berbaringlah di atas karpet tebal atau kasur tipis di lantai. Tawarkan, “Mau main mendaki gunung?” Biarkan anak memanjat tubuh kita dari arah yang ia sukai. Nyanyikan lagu “Naik-naik ke puncak gunung” untuk menyemangati.

5. Berjalan

Buat anak yang baru belajar berjalan, mungkin inilah “senam kaki” yang paling menyenangkan sedunia: melangkah tanpa rasa takut, dituntun ayah atau ibu, berkeliling-keliling rumah atau taman.

Jika memungkinkan, putarkan musik selama bersenam dengan si kecil, supaya suasana semakin ceria dan penuh semangat. Musik juga akan memperkaya pengalaman ritmis anak.

Alat-alat bantu seperti: terowongan, matras, balok keseimbangan mungkin baru diperlukan saat anak berusia 2 tahun. Tapi jika sudah tersedia dan anak tertarik, biarkan ia mencoba dengan bantuan kita.

Sumber: http://parentsguide.co.id

MAINAN ANAK 2-3 TAHUN

Kemampuan anak semakin matang. Kegiatan sebelumnya tetap mengasyikkan buat si kecil. Selanjutnya, Anda dapat menambahkan stimulan dengan:

  • aktivitas bersama. Membaca buku bersama, mengerjakan pekerjaan rumah, berolahraga, dll
  • menulis di pasir. Berikan batang kayu sebagai alatnya
  • membuat gelembung sabun. Biarkan anak yang mengocok air sabunnya dengan pengocok telur
  • playdough. Ajari anak cara membuat bulatan, lempengan, gulungan, dan mulailah menyusun
  • menggunting. Berikan kertas bekas daun atau bahan lainnya dengan berbagai ketebalan
  • menggambar bentuk. Mulailah dengan mengajarkan menggambar lingkaran, kemudian tambahkan mata dan senyum, lalu lanjutkan dengan bentuk-bentuk lain yang sederhana, sudah dikenal dan menarik bagi anak
  • melompat. Alangkah menyenangkannya aktivitas ini. Anda bisa menyediakan halangan kecil untuk dilompati atau sekedar membiarkannya berlompatan di atas ranjang
  • berdiri dengan 1 kaki. Dia bisa melakukannya untuk beberapa detik
  • bercerita. Bimbinglah anak bercerita pada orang di sekitarnya tentang hal-hal yang baru saja dialaminya. Yang sederhana seperti sarapan paginya, atau yang istimewa seperti acara jalan-jalan dan berliburnya
  • kenalkan arah. Kanan, kiri, atas, bawah, depan dan belakang. Anda bisa mengajarkannya setiap saat. Saat menunjukkan tempat mainan yang dicarinya, saat menyusuri jalan dll
  • rumah-rumahan. Anda bisa menggunakan kolong meja atau sprei yang dijadikan tenda. Lengkapi dengan perabotan tiruan untuk memperkaya imajinasinya
  • berhitung. Perkenalkan angka 1-5. Jika ia mampu menyebutkan secara urut dan mengenali tiap lambangnya, Anda bisa melanjutkan hingga 10
  • meronce. Sediakan aneka bentuk dan warna dan beritahu cara memasukkan benang ke lubang masing-masing benda tersebut
  • bermain dengan teman. Si kecil menunjukkan minatnya pada anak lain. Dia menjadi lebih kooperatif dalam bermain dengan anak lainnya. Dia menyukai bermain dengan mereka. Ajarkan cara berbagi, bergiliran, meminjam barang dan bermain bersama
  • mengenali jenis kelamin. Sampaikan padanya apakah dia laki-laki/ perempuan, bagaimana cara mengenali seseorang laki-laki/ perempuan. Anda bisa memulianya dengan memperkenalkan sebutan yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Misalnya ada ayah dan ibu, kakek dan nenek, om dan tante dll
  • sepeda roda 3. Dia sudah dapat mengayuh di usia ini

Bahan Pendukung: http://yudhistira31.wordpress.com

MAINAN ANAK 1-2 TAHUN

si Kecil mulai berusaha menjadi individu yang mandiri. Ia semakin terampil berjalan sendiri, bahkan selalu mencoba mengambil sendiri benda yang menarik perhatiannya. Tetaplah kreatif menggunakan mainan yang sudah ada untuk membantu si kecil memulai langkah pertamanya, mengungkapkan kata pertamanya, mengenal bentuk dan warna serta belajar membuat sesuatu.

Mainan tambahan untuk usia ini dapat berupa:

  • aneka puzzle. Mulailah dari yang sangat sederhana, misalnya hanya terdiri dari 4 potong puzzle. Jika ia telah menguasainya Anda dapat memberinya puzzle yang lebih banyak jumlah potongannya
  • arena panjat mini. Mainan ini memberi kesempatan anak memanjat, menaiki tangga, meluncur dengan aman sesuai bentuk dan tinggi tubuhnya
  • kanvas besar. Keinginan anak mencoret-coret menggunakan krayon dalam genggamannya semakin besar. Anda dapat menempelkan kertas di lantai atau dinding dan memberi kesempatan padanya untuk mencoret-coret sesuka hatinya
  • kendaraan yang dapat ditumpangi. Menaiki kendaraan yang dapat bergerak menjadi pengalaman mengasyikkan si kecil Anda. Di usia ini, anak memang belum bisa diharapkan mengayuh kendaraannya sendiri. Ia memerlukan bantuan Anda untuk mendorong
  • finger paint. Biarkan anak berekspresi dengan tangannya. Ada banyak bahan yang bisa digunakan, bahkan makanan seperti es krim :)
  • bergerak mengikuti suatu irama/hitungan. Ajaklah si kecil bertepuk tangan, menggeleng, berputar, melompat dll secara teratur mengikuti irama
  • menyebutkan nama benda. Ejakan nama tiap-tiap benda per suku kata agar anak dapat mengikuti. Sertai dengan ekspresi lucu dan khas untuk masing-masing benda agar mudah diingat dan suasana belajar jadi menyenangkan. Misalnya, “ini mo-bil, brum-brum”
  • klasifikasi. Libatkan anak saat membereskan mainan atau mengangkat cucian untuk mengenal klasifikasi jenis benda, warna, fungsi dll
  • ketrampilan tangan. Beri anak aneka kertas bekas untuk semakin trampil meremas, menyobek, menjepit dll

Bahan Pendukung: http://yudhistira31.wordpress.com, http://www.kafebalita.com

Thursday, July 2, 2009

Mengatasi Anak 2 tahun Susah Makan

Cara Mengatasi Anak 2 tahun Susah Makan :
1. Jika anak sudah 2 tahun. Susu bukan kebutuhan utama jadi stop susunya.
2. Setelah susu berhasil di stop. Berikan nasi lembek dulu mungkin dia kebiasaan minum susu jadi sudah malas mengunyah yang keras-keras. Berikan makanan yang enak tentunya baik dari rasa dan penampilan. Anak juga tahu makanan enak dan tidak enak. Tapi tetep perhatikan gizi dari makanan ya..
3. Buat suasana makan menyenangkan. Jangan terlalu memaksa dan jangan juga kebanyakan bicara seperti : “ayo makan dulu nak”, “ayo buka mulutnya”, “tinggal dikit lagi nih makanannya (padahal masihbanyak)”, “kalo ga makan makanannya dikasih kucing ya”, “sini makannya dihabiskan dulu”. Ga perlu kata-kata itu. Kalo anak sudah senang dan lapar tentunya dia pasti mau makan. Lebih baik ikuti kemana anak pergi. Sambil bercerita tentang sekitar atau apa aja. Sambil suapi dengan telaten.
4. Biarkan anak makan sendiri. Memang berantakan. Tapi anak sedang eksplorasi, belajar menyuap sendiri. Biarkan anak yang control rasa lapar dan kenyangnya. Kalo anak sudah tidak mau makan jangan paksa disuruh habiskan.
5. Sediakan cemilan sehat disekitar anak yang bisa langsung dicomot kalo dia merasa laper tapi sedang asik main.
6. Batasi waktu makan hanya ½ jam. Jangan sampai kelamaan.
7. Sekian dulu tips dari saya.. to be continued kalo ada ide lagi…

Ditulis dan dipraktekkan oleh lutvita

Wednesday, July 1, 2009

Pedoman Toilet Training Untuk Orang Tua

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet. The American Academy of Pediatrics telah mengembangkan brosur ini untuk membantu anak anda melewati tahap penting perkembangan sosial.

Kapan anak siap untuk toilet training?
Tidak ada patokan usia kapan TT harus dimulai. Saat yang tepat tergantung dari perkembangan fisik dan mental anak. anak berusia di bawah 12 bulan tidak mempunyai kontrol terhadap kandung kemih dan BAB, 6 bulan sesudahnya ada sedikit kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa anak sudah menunjukkan kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap sampai usia 30 bulan atau lebih.

Anak anda seharusnya juga sudah siap secara emosional. Harus ada kemauan sendiri, tidak melawan atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Jika anak bertahan kuat, sebaiknya ditunggu beberapa saat.

Mengajarkan TT sebaiknya santai dan hindari kemarahan. Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol kapan dan dimana anak ingin BAK atau BAB kecuali anak itu sendiri. Hindari pemaksaan yang berlebihan. Anak pada usia TT mulai timbul kesadaran terhadap diri sendiri. Mereka mencari cara untuk menguji keterbatasan mereka. Beberapa anak melakukannya dengan cara nenahan keinginan BAB-nya.

Perhatikan tanda-tanda berikut ini untuk menilai kesiapan anda:
 Anak anda tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau setelah tidur siang.
 BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi
 Ekspresi wajah, postur menjadi tubuh dan kata-kata yang menunjukkan keinginan BAB atau BAK.
Keadaan stress di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadang-kadang sangat bijaksana untuk menunda TT dalam situasi berikut ini:
 Keluarga anda baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu dekat.
 Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan seorang bayi.
 Ada penyakit berat, kematian atau seseorang dalam keluarga sedang mengalami krisis.
Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan dalam TT, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.
 Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana
 Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta membantu melepas pakaian.
 Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang koor dan ingin diganti.
 Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot.
 Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak yang lebih besar.

Bagaimana mengajar anak anda menggunakan toilet ?
Anda seharusnya memutuskan dengan hati-hati kata-kata apa yang akan digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian tubuh, urine dan BAB. Ingatlah bahwa kata-kata tersebut akan didengar juga oleh teman, tetangga, guru, dan orang-orang lain. Sebaiknya gunakan kata-kata yang sudah umum digunakan supaya tidak membingungkan atau mempermalukan anak anda.

Hindari penggunaan kata-kata “kotor”, “nakal” atau jorok untuk menggambarkan urine atau feses. Istilah negatif ini akan membuat anak anda merasa malu dan bingung. Ajarkan BAB dan BAK dengan cara sederhana. Anak anda mungkin ingin tahu dan mencoba untuk bermain dengan fesesnya. Anda dapat mencegah hal ini tanpa membuat anak anda sedih, katakan bahwa feses bukan sesuatu untuk dimainkan.

Ketika anak anda sudah siap, anda sebaiknya memilih pot (potty chair) untuk BAK atau BAB. Pot lebih mudah digunakan untuk anak kecil, karena pendek sehingga anak tidak sulit untuk duduk diatasnya dan kaki anak dapat mencapai lantai.

Anak-anak sering tertarik dengan aktifitas dalam kamar mandi keluarga. Kadang-kadang biarkan mereka memperhatikan orang tuanya saat pergi ke kamar mandi. Dengan melihat orang dewasa menggunakan toilet akan membuat mereka mempunyai keinginan yang sama. Jika memungkinkan ibu sebaiknya memperlihatkan cara yang benar kepada anak perempuannya, sedangkan ayah kepada anak laki-lakinya. Anak-anak dapat juga mempelajari cara ini dari kakak atau teman-temannya.

Ajarkan anak anda untuk memberitahukan bila dia ingin BAB atau BAK, Anak anda sering memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda lain kali harus memberi tahu anda sebelumnya.

Sebelum BAB anak anda mungkin merintih, atau mengeluarkan suara-suara aneh, jongkok, atau berhenti beberapa saat. saat mengedan wajahnya akan menjadi merah. Jelaskan pada anak tanda-tanda tersebut adalah petunjuk saatnya menggunakan toilet.

Kadang-kadang lebih lama mengenal keinginan untuk BAK daripada keinginan untuk BAB. Beberapa anak belum dapat mengontrol keinginan BAK selama beberapa bulan setelah mereka dapat mengontrol BAB. Beberapa anak mampu mengontrol BAK terlebih dahulu. Sebagian besar anak laki-laki belajar BAK dengan cara duduk terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara berdiri. Ingatlah bahwa semua anak berbeda.

Ketika anak anda tampak ingin BAK atau BAB, pergilah ke pot. Biarkan anak anda duduk di pot beberapa menit, Jelaskan bahwa anda ingin anak anda BAB atau BAK di situ. Bergembiralah, jangan memperlihatkan ketegangan. Jika anak anda protes dengan keras, jangan memaksa. Mungkin anak anda belum saatnya untuk memulai TT.

Sebaiknya anak dilatih menggunakan pot secara rutin, misalnya menjadi kegiatan pertama di pagi hari ketika anak anda bangun, setelah makan, atau sebelum tidur siang. Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengontrol kapan anak anda BAB atau BAK.

Keberhasilan TT tergantung pada cara pengajaran bertahap yang sesuai dengan anak anda. Anda harus mendukung usaha anak anda. Jangan menginginkan hasil yang terlalu cepat. Berikan anak anda pelukan dan pujian jika mereka berhasil. Bila terjadi kesalahan jangan mamarahi atau membuat mereka sedih. Hukuman akan membuat mereka merasa bersalah dan membuat TT menjadi lebih lama.

Ajarkan anak anda kebiasaan menjaga kebersihan. Tunjukkan cara cebok yang benar. Anak perempuan seharusnya membersihkan dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman dari rektum ke vagina atau kandung kemih. Pastikan anak laki-laki maupun perempuan mencuci tangan mereka setelah BAB atau BAK.

Beberapa anak percaya bahwa urine atau feses adalah bagian dari tubuh mereka, melihat fesesnya disiram mungkin menakutkan dan sulit untuk dimengerti. Beberapa anak takut mereka akan tersedot ke dalam toilet bila disiram saat mereka masih duduk di atasnya. Orang tua harus mengajarkan mereka keinginan untuk mengontrol, biarkan mereka mencoba menyiram tissue ke dalam toilet. Hal tersebut akan menghilangkan ketakutan mereka terhadap suara berisik air dan mereka dapat melihat benda yang menghilang, masuk ke dalam toilet.

Ketika anak anda mulai sering berhasil, tingkatkan dengan penggunaan celan latihan (training pants). Kejadian tersebut menjadi sangat istimewa. Anak anda akan merasa bangga telah mendapat kepercayaan dan merasa tumbuh. Bagaimana pun juga bersiaplah terhadap terjadinya “kecelakaan”. Akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum TT selesai. Sebaiknya tetap melanjutkan latihan duduk di pot di siang hari. Jika anak anda dapat menggunakan pot dengan sukses, ini merupakan kesempatan untuk memuji. Bila tidak ini masih merupakan latihan yang baik.

Pada awalnya, banyak anak akan BAB atau BAK segera setelah diangkat dari toilet. Perlu waktu untuk anak anda belajar relaksasi otot-ototnya untuk mengontrol BAB atau BAK. Bila sering terjadi “kecelakaan” seperti ini, berarti anak anda belum siap untuk TT.
Kadang-kadang anak anda akan meminta popok saat merasa akan BAB dan berdiri di satu tempat tertentu untuk defekasi. Ajak anak anda mengenali tanda-tanda keinginan BAB. Anjurkan kemampuannya dengan duduk di atas pot tanpa popok.

Pola defekasi bervariasi. Beberapa anak 2-3 kali per hari. Anak lain 2-3 hari sekali. Feses yang lunak membuat TT lebih mudah untuk anak dan orang tua. Terlalu memaksa anak dalam TT dapat menimbulkan masalah BAB jangka panjang.

Bicarakan dengan dokter anak anda bila terjadi perubahan kebiasaan BAB atau bila anak anda menjadi tidak nyaman. Jangan gunakan laksatif, supositoria, atau enema, kecuali dianjurkan oleh dokter.

Sebagian besar anak dapat mengontrol BAB dan BAK di siang hari saat usia 3-4 tahun. Bahkan setelah anak anda tidak mengompol di siang hari masih perlu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tidak mengompol di malam hari. Sebagian besar anak perempuan dan lebih dari 75% anak laki-laki mampu tidak mengompol di malam hari setelah usia 5 tahun.
Anak anda akan menunjukkan kepada anada jika dia sudah siap pindah dari pot ke toilet sesungguhnya. Pastikan anak anda cukup tinggi, dan latihlah tahap demi tahap bersama mereka.

Dokter anak anda dapat membantu.
Bila timbul masalah sebelum, saat, atau setelah TT, bicarakanlah dengan dokter anak anda. Kadang-kadang masalahnya tidak terlalu berat dan dapat diatasi segera, tetapi kadang-kadang timbul masalah fisik dan emosional yang memerlukan terapi. Bantuan, nasihat, dan dukungan dokter anak dapat membuat TT lebih mudah. Dokter anak anda juga dilatih untuk mengidentifikasi dan menangani masalah-masalah yang lebih serius.

sumber: dari sini

Toilet Training Sejak Dini

Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orangtua ketika anaknya buang air kecil atau buang besar di lantai yang sudah bersih. Atau pipis di kasur yang kain penutupnya bare diganti dengan yang bersih dan wangi. Akibatnya, cucian bekas ompol menumpuk yang seakan-akan menghantui Anda, karena tumpukan itu tidak pemah berkurang. Kalau bukan karena sayang anak dan sadar risiko menjadi orangtua ingin marah-marah terus rasanya.

USIA 3 TAHUN MASIH WAJAR
Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun. Anak di bawah usia 2 tahun mengompol karna belum sempumanya kontrol kandung kemih atau toilet trainingnya.

Ada beberapa penelitian dan literatur yang menyebutkan kira-kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur enam tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun. Tapi, bukan berarti anak tidak diajarkan bagaimana cara benar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang benar dan di tempat yang tepat bukan? Karena kita juga harus memperhitungkan masa sekolah anak, di mana biasanya ketika sudah bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis sembarangan.

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Dengan toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. Selain itu, toilet training juga mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiridan memakai kembali celananya, demikian menurut Siti Mufattahah, S.Psi; Psikolog dan staf pengajar dari Jurusan Psikologi Universitas Gunadarma, Depok.

BISA DIMULAI SEJAK USIA 2 BULAN
Memang untuk mengajarkan toilet training pada anak gampang-gampang susah. Namun demikian sebagai orangtua tetap perlu mengajarkan pada anaknya. Untuk mengajarkan toilet training pada anak bisa dimulai sejak usia 1 sampai 3 tahun. Pada saat usia tersebut, si anak harus mampu melakukan toilet training. Jika si anak tidak mampu melakukan toilet training sendiri boleh jadi anak pernah mengalami hambatan.

Cara orangtua mendidik anaknya agar terbiasa untuk dapat pipis atau BAB sesuai waktunya, stimulasinya bisa dimulai sejak usia 2 bulan. Caranya, orangtua bisa memeriksa popoknya atau mengganti popoknya setelah basah. Karena orangtua sebagai orang yang terdekat dengan anaknya mengetahui kapan waktu anaknya BAK atau pun BAB.

Apabila anak sejak usia 2 bulan tidak mampu diajarkan toilet training, tidak ada salahnya anak diajarkan saat usia 1 tahun. Perlu diingat anak pada usia 1 tahun mengalami fase anal. Pada fase ini anak mencapai kepuasan melalui bagian anus. Fase kepuasan ini berhubungan dengan kebersihan dan jadwal kedisiplinan.

Jadi, seorang anak minimal sudah diajarkan sejak usia 1 tahun. Bila anak diajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah perilaku anak. Selain itu, bila anak sudah lebih dari 3 tahun belum mampu untuk toilet training, boleh jadi ia mengalami kemunduran. Karena pada saat usia 1 sampai 3 tahun ia belum mampu melakukan buang air sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Akibatnya, anak bisa menjadi bahan cemoohan teman-temannya.

Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK atau BAB sesuai waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar. Tetapi pada usia tiga tahun masih dianggap wajar bila BAK atau BAB di celananya. Namun begitu, bukan berarti orangtua membiarkan saja. Berilah pengertian pada anak bahwa cara yang dilakukan tidaklah tepat.

Masalah kemandirian anak BAK dan BAB boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak wanita dan laki-laki. Biasanya anak wanita lebih penurut, maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk toilet training dibanding anak laki-laki. Namun demikian untuk mengajarkan toilet training pada laki-laki pun harus bisa.

TANDA SI KECIL SIAP
Beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:
1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, atau bila ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun, -
2. Waktu buang airnya sudah bisa diperkirakan,
3. Sudah bisa memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
4. Tertarik dengan kebiasaan masuk k€e dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
5. Minta untuk diajari menggunakan toilet.

TAHAPAN TOILET TRAINING
Mengajarkan toilet training memerlukan beberapa tahapan:
- Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air.
Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC. Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. saat si kecil sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Nah, agar si kecil tidak takut di toilet, Anda dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya.
- Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Anda juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.
Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang anda inginkan
Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari. (Pambudi)

sumber: dari sini